Banner IDwebhost
Artikel

Bantalan Sosial Pekerja, Transfer Tunai dan Pandemi

Banner IDwebhost

Oleh: Dr. Chazali H. Situmorang, apt, M.Sc (Pemerhati Kebijakan Publik/Dosen FISIP UNAS)

Mungkin ini untuk pertama kali, pemerintah memberikan bantuan langsung ( Transfer Tunai ), kemasing-masing rekening bank pekerja yang bekerja di sektor formal, kecuali bagi ASN dn karyawan BUMN / BUMD. Jumlahnya cukup besar, sekitar 15,7 juta pekerja, termasuk sekitar 2 juta karyawan honorer pemerintah, yang berpenghasilan dbawah Rp. 5 juta. Dana yang digelontorkan Rp.37,7 triliun. Setiap pekerja akan mendapatkan Rp. 600 ribu / bulan, untuk 4 bulan, sampai Desember 2020, dalam 2 termin, setiap termin 2 bulan.

Direncanakan dalam bulan Agustus 2020 ini, masalah data peserta dan rekening bank masing-masing pekerja di Bank Pemerintah (Himbara), sudah selesai dikerjakan oleh BP Jamsostek. Badan ini ditugaskan pemerintah bertanggungjawab menyediakan data berdasarkan nama. dengan alamat , tempat bekerja, nomor rekening bank, setelah pengawasan HRD Perusahaan yang memiliki mereka.

Baca juga : OPSI: Subsidi Gaji Bagi Pekerja Harus Tepat Sasaran

Penunjukkan BP Jamsostek memang sangat strategis, disamping strategi untuk meningkatkan pengguna kerja yang pekerjanya sebagai peserta BP Jamsostek, juga untuk mengatasi kesulitan pemerintah (Kemenaker), untuk mendapatkan data pekerja formal. BP Jamsostek punya data itu, dan juga semakin bersemangat karena syarat mendapatkan Cash Transfer itu, harus menjadi peserta aktif. Dalam hal ini, pemerintah mewajibkan pemberi kerja, membayarakan iuran BP Jamsostek, sampai bulan Juni 2020.

Perjalanan wabah Covid-19 empat bulan mendatang ini, terasa semakin mengancam bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga pemerintah menerapkan strategi yang menurut istilah saya “ double tract strateg y”. Yaitu melakukan upaya upaya pelacakan, pengujian dan Pengobatan terhadap wabah Covid-19, dan masyarakat di dorong, dipaksa dan bahkan sudah pada tahap diancam denda untuk memakai masker, cuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak. Karena hasil penelusuran yang gencar dilakukan menemukan jumlah kasus terkonfirmasi positif hampir 129 ribu, dan mencapai 84 ribu yang sembuh (65%), sama dengan rata-rata dunia. Angka kematiannya mencapai 6000 orang (4,6%), lebih tinggi sekitar 1% dari rata-rata dunia.

Dalam strategi ini, juga termasuk upaya penanggulangan vaksin Sinovac dari China, yang pada awal September 2020, mulai uji klinis tahap III, terhadap 1.620 relawan di wilayah Bandung, yang dilaksanakan oleh Bio Farma. Jika berhasil, maka januari 2021 sudah dapat dilakukan vaksinasi, dan tahap awal disiapkan 40 juta unit vaksin.

Secara bersamaan, pemerintah berjibaku untuk mempertahankan situasi ekonomi tidak terus terlalu dalam mengalami pertumbuhan minusnya ekonomi di kuartal III dan IV. Berbagai langkah stimulus ekonomi yang diberikan, untuk meningkatkan daya beli masyarakat, dan mencegah peningkatan “kelumpuhan” kebutuhan dasar hidup masyarakat. Berbagai skema bansos dilakukan dengan jumlah dana trilun rupiah. Ada PKH dengan target sasaran mereka yang sangat miskin 10 juta keluarga penerima manfaat, dengan total dana Rp. 37,4 triliun. Ada skema Bantuan Pangan non tunai (sembako), untuk mereka yang kategori miskin dan terkena dampak dari kebijakan PSBB. Ada stimulus bantuan modal Rp. 2,4 juta untuk setiap usaha UMKM dengan target 12 juta pelaku usaha mikro, memberikan bantuan dana untuk pra kerja, BLT dengan menggunakan dana desa, bagi mereka yang terdampak Covid-19.

Baca juga : Menaker: Pemerintah Beri Subsidi Bagi Pekerja Peserta BPJamsostek

Kita lihat dari data BPS, kuartal II / 2020, pertumbuhan pertumbuhan PDB Indonesia minus 5,32%, dibandingkan dengan Vietnam ekonominya tetap tumbuh 0,4%, meskipun turun dibandingkan kuartal I, yang lebih parah Singapura, minus 12,6%. Singapura dampak ekonominya paling dalam, karena terbesar kegiatan ekonominya disektor jasa, yang sangat rentan dengan situasi global. Bayangkan Amerika Serikat saja, penurunan ekonominya minus 9,5%. Jelas Singapura bisnis, karena kuatnya ikatan Amerika Serikat dengan Singapura. Yang hebat Tiongkok bisa tumbuh 3,2%, sedangkan Korea Selatan anjlok di minus 2,9%, pada kuartal I, masih tumbuh plus 1,4%.

Bukan tidak mungkin, jika upaya-upaya stimulus ekonomi Indonesia tidak dilakukan dengan benar, tepat sasaran, tepat kebijakan, mengikuti jejak Singapura. Saatnya, Indpnesia, learning strategy, ekonomi Vietnam, dan pengendalian wabah Covid-19 yang juga luar biasa.

Dengan Double Track Strategy, pemerintah merujuk pada istilah ibarat mobil yang satu peran menancap gas, dan yang lainnya melawan rem. Presiden Jokowi harus mampu menyeimbangkannya. Jika rem pakem, mobil tidak jalan, dan jika gas persekutuan gaspol, jika di rem bisa jadi remnya blong, atau mobil tidak stabil dan bisa terbalik.

Kembali ke soal Transfer Tunai bagi pekerja, mendapatkan gaji sebesar Rp. 600 ribu / pulan, bagi mereka bergaji dibawqh 5 juta, merupakan kesempatan yang baik bagi BP jamsostek, untuk mendorong perusahaan kerja, memperbaiki pelaporan iuran peserta BP Jamsostek. Momentum itu, merupakan ibarat buka kotak Pandora, untuk melihat apakah perusahaan melaporkan jumlah pekerjanya dengan benar, dan besar gaji yang diterima sesuai dengan yang diperoleh pekerja.

Dalam pandemi ini, kejujuran perusahaan menjadi kunci utama untuk suasana meringankan situasi ekonomi yang semakin sulit. Katakanlah sejujurnya. Semua anak bangsa yang merasakan akibat dari Pandemi ini, tidak ada yang dapat menjasmin kapan akan berakhir.

Berikanlah data karyawannya yang benar, termasuk rekening gaji pekerja untuk biaya subsidi pemerintah itu. Dengan sistem pembayaran langsung melalui rekening bank yang menangani, maka dapat mengurangi risiko penyimpangan yang merugikan pekerja.

Uang tersebut dapat digunakan untuk membantu kebutuhan pokok. Diperhitungkan uang Rp. 600 ribu, dapat digunakan untuk membeli beras medium 4 jiwa dalam satu bulan keluarga untuk 1 bulan (4 x 30 x 0,4 kg = 48 kg), dan sedikit berlebih dapat untuk membeli gula dan lainnya, disamping lauk pauk dan kebutuhan lainnya dapat digunakan dari gaji yang diperoleh.

Jika semua skema bansos dan subsidi yang dilakukan pemerintah yang dijalankan dengan baik, rasa empati, dengan hati, tidak ada penyimpangan, tidak ada mark up harga, dan segala sesuatu yang menyebabkan biaya tinggi, tentu akan terjadi pergerakan ekonomi disektor UMKM, yang secara perlahan menumbuhkan ekonomi mikro masyarakat, yang sudah hancur dalam 4 bulan terakhir ini.

 Bagaimana dengan pekerja sektor Informal

Pekerja di sektor informal ini, tidak sedikit. Lebih dari 70 juta pekerja. Mereka terkenal disemua jenis usaha, jasa, industri rumah tangga, pengrajin, pedagang kecil, tukang bakso, jamu bakul dan lainya.

Mereka ini, jelas pendapatannya di bawah gaji pekerja formal. Berkisar antara 300 ribu s / d 1,5 juta perbulan. Apalagi usaha keluarga, mungkin hanya diberikan makan, tempat tinggal, dan uang rokok istilahnya.

Kerusuhan Sewaktu sosial 1998, sektor informal ini tidak terlalu berdampak. Kita berani melihat mereka berjualan minuman, kerumunan siswa dan massa. Warteg laku keras. Yang banyak terpukul adalah konglomerat yang lari ke Cina, Singapura, Australia, Malaysia, dengan membawa semua harta karun yang dimilikinya. Jangan heran banyak Bank yang runtuh. Sektor UMKM, tetap berkibar, karena omzetnya tergantung dari daya beli demonstran untuk kebutuhan bertahan selama berjuangan untuk Reformasi.

Baca juga : TKA Cina Datang Saat Pekerja Indonesia Banyak Kena PHK

Sekarang suasana berbeda. Semua segmen masyarakat disapu bersih sang Covid-19. Siapa saja boleh kena. Apakah menteri, jenderal, polisi, tentara, ulama, pendeta, pencuri, perampok, koruptor, orang tua, anak muda, anak-anak bayi tidak peduli. Bahkan bagi lansia dengan komorbid, siap-siap untuk pasang ventilator, mudah-mudahan selamat. Saat ini Covid-19 tidak ada lawan yang tangguh, sebab dia berada ditubuh manusia tanpa diketahui oleh manusia itu sendiri. Musuh Covid-19 itu hanya 3, yaitu inang yang pakai masker, cuci tangan, dan membuat jarak 1-2 meter antar manusia. Tetapi kelemahan manusia yang sulit mengatasinya.

Kebijakan PSBB, berimplikasi ekonomi yang luar biasa. Sektor UMKM hancur lebur. Tidak ada yag belanja, dan orang takut untuk belanja. Kehiduoan harus jalan. Mereka hidup atas harian transaksional, yang risikonya sama dengan tertular virus Covid-19.

Memang wajarlah, jika sektor UMKM ini, diprioritaskan untuk dilakukan stimulus berupa bantuan modal untuk usaha. Mungkin di sektor inilah, para pekerja informal itu dapat bangkit dengan stimulus sebesar Rp. 2,4 juta per usaha UMKM. Ini pekerjaan tidak mudah bagi pemerintah.

Jangan berharap berhasil 100%, sebanyak 50% itu sudah bagus. Yang gagal dibina kembali, mendukung untuk bangkit kembali, sampai mereka yang mampu dan mandiri. Kontrol harus dilakukan berlapis. Keterlibatan kelompok usaha apakah Koperasi, paguyuban usaha, ikut berperan sebagai fasiiitator, dan mereka juga harus di kontrol.

Pemerintah tidak cukup hanya memberikan modal usaha, tetapi juga akses untuk mencoba. Penyiapan lapak-apak, tempat usaha, dengan menerapkan protokol kesehatan. Tidak ada salahnya untuk menyediakan pasar kaget setiap sabtu atau minggu, sambil secara bertahap di tata ulang jika perekonomian semakin membaik.

Baca juga : Kemnaker dan Kementerian BUMN Sepakat Pekerjakan Penyandang Disabilitas

Pandemi Covid-19, mengajarkan manusia itu untuk bersabar. Menjaga kesehatan, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh dengan banyak berolahraga. Implikasi ekonomi, mendorong masyarakat untuk berhemat, mengatur keuangan keluarga. Sebab pemulihan ekonomi tidak mudah, apalagi bersifat global. Beban utang yang begitu besar, infrastruktur pembangunan yang belum selesai, jika tidak dapat dikelola dengan baik, maka kita akan masuk ke jurang resesi ekonomi. Jika itu yang terjadi kita bisa tenggelam sebagai bangsa dan Kehilangan martabat sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cibubur, 13 Agustus 2020.

Artikel Terkait

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker