Banner IDwebhost
ArtikelFeatured

The Theory of Everything: Biografi Stephen Hawking

Banner IDwebhost

Oleh Delianur

Manusia adalah makhluk yang tidak hidup di ruang kosong. Hidup manusia dikelilingi banyak hal yang membentuk isi kepala manusia. Pemahaman yang sudah ada di kepala, kerap disebut dengan pre-understanding, mempunyai pengaruh sangat kuat ketika orang mencoba memahami sebuah teks. Termasuk diantaranya memahami sebuah film. Namun harus ditambahkan bahwa selain adanya pre-understanding, dinamika sosial juga ikut membentuk cara manusia memahami sebuah teks
.
Karena manusia selalu mempunyai pra-anggapan ketika memahami sesuatu, maka manakala manusia berhadapan dengan sebuah teks atau objek, sesungguhnya manusia bukan akan menemukan pengetahuan atau makna baru, tapi berpindah dari makna yang satu ke makna yang lain. Dua makna yang berbeda itulah yang selalu didialogkan dalam diri manusia. Dalam khazanah pemikiran Islam, dikenal Imam Syafi’i yang mempunyai dua pendapat berbeda, yaitu pendapat terdahulu (qaulul qadim) dengan pendapatnya yang terbaru (qaulul jadid)

Pola pemahaman hermeneutik diatas adalah koreksi Gadamer terhadap pemikir hermeunetis ala Schleiermacher yang melihat manusia sebagai makhluk objektif dalam memahami sesuatu. Scheleiermacher tidak mengenal konsep pre-understanding. Kepala manusia dianggap kosong dan tidak memiliki pre-understanding ketika melihat sesuatu. Karena manusia tidak melibatkan pre-understanding, maka upaya manusia dalam memahami sesuatu, itu dimaksudkan untuk mengatasi kesalahpahaman. Bukan membangun kesepahaman bersama seperti diungkap Gadamer.

Terlepas dari kontroversi antar kedua pendapat diatas, mungkin pengalaman hermeneutis ala Gadamer diataslah yang kami alami ketika menonton kembali film The Theory of Everything. Sebuah film keluaran tahun 2014 yang menceritakan biografi salah satu ilmuwan mashur abad 21, Stephen Hawking.

Ketika tertarik menonton kembali film biografi Stephen Hawking ini, ada pesimisme dan kebingungan makna apa yang bisa dicerna dari film The Theory of Everthing yang menceritakan kehidupan fisikawan kelas dunia. Sebagai seorang yang bacaannya seputar ilmu sosial saja, pastinya akan sangat kesulitan untuk memahami sebuah film yang diisi istilah seperti black hole, big bang, the beginning of time, the history of time dan lain sebagainya. Butuh tambahan waktu panjang untuk memahami istilah-istilah diatas.

Tapi seperti kata Gadamer diatas, kepala manusia itu pada dasarnya tidak kosong. Ketika melihat sesuatu, manusia selalu melibatkan pra-anggapan yang pada dasarnya sudah terbentuk dalam dirinya. Mungkin kita tidak faham fisika, tapi bukan berarti tidak ada pemahaman sama sekali di kepala kita.

Sebagaimana diketahui, Hawking adalah fisikawan dari Universitas Cambridge yang juga anggota kehormatan Royal Society of Arts (FRSA). Ketika BBC melakukan jajak pendapat tahun 2002 untuk mengetahui 100 Greatest Britons, Hawking menempati urutan 25 dalam jajak pendapat tersebut.

Selain dikenal dengan teori-teori fisika serta buku nya “A Brief History of Time” Hawking dikenal sebagai pengidap Amyotrophic Lateral Scierosis (ALS) sejak tahun 1963 sampai meninggal di tahun 2018.

ALS adalah penyakit yang menyerang saraf motorik di otak dan tulang belakang. Saraf motorik sendiri adalah sel saraf yang berfungsi menghantarkan sinyal listrik saraf dan mengendalikan gerakan otot. Bila sel saraf ini rusak, maka akan berakibatkan fatal pada gerakan tubuh manusia. Tubuh manusia akan kehilangan kemampuan untuk menggerakan otot-otot nya. ALS inilah yang menyebabkan Hawking menghabiskan hidupnya diatas kursi roda yang tidak hanya membantunya untuk bergerak, tapi juga membantunya untuk berbicara. Karena otot-otot dalam tubuh Hawking sudah tidak bisa lagi digerakan.

Bila kita mengingat reputasi Hawking dan penyakit ALS yang diidapnya, maka menonton film Hawking seperti akan menonton keajaiban dan kejeniusan seorang Hawking. Bagaimana mungkin seorang yang sehari-harinya menghabiskan waktu di kursi roda, tidak bisa mengetik, tapi masih bisa menulis sebuah buku dan buku tersebut menjadi best seller dunia. Selama 237 pekan, buku Hawking masuk dalam buku Britania Raya terlaris. Sudah dicetak lebih dari 10 Juta eksemplar dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Namun bila kita memperlambat waktu ketika melihat film ini, maka The Theory of Everything tidak hanya menceritakan kejeniusan seorang Hawking, tapi tetapi juga keindahan dan keajaiban hidup.
Bayangkan saja orang yang sudah tidak berdaya secara fisik dan hanya mengandalkan otaknya, tapi masih bisa eksis dan berkontribusi terhadap perkembangan sains secara global. Orang yang otot-otot tubuhnya tidak bisa lagi digerakan sehingga tampilan fisiknya tidak lagi menarik, dia bukan hanya dicintai seorang perempuan tapi juga masih bisa mempunyai anak.

Hal menarik lainnya adalah sosok Hawking yang dikenal atheis karena sangat percaya terhadap sains. Dalam satu sisi kehidupannya, disebutkan bahwa sejak Hawking diserang ALS pada tahun 1963, dokter meramalkan bahwa Hawking hanya bisa hidup dua tahun lagi atau sampai tahun 1965. Namun entah bagaimana, Hawking bukan hanya bisa melewati itu, tapi hidup lebih lama dari prediksi. Hawking meninggal tahun 2018 dalam umur 76 tahun.

Bila Hawking pernah mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Atheis, maka bila kita melihat apa yang terjadi dan sudah diperbuat oleh Hawking, kita justru akan meyakini Tuhan itu memang betul-betul ada dan adil. Hawking yang atheis, seperti mengajarkan kita untuk percaya adanya Tuhan.

Artikel Terkait