Banner IDwebhost
Jalan Pinggir

Melangkah Berat, Usai Lepas dari Jalur Sesat

Banner IDwebhost

Kanigoro.com Melihat penampilan Mashudin (49 tahun) sekarang, mungkin tak ada yang mengira, lelaki yang sudah punya lima anak dan dua cucu ini pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Masa-masa yang sempat membuatnya hidup seperti kehilangan arah tujuan.

Peristiwanya bermula saat Mashudin baru punya anak satu orang. Sekitar tahun 1993, Mashudin memiliki usaha warteg di Cibinong. Sementara istri dan anaknya masih tinggal di kampungnya, Tegal, Jawa Tengah.

Sebagai orang kampung yang biasa mengaji, tentu saja Mashudin senang ketika ada yang mengajaknya ikut mengaji dengan orang-orang yang bekerja di pabrik. Kebetulan tinggalnya bersebelahan.

“Awalnya berkenalan dengan sopan santun dan ramah tamah. Lalu mengenalkan mengenai Islam dan menjelaskan dengan Al Quran yang ada terjemahannya. Saya tertarik,” kata Mashudin mengawali ceritanya.

Baca juga: Berhijrah untuk Merdeka

Seiring berjalannya waktu, Fulan, sebut saja begitu, mulai mengajak saya untuk lebih aktif.

“Ini kondisi negara sudah tidak baik dan tidak benar karena tidak berlandaskan Al Quran,” kata Fulan.

Saat itulah ketertarikan Mashudin pada materi-materi yang disampaikan dalam setiap pengajian mingguan diminta untuk membuktikan.

“Saya diajak untuk berhijrah. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dalam arti lain, berpindah dari akhlak yang tidak baik menjadi akhlak yang baik. Saya tertarik,” cerita Mashudin.

Untuk meyakinkan dalam mengajak berhijrah digunakan Al Quran surat At Taubah ayat 24 yang artinya, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak. saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Bersama beberapa orang yang sudah siap berhijrah, mereka dibawa ke suatu tempat dengan mata tertutup, sehingga tidak tahu di mana lokasinya.

Baca juga: Muharram = Hijrah dari Lahir ke Batin

“Perkiraan saya di daerah Pondok Gede. Saat itu selain usaha warteg saya nyupir taksi juga, jadi beberapa daerah tertentu saya hafal,” kenang Mashudin.

Di situ Mashudin bersama kelompoknya yang berjumlah sekitar 40 orang mendapat berbagai pengarahan.

“Antara lain tentang sejarah, dari Proklamasi Kemerdekaan RI sampai Proklamasi Kemerdekaan Negara Islam Indonesia (NII) yang katanya 7 Agustus 1948,” lanjutnya.

Begitulah awalnya Mashudin bergabung dengan kelompok yang ternyata berafiliasi dengan Negara Islam Indonesia (NII).

Setelah mengikuti pengarahan tersebut, Mashudin kemudian aktif merekrut orang untuk mengikuti tazkiyah, yaitu pembinaan bagi anggota-anggota pemula.

Baca juga: Tazkiyah An-Nafs

Bulan kedua setelah Mashudin hijrah (mengikuti pengarahan), istrinya datang dari kampung dan ikut menetap di Cibinong. Karena Mashudin bisa merekrut banyak anggota, dianggap berprestasi maka suatu saat dipanggil oleh Mudabbir Musa (kepemimpinan setingkat desa dalam NII) hendak diangkat menjadi Rokib (pendamping).

Ketika Mashudin mengemukakan keberatannya untuk menjadi Rokib maka Mudabbir Musa yang bernama Imron mengingatkannya dengan ayat Al Quran. Yaitu surat Al-Ahzab ayat 72 yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Selain membacakan ayat tersebut, Imron juga mengingatkan kepada Mashudin, “Kalau kamu tidak mau dilantik, jadi aparat, jadi tentara Allah, jadi mujahid, kamu termasuk yang zalim, levelnya masuk neraka.”

Mashudin akhirnya mau dilantik, dengan memberikan sedekah tentunya. Setiap ada kegiatan apa saja harus memberikan sedekah. Besarnya juga ditarget persis sales yang menawarkan paket bisnis. Kalau banyak akan semakin mudah masuk surga.

Baca juga: Sedekah Yang Menyakitkan

“Saya yakin karena ayat yang dibacakan ke saya,” kata Mashudin mengakui.

Mulai di sini sebenarnya orang tua sudah menilai keanehan dalam diri Mashudin. Hanya cara bergaulnya yang luwes, tetap menjaga komunikasi, meski sering berbohong, orang tua tidak khawatir.

“Ini perjuangan yang sangat silent, sangat rahasia, tidak boleh semua orang tahu,” dalih Mashudin kepada orang tua tentang aktivitasnya.

Seiring meningkatnya posisi dan peran sebagai aparat, kesibukan Mashudin bertambah. Setiap hari ditarget untuk mendatangkan jamaah dan mengumpulkan infak. Akibatnya jadi kurang fokus dengan usaha warteg yang dijalakan.

Ketika anak kedua lahir, Mashudin beserta keluarga tinggal di Maja. Rumah kos yang dibiayai infak jamaah, karena usaha warteg akhirnya bangkrut.

“Istri saya mau diajak ikut hijrah karena mengikuti suami. Kalau pulang kampung, saya juga mengajak orang tua dan saudara untuk ikut hijrah. Yang tidak mau saya anggap kafir. Hartanya boleh saya ambil,” cerita Mashudin.

Sehingga pernah juga suatu saat dengan alasan meminjam, Mashudin membawa motor mertuanya terus dijual ke orang yang masih keluarganya juga.

Hal serupa terjadi juga di kalangan anggota lainnya, ada yang sampai kemudian mencuri.

Baca juga: Warga Jember ini diadili karena Mencuri 100 Buah Durian

“Ada anggota yang saya suruh mencuri kabel di perusahaannya. Hal ini sepengetahuan atasan juga dan dibolehkan,” terang Mashudin.

Puncaknya Mashudin merencanakan untuk melakukan perampokan uang gaji perusahaan tempat bekerja salah seorang anggota.

“Atasan mengijinkan dan persiapan pun dilakukan. Diamati siapa yang bertugas mengambil gaji. Diatur pembagian tugasnya,” ungkap Mashudin.

Dari hasil pengamatan, menurut Mashudin yang mengambil gaji ternyata satpam dengan mengendarai sepeda motor. Tugas Mashudin menyerempet pengambil gaji agar jatuh, nanti ada orang lain yang akan mengambilnya.

Tiba saat yang ditentukan, Mashudin bersiap-siap menjalankan tugas. Menunggu pengambil gaji di tempat yang sudah direncanakan.

“Begitu melihat orang yang saya kira merupakan sasaran, saya langsung mendekati dan menyenggol motornya sampai jatuh terus melaju meninggalkannya, karena yakin sudah ada yang akan menindaklanjutinya,” kata Mashudin melanjutkan ceritanya.

Namun ditunggu-tunggu kabar dari teman-temannya sesuai tugas yang ditentukan tak kunjung datang. Beberapa saat kemudian ada kabar, Mashudin salah mengenali sasaran. Yang dijatuhkan dari motor ternyata bukan sasaran perampokan yang dituju, sehingga gagallah perampokan yang direncanakan.

Baca juga: Freelance Monotheist

“Sepekan kemudian karena dicurigai, anggota saya yang bekerja di perusahaan itu dipecat dan pulang kampung,” sesal Mashudin.

Tahun 1997 keadaan makin sulit, kondisi para anggota semakin memprihatinkan, namun tak ada kepedulian dari pimpinan.

Di tingkat aparat juga mulai ada keluhan. Terlebih setelah ada salah satu aparat di daerah Citeureup, seorang pengusaha material yang meninggal. Sebelumnya sakit, bolak-balik ke rumah sakit, tapi tak ada kepedulian dari pimpinan.

Sebelum meninggal, pengusaha itu berpesan, bahwa yang dipraktekkan tidak sesuai dengan ajaran Islam lagi dan bukan NII.

“NII yang benar tidak seperti ini,” kata Mashudin menirukan pesan pengusaha itu.

Mashudin yang pernah ikut rapat tingkat pimpinan juga heran dengan perbedaan kondisi yang sangat menyolok antara pimpinan da anggota.

Baca juga: Menaker Prihatin Ada Konflik Petani dengan Korporasi di Deli Serdang

“Anggota disuruh prihatin, tapi kalau rapat-rapat pimpinan hidangannya lengkap dan mewah,” cerita Mashudin.

Mashudin pernah mengalami akibat target infak tak terpenuhi, anggotanya dalam rapat ditanya hanya menunduk-nunduk. Diingatkan kesiapannya untuk menerima hukuman.

“Tulisan-tulisan dalam rapat, notulen-notulen rapat disuruh makan, tidak pakai air lagi,” kenang Mashudin.

Sejumlah peristiwa yang dialami tersebut membuat Mashudin berpikir kembali. Benarkah apa yang disebut sebagai perjuangan yang tengah dilakukannya? Setelah menimbang-nimbang akhirnya Mashudin mulai tidak aktif mendatangi pertemuan.

“Tidak mengatakan mundur, tidak aktif saja. Tapi kemudian dipanggil pimpinan diajak untuk tetap aktif,” kata Mashudin.

Beberapa anggota yang sudah merasa tidak kuat masih sering kumpul. Tragisnya menurut Mashudin ada yang kemudian bunuh diri.

“Sebulan dua bulan hidup terasa hambar, bingung, harus mulai dari nol lagi, adaptasi lagi dengan lingkungan,” ungkapnya.

Akhirnya Mashudin kembali mendekati keluarga dan kembali menjadi sopir taksi untuk bertahan hidup. Beruntung keluarganya bisa menerima dengan baik.

Baca juga: Trik dan Tips Lolos Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS

Suatu saat penumpang yang dibawanya terkesan dengan cara mengemudinya. Penumpang itu adalah Abdullah Puteh, yang kemudian meminta Mashudin menjadi sopir pribadinya.

Akhir tahun 2000, Abdullah Puteh terpilih menjadi Gubenur Aceh, Mashudin pun menjadi sopir Gubernur Aceh kalau bertugas di Jakarta, dan kemudian diangkat menjadi PNS Pemda Aceh. Masa-masa sulit terperosok di jalur sesat akhirnya lewat. (AMz)