Banner IDwebhost
ArtikelFeatured

Masyarakat Steril, Masyarakat Berisiko dan Perilaku Transformatif: Dimensi Sosiologis Wabah Covid-19

Banner IDwebhost

Oleh : Hasminto Yusuf, Founder & Owner The Insight Connection (I-CON)

Virus corona baru atau Covid-19 telah menyebar ke hampir setiap negara di dunia sejak pertama kali muncul di China pada 8 Desember 2019 dan mulai penyebaran akseleratifnya pada awal tahun 2020. Penyakit ini sudah mulai menyerang di Eropa, Amerika Serikat dan Asia Tenggara dan juga menimbulkan kekacauan di Afrika dan Amerika Selatan. Coronavirus (CoV) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS-CoV) dan sindrom pernapasan akut (SARS-CoV).

Penyebaran virus ini “amat mengkhawatirkan” dan mendesak semua negara menempuh langkah-langkah pembendungan sebagai “prioritas tertinggi”. Penyebaran secara eksponensial ini telah mengejutkan masyarakat internasional, dan terutama bagi para pembuat dan pengambil kebijakan kesehatan di seluruh dunia. Penyebaran Covid-19 secara global terus mengalami peningkatan, baik dari jumlah kasus maupun pasien yang sembuh. Misalnya di Indonesia, melalui Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto mengatakan bahwa terdapat penambahan 282 kasus baru hingga Selasa (14/4/2020) pagi. Sehingga, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia total ada 4.839 kasus. Meski ada penambahan jumlah pasien yang sembuh namun terdapat penambahan pasien yang meninggal dunia, sehingga jumlah korban meninggal dunia terdapat 426 pasien.

Kasus kematian yang meningkat dalam beberapa hari terakhir, menempatkan angka kematian akibat virus corona Indonesia sebesar 7,8 persen dan termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Dilansir dari Asia Times, para pakar kesehatan menduga bahwa jumlah korban hampir pasti lebih tinggi. Hal itu didasarkan pada tingkat morbiditas yang meningkat di antara orang usia lanjut yang menderita berbagai penyakit lain dan tidak diuji.

Banyak masalah sosial dan ekonomi terkait dengan wabah Corona. Bahkan syok Coronavirus lebih luas dan lebih kuat daripada sindrom pernafasan akut yang parah (SARS), flu burung, dan flu babi pada tahun-tahun sebelumnya. Wabah khusus Coronavirus ini mengungkapkan bagaimana masalah biologis dan epidemiologis dapat ditransformasikan menjadi subjek sosial, ekonomi dan politik.

Gambaran dunia kontemporer saat ini sebagai dunia di mana setiap orang, pemerintah, dan pihak swasta semakin memperhatikan sebuah pengalaman menghadapi risiko dalam berbagai aspek kehidupan kita, termasuk bidang kesehatan. Jika terjadi bencana global, dampak destruktifnya sangat besar dan meluas serta sulit mengendalikannya. Kita melihat kenyataan sosial ini dengan meningkatnya jumlah kematian di seluruh dunia dan dalam berbagai tindakan, peraturan, serta regulasi yang diberlakukan oleh berbagai negara.

Sekitar lebih dari 200 negara di dunia saat ini tengah berjuang melawan penyebaran pandemi virus corona. Dilansir dari data Worldometers hingga Selasa (14/4/2020) pagi, jumlah kasus positif virus corona telah menginfeksi hampir 2 juta orang. Lebih tepatnya 1.920.057 orang di dunia telah dinyatakan positif Covid-19. Sementara itu, sebanyak 443.732 orang yang sebelumnya positif virus corona, telah dinyatakan sembuh. Namun, 119.403 orang meninggal dunia lantaran terinfeksi Covid-19.

Jadi, bagaimana kita harus menghadapi fenomena coronavirus sebagai masalah publik dan risiko global?

Strategi yang paling umum dan paling penting dari negara-negara yang menghadapi virus ini adalah pendekatan kesehatan masyarakat. Meningkatkan kapasitas klinik dan rumah sakit serta karantina ketat pasien yang terinfeksi, kampanye untuk mencuci tangan hingga etika batuk di area publik. Ketika seruan mengenai penggunaan masker yang awalnya hanya ditujukan bagi orang yang positif terpapar Covid-19 (sebelum dianjurkan oleh WHO untuk penggunaanya bagi masyarakat umum), namun permintaan besar untuk membeli masker terjadi di seluruh dunia. Pembatasan social, karantina kota-kota besar dan isolasi mandiri, bahkan fenomena penolakan warga atas pemakaman jenazah pasien Covid-19 serta fenomena kekhawatiran masyarakat akan penyebaran virus corona karena terdapat salah satu anggota warga kampungnya yang dinyatakan positif terinfeksi virus membuat mereka mengisolasi mandiri di rumah masing-masing. Dalam peristiwa yang jarang terjadi, beberapa daerah menutup perbatasan mereka dan menghentikan lalu lintas batas kota transportasi mereka.

Salah satu konsekuensi terpenting dari fenomena wabah Coronavirus adalah terciptanya sebuah kecemasan sosial di seluruh dunia. Hal ini telah menimbulkan keprihatinan serius bagi warga di semua negara, bahkan di dalam masyarakat meskipun bagi mereka yang tanpa memiliki gejala Covid-19. Adanya perasaan kecewa dan kekhawatiran terutama di kalangan generasi muda, mengindikasikan bagaimana masyarakat kita rentan dalam menghadapi bahaya. Secara teoritis kategori masyarakat mental kerupuk ini yang dalam diskursus sosiologisnya disebut sebagai masyarakat berisiko.

Masyarakat berisiko ini telah bermetamorfosa ke dalam masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Sosiolog Jerman Ulrich Beck menkonstruksikannya dalam pemahaman struktur sosial sebagai cara sistematis untuk menangani bahaya dan rasa tidak aman yang diinduksi dan diperkenalkan oleh modernisasi itu sendiri. Dia mengaitkan hal ini dengan perubahan sosial yang disebutnya “modernisasi refleksif”, di mana efek samping yang tidak disengaja dan tak terduga dari kehidupan modern menjadi bumerang pada modernitas.

Menurut Beck, ada 3 (tiga) respons utama terhadap risiko, yaitu; Penolakan, Apatis, atau Transformasi. Dengan penolakan, dimana kita berperilaku seolah-olah risikonya tidak ada. Atau dengan bersikap apatis, seseorang dapat mengakui risiko namun tanpa meresponsnya. Sempat organisasi WHO memberikan peringatan keras karena beberapa negara tidak menunjukkan komitmen serius untuk mengontrol penyebaran virus tersebut di level politik. Mereka menganggap bahwa virus corona ini hanya turbulensi dari suatu fenomena alam yang bersifat sementara. Bahkan di Indonesia, pada awalnya isu corona ini tidak menaikkan rasa ingin tahu orang Indonesia tentang virus corona. Jadi, ketertarikan orang Indonesia terkait virus corona yang berhubungan dengan tema Indonesia lebih bersifat geografis.

Secara sosiologis, hal ini sering disebut dengan fenomena not in my backyard (nimby). Fenomena ini menunjukkan keenganan manusiawi untuk mengalami sebuah peristiwa di wilayahnya. Sebuah peristiwa, entah itu bencana alam, kerusakan lingkungan, atau wabah penyakit, mungkin terjadi dengan dahsyat di tempat lain, tetapi jangan sampai terjadi di daerahku. Karena sebuah peristiwa tragis terjadi dalam jarak geografis yang jauh, relasi yang terbentuk adalah relasi pengamat-peristiwa tragis.

Fenomena nimby menunjukkan relasi pengamat yang berjarak dengan sebuah peristiwa. Ketika jarak geografis semakin pendek, terjadi perubahan relasi menjadi relasi potensi pelaku/korban di hadapan sebuah peristiwa. Perubahan peran dari pengamat menjadi potensial pelaku/korban tersebut memunculkan kewaspadaan, bahkan tak jarang ketakutan.

Melihat kenyataan dan gentingnya situasi saat ini, menurut Beck tak satu pun dari keduanya dapat menyelamatkan kita. Karena itu kita harus memilih sikap yang ketiga, yaitu, tansformasi. Pada Maret 2020 masyarakat tiba-tiba dihadapkan pada perubahan dalam segala sisi. Dari kebijakan pemerintah yang berdampak pada pendidikan, pekerjaan, hingga ibadah agama dan pola sosial. Hal ini membawa perubahan perilaku; siap tidak siap harus rela untuk berubah. Perubahan ini yang membuat banyak orang shock dan kaget, ibarat tubuh yang jatuh dari sepeda motor, walau tidak mengalami luka namun menimbulkan trauma dan ketakutan.

Wabah Coronavirus menunjukkan bahwa masyarakat berisiko mengarah pada masyarakat yang rentan. Meskipun wanita hamil, anak-anak, orang tua, orang cacat, dan masyarakat yang berpenghasilan rendah menderita kerugian yang tidak proporsional akibat dampak dari epidemi dan bencana ini, namun dalam kasus epidemi Corona semua kelompok di masyarakat merasa bahwa mereka semua berisiko.

Dalam konteks masyarakat berisiko, upaya-upaya strategi harus dilakukan dengan mulai mempelajari persepsi risiko dan bentuk-bentuk komunikasi publik, yang sebagian besarnya bertujuan untuk “mengelola” diskursus dan opini publik mengenai dampak sosial, ekonomi dan kesehatan disamping turut membangun optimisme dan ketahanan mental serta berusaha mengurangi bahkan menghilangkan paranoia masyarakat tentang masalah kesehatan publik dan keamanan pribadi.

Peristiwa wabah Covid-19 dan konsekuensi kesehatan serta masalah sosial yang terkait merupakan salah satu peristiwa paling fenomenal dalam sejarah peradaban manusia di abad ke-21. Satu hal yang membuat wabah ini berbeda peristiwa wabah sebelumnya adalah rasa kerapuhan kehidupan biologis manusia di seluruh dunia dan tuntutan mereka akan masyarakat steril, aman dari bahaya apa pun. Impian “masyarakat steril” pada dasarnya dilahirkan atas kodrat manusia itu sendiri. Dalam konteks diskursus Islam, khususnya dalam maq√Ęshid syariah dikenal dengan istilah Hifz al-Nafs atau memelihara jiwa. Islam mengajarkan untuk memelihara dan menghormati keamanan dan keselamatan diri manusia, dan menjadi tetap dihormatinya kemuliaan, martabat manusia sebagai anugerah dari Alah SWT. Konsekuensi logisnya adalah “masyarakat steril”, dimana terjaminnya ketentraman dan kondisi masyarakat yang aman dari bahaya menuju keshalehan, santun dan beradab (masyarakat madani/civil society), (QS. Al-anam 6: 151), (al-Baqarah 2: 179).

Menghadapi penularan penyakit atau virus Covid-19 ini benteng pertahanan diri sudah tidak mungkin bersifat individu. Untuk itu negara hadir membuat kebijakan. Kebijakan yang ada sedang berusaha menghentikan penyebaran virus corona yang melanda masyarakat. Diharuskan semua individu melakukan perubahan yang sama. Sebab, jika satu orang melakukan kesalahan, maka berakibat buruk bagi sekelompok besar orang. Layaknya menghadapi musuh, gerakan rakyat harus kompak, kapan bertahan kapan menyerang.

Namun, lagi-lagi ego muncul bukan karena menghadapi virus ini, bukan karena musuh bersama, tapi menghadapi perubahan itu sendiri, menyikapi aturan dan anjuran. Bisa jadi dengan mengubah perilaku, mereka akan miskin karena banyak orang harus berdiam diri di rumah, jualannya jadi tidak ada yang beli. Bisa jadi, mereka enggan meliburkan karyawannya karena akan rugi besar. Atau jika kota tempat ia tinggal melakukan zero mobile, bisnisnya terganggu. Jadi motif ekonomi lebih menakutkan daripada ancaman kematian itu sendiri. Tapi lagi-lagi jika penolakan ini bertahan lama, maka akan menjadi patologi. Ketakutan akan paparan telah menghasilkan perilaku irasional pada sebagian masyarakat kita. Selain itu, hal ini juga telah menghasilkan beberapa kebijakan non scientific yang konyol oleh pembuat kebijakan di beberapa daerah Indonesia bahkan di sebagian Negara dunia. Kita dapat melihat bagaimana ketahanan kita sebenarnya rapuh dan bahkan telah mencapai tingkat terendah.

Maka dari itu sebagai masalah resistensi antimikroba (AMR), sesungguhnya sebagian besar krisis kesehatan ini terkait langsung dengan perilaku manusia terhadap pengelolaan lingkungan. Secara langsung atau tidak langsung, perilaku destruktif kitalah yang membuat Bumi ini kurang ramah lagi. Menurut para ahli, kerusakan lingkungan merupakan salah satu kontributor utama pada akselerasi pemutasian virus corona ini. Karena itu kita harus mulai melakukan dialog biologis dan sosial baru dengan lingkungan termasuk dunia virus. Bahkan dalam epidemi Corona saat ini terdapat temuan penelitian yang menunjukan bahwa pola konsumsi dan kondisi sosial masyarakat di blok-blok perumahan masyarakat kelas menengah perkotaan memiliki peran penting dalam mempromosikan mutasi virus.

Berbagai sektor masyarakat melakukan penyesuaian di tengah pandemi ini, demikian juga setiap keluarga masyarakat Indonesia. Kita membutuhkan pendekatan interdisipliner baru dengan kerjasama para sosiolog, filsuf, antropolog, ahli virology dan ahli epidemiologi serta pakar kesehatan masyarakat untuk merekonstruksi model rekayasa social dan kembali melakukan perubahan social dengan berperspektif pada lingkungan guna menumbuhkan pola dan prilaku kehidupan masyarakat steril dan tangguh dalam menghadapi krisis. Wabah ini mengingatkan kita bagaimana masyarakat saat ini rentan baik secara biologis maupun mental. Kita harus meningkatkan ketahanan bukan atas dasar biologis saja tetapi juga pada tingkat mental, sosial dan spiritual.

Memang, keselamatan orang-orang yang kita kasihi adalah masalah utama kita, yang tidak boleh dirusak. Dan meskipun coronavirus adalah fenomena risiko global, ini seharusnya tidak membuat kita berpikir bahwa upaya individu kita tidak signifikan. Sebaliknya, kita harus mulai dengan jenis pikiran yang menghubungkan keadaan pribadi kita dengan pengalaman publik. Pada akhirnya, satu-satunya cara untuk menghadapi ancaman saat ini adalah melalui tindakan kolektif dan transformatif. (Fn)

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker