Banner IDwebhost
FeaturedJalan Pinggir

Let’s Do The Best and God Do The Rest

Banner IDwebhost

Oleh : Delianur

Ketika membicarakan Tuhan, secara umum orang selalu memilahnya pada dua hal yang berbeda. Pertama, adalah keberadaan Tuhan sebagai sesuatu yang bisa diserap panca indra dan dimaknai rasio. Kedua, Tuhan sebagai sesuatu yang dikonstruksi atau diimajinasikan akal.

Ketika membicarakan hal pertama, kebanyakan orang berpendapat bahwa Tuhan adalah realitas tertinggi yang tidak bisa diserap panca indra dan dimaknai akal.

Immanuel Kant misalnya. Pemikir Jerman ini menyarankan bahwa pembicaraan tentang keberadaan Tuhan adalah pembicaraan yang mesti dihentikan. Orang hanya akan membuang-buang waktu untuk membicarakan keberadaan Tuhan. Karena Tuhan adalah realitas tertinggi. Keberadaan Tuhan itu bukan masalah rasio atau panca indra, tapi masalah kepercayaan. Jadi cukup dipercayai bahwa Tuhan itu ada.

Perihal keberadaan Tuhan ini, Agamawan sendiri kerap mengintrodusir peristiwa Nabi Musa di bukit Thursina. Ketika itu Bani Israil meminta Nabi Musa untuk dipertemukan dengan Tuhan. Supaya keimanan bertambah tebal. Nabi Musa pun menyampaikan permintaan umatnya dan Tuhan memerintahkan Nabi Musa menemuiNya di bukit Thursina.

Baca juga : Kritik Nietzsche tentang Kebutuhan untuk Percaya dan Menghendaki Ketidakbenaran

Namun ketika sampai di bukit itu, Nabi Musa bukan hanya tidak bisa melihat Tuhan, tapi bukit nya pun terbakar karena disambar petir. Melalui peristiwa ini Tuhan ingin mengingatkan Musa dan kaumnya tentang wujud Tuhan. Bahwa bukit Thursina pun tidak sanggup menerima keberadaan Tuhan sampai harus terbakar.


Sementara dalam Agama Islam sendiri terdapat ajaran yang mengingatkan manusia untuk tidak menghabiskan waktu untuk memikirkan wujud atau dzat Tuhan. Manusia lebih baik memikirkan makhluk ciptaan Allah bukan Dzat Allah nya. Karena akal manusia tidak akan mampu mencapainya.

Namun keberadaan Tuhan sebagaimana adanya, berbeda dengan membicarakan Tuhan yang diimajinasikan manusia. Bila yang pertama adalah pembicaraan keberadaan Tuhan objektif yang bisa dilihat dan diraba, maka Tuhan secara subjektif adalah Tuhan yang dimaknai dan dikonstruksikan dalam pikiran manusia. Bagi masyarakat agraris, Tuhan adalah sesuatu yang ada di langit. Karena dari langit telah turun hujan yang membuat tanaman di bumi tumbuh subur. Karenanya masyarakat agraris kerap menengadah ke langit ketika membicarakan Tuhan.

Baca juga : Sebuah Visi Menjadi Übermensch

Bagi kalangan muslim sendiri, imajinasi tentang Tuhan dalam lingkup yang sangat sederhana terungkap dari kalimat yang sering diucapkan setiap hari, yaitu “Bismillahirrahmanirrahim” Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahwa Tuhan adalah Pengasih dan Penyayang.

Dalam lingkup yang lebih luas, imaji tentang Tuhan terungkap dalam Asmaul Husna. Sifat-sifat Tuhan yang bagi orang Islam kerap dipisah dalam dua kategori, yaitu Tuhan yang Jamal dan Tuhan yang Jalal. Jamal adalah Tuhan yang mencintai keindahan, pengasih sehingga Hamba-Nya pun sangat merindukan dan ingin menjadi kekasihnya. Sikap seperti inilah yang kemudian ditunjukan oleh para sufi. Sedangkan Jalal adalah dimensi keagungan Tuhan yang menimbulkan rasa penghormatan, kekaguman dan kepatuhan bagi hamba-Nya. Tuhan seperti inilah yang menurut banyak kalangan ada dalam imaji para Fuqaha, ahli fiqih.

Namun ketika berbicara Tuhan dan manusia, adalah hal menarik bila coba menyinggung nama Friedrich Wilhelm Nietzsche. Orang Jerman yang bukan hanya mendeklarasikan dirinya sebagai atheis pada umur 23 tahun, tetapi juga dikenal sebagai “Pembunuh Tuhan” melalui ungkapan nya yang kerap dikutip orang bahwa Tuhan telah mati.

Untuk memahami maksud ucapan Nietzsche yang menyatakan bahwa Tuhan sudah mati, maka ada baiknya kita mencerap beberapa pemikiran Nietzsche lainnya. Utamanya beberapa idenya tentang mentalitas tuan dan mentalitas budak, transvaluasi nilai (pembalikan nilai), serta “Will To Power” hasrat berkuasa sebagai kebutuhan primordial manusia. Menurut Nietszche, di masyarakat itu pada dasarnya ada dua mentalitas yang hidup, yaitu mentalitas tuan (Herdenmoral) dan mentalitas budak (Herrenmoral).

Mentalitas tuan adalah mentalitas orang-orang progressif. Selalu mengusahakan kemenangan dalam hidup mereka. Mereka adalah orang-orang kuat, jenius, independen dan unggul. Tindakan mereka otentik, selalu berasal dari dorongan diri sendiri. Bukan karena dorongan luar, seperti perintah Tuhan atau lingkungan. Meski kerap tidak mengindahkan moral atau norma yang berlaku, namun itu bukan masalah. Karena bagi Nietzsche, norma dan moral itu pada dasarnya ciptaan masyarakat saja. Seiring waktu, akan berubah.

Lawannya adalah mentalitas budak. Orang-orang yang landasan perbuatannya tidak berasal dari diri mereka sendiri. Landasan perbuatan mereka selalu berasal dari perintah dari luar dirinya. Apakah itu dari tuan nya, Tuhan, atau lingkungan. Dilakukan untuk meraih simpati dan apresiasi. Mereka selalu mengeluk-elukan sikap rendah hati juga kelemah lembutan. Bagi Nietszche, mentalitas budak adalah mentalitas pengecut. Karena perilakunya tidak otentik. Bukan berasal dari dirinya sendiri.

Baca juga : Ketika Filsafat Mengancam Elektabilitas, Haruskah Filosof Dikriminalisasi?

Budak selalu ingin mengalahkan tuannya. Tapi karena takut dan tidak berdaya, mereka mengalahkan tuannya di alam fiktif. Maka lahirlah penilaian bahwa orang bermentalitas tuan sebagai orang jahat, berbahaya dan arogan. Peristiwa inilah yang disebut sebagai proses Transvaluasi Nilai. Orang bermentalitas budak, menjungkirbalikan nilai karena sentimen kebencian yang mereka pendam. Transvaluasi nilai adalah dendam imajiner budak kepada tuannya. Sebab sesudah peristiwa tersebut semua yang rendah, lemah, kalah, atau menderita disebut baik. Sebaliknya yang berdaulat, menang, agung malah disebut jelek.

Dalam kehidupan sehari-hari, transvaluasi nilai terlihat ketika orang yang kalah kerap berkata, bahwa mereka bukan kalah tapi mengalah. Atau berkata bahwa meski mereka kalah, tapi mereka diridhoi Tuhan. Meski tidak jelas patokan diridhoinya seperti apa. Biar kita kalah di dunia, tapi menang di akhirat. Padahal belum jelas akan seperti apakah kehidupan kita di akhirat nanti.

Praktek moralitas budak ini terus berlanjut dan terjaga karena ada fiksi-fiksi yang diciptakan norma sosial juga Agama. Dengan menyatakan adanya kerendah hatian, perkenan Tuhan, atau sudah membela keadilan, telah menjadikan mereka pemenang, mereka terus melestarikan mentalitas seperti itu. Akhirnya manusia pun tidak bisa hasrat kemanusiaan sejatinya untuk berkuasa “Will to Power”

“Will To Power” sendiri adalah dorongan otentik dari diri manusia. “Will To Power” adalah hasrat dasar manusia untuk menjadi orang yang paling menonjol dibanding orang lain dan kemudian menguasai segalanya. Di keluarga, orang selalu ingin menjadi pusat perhatian sehingg bisa mengusai yang lain. Di sekolah, orang selalu berusaha mencapai yang terbaik sehingga keilmuannya diakui dan pada akhirnya berkuasa dan bisa menentukan banyak hal. Sementara dalam politik, orang selalu ingin berada di posisi paling atas supaya berkuasa.

Dorongan-dorongan ini menurut Nietszche adalah sesuatu yang sangat natural dan alamiah. Kebutuhan primordial manusia. Sayangnya dorongan seperti ini disingkirkan Agama dan moralitas massa. Dianggap jelek dan jahat.

Karena Agama dan moralitas massa sudah melestarikan mentalitas budak dan menghilangkan “Will To Power” sebagai sebuah kebutuhan primordial manusia, Nietszche bukan hanya tidak mempercayai sistem sosial politik seperti demokrasi, sosialisme dan komunisme tapi juga Tuhan. Karena Tuhan yang ada dalam imajinasi manusia, sudah membuat manusia mundur. Banyak manusia menjadi pengecut menghadapi hidup kemudian dia berlindung dibalik nama Tuhan. Karena itulah Nietszche membunuh Tuhan. Nietszche ingin menusia lepas dari bayangan tentang Tuhan yang justru membelenggu dirinya. Bayangan Tuhan yang tidak menjadikan manusia bergerak lebih maju.

Baca juga : Mungkinkah Tuhan Terbeli oleh Jokowi

Sebagaimana pemikiran radikal lainnya, pastinya pemikiran Nietszche ini memiliki banyak kelemahan. Seperti ketika menganggap Tuhan dan Agama dianggap penghambat eksistensi manusia, maka Nietzsche menganggap eksistensi tertinggi manusia terwujud ketika menghilangkan Tuhan dalam hidupnya.

Pendapat ini mendapat bantahan dari eksistensialis lainnya; Soren Kiekergard. Menurut Kiekergard, Agama itu sesuatu yang misterius dan manusia selalu membutuhkan sesuatu yang misterius. Agama telah membuat hidup manusia lebih berbahagia dan bermakna. Karena itu hidupnya menjadi dinamis. Agama sudah menyelematkan hidup banyak orang. Karena percaya terhadap Agama, manusia yang tertimpa bencana alam tetap bisa berbahagia. Meski secara objektif hidupnya terlihat sangat menderita. Karenanya menurut Kiekergard, eksistensi tertinggi manusia justru terjadi ketika dia menghadirkan Tuhan dalam dirinya. Bukan menghilangkan Tuhan sebagaimana disampaikan Nietszche.

Begitu juga dengan “Will To Power”. Betul bahwa manusia itu selalu berhasrat menjadi lebih dibanding lainnya. Tetapi bukan berarti lebih itu selalu diartikan berkuasa. Nietszche tidak memilah antara hasrat berkuasa, hasrat berprestasi, dan hasrat berafiliasi. Dalam politik, orang ingin menonjol dibanding lain mungkin untuk berkuasa. Namun di sekolah, orang rajin belajar untuk memenuhi hasratnya berprestasi. Sebagaimana orang ingin lebih di hadapan keluarganya, itu karena dia memiliki hasrat berafiliasi lebih kuat dibanding hasrat berkuasa.

Namun lepas dari kontroversi figur serta pemikiran Nietszche ini, hal menarik dari Nietszche adalah tudingannya tentang dendam imajiner. Para penganut Agama misalnya, ketika mereka kalah dalam sebuah kontestasi, banyak yang berkata tidak apa-apa kalah di hadapan manusia, tetapi menang di hadapan Allah. Atau ketika ingin meraih sesuatu, upaya untuk mencapainya minimal, tapi pengharapannya kepada Allah sangat maksimal. Menganjurkan semua dikembalikan kepada Allah sementara upayanya sendiri belum maksimal. Inilah yang kemudian disebut dengan kecengengan transendental.

Baca juga :Allah Melihat Usahamu, Bukan Hasilnya!

Hal tidak jauh berbeda dengan sekelompok orang yang selalu berlindung di balik norma sosial. Ketika mereka kalah dalam sebuah kontestasi, mereka mengatakan bahwa mereka tetap mulai. Karena sudah memperjuangkan kepentingan rakyat atau berjalan sesuai norma.

Mungkin karena kritikan Nietszche inilah banyak orang yang masih sangat mempercayai Tuhan tapi tidak ingin melakuan kecengengan transendental, mengatakan “Let’s Do The Best and Let’s God Do The Rest”. Tugas kita sebagai manusia adalah berusaha sekeras-kerasnya, seoptimal mungkin dan melakukan yang terbaik. Sisanya, biar Tuhan yang menentukan. (Fn)

Artikel Terkait

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker