Banner IDwebhost
ArtikelFeatured

Kongres PAN : Antara yang Etis dan Politis

Banner IDwebhost

Oleh : Delianur

Secara etis, publik bukan hanya wajar mempertanyakan aksi lempar-lemparan kursi di Kongres PAN, bahkan juga wajib. Publik mempunyai hak untuk itu. Setidaknya ada dana publik dalam keberadaan seluruh Partai politik di Indonesia. Bahkan menjadi permasalahan besar kalau publik tidak merasa terganggu.

Munculnya meme dan video yang memparodikan kejadian itu, memang tidak mengenakan bagi elite partai atau orang-orang yang mempunyai ikatan dengan partai ini. Namun kalau meme dan video parodi itu tidak muncul, ada hal lebih besar lagi yang tidak mengenakan. Meski kalau mau diurai lebih detail dengan jujur, pangkal masalah ini jauh mengakar ke bawah. Ini bukan hanya perkara PAN, tapi perkara sikap banyak orang ke organisasi kepemudaan yang dalam banyak hal menjadi support utama kaderisasi partai. Tetapi sekali lagi, hal ini juga tidak bisa menjadi dalil pembenar. Elite partai atau orang-orang yang mempunyai keterkaitan dengan PAN mesti berpikir keras supaya kejadian ini tidak terulang. Apalagi menjadi tradisi.

Namun secara politis, ada harapan dan hal positif dari kejadian tidak mengenakan ini. Hal yang luput dari perhatian publik karena tertutup aksi lempar melempar kursi. Harapan ketika publik khawatir melihat melemahnya tradisi demokrasi dan menguatnya tradisi dinasti dan patronase di partai politik.

Salah satu faktor terjadinya peristiwa ini adalah kerasnya gesekan politik antara kubu yang didukung MAR (Muhammad Amien Rais), begitu biasanya orang PAN menyebut pendiri dan sesepuh partai ini, dengan kubu yang tidak didukung MAR. Kejadian ini tidak akan terjadi kalau semua penggiat partai mengamini harapan MAR. Kongres PAN akan seperti Kongres kebanyakan partai lainnya. Aman, lancar, tanpa gejolak berarti bahkan juga aklamasi. Karena semua patuh pada tokoh utama dan pendiri. Namun alih-alih mendukung instruksi politik MAR, aktivis partai ini bukan hanya melawan bahkan juga mengalahkan kandidat dukungan MAR.

Posisi MAR dalam setiap Kongres PAN memang menentukan. Di setiap Kongres PAN sebelumnya, hasil akhir Kongres mesti sesuai keinginan MAR. Soetrisno Bachir, Hatta Radjasa, Zulkifli Hasan, adalah orang yang bisa menjadi Ketua Partai berkat dukungan MAR. Dukungan politik MAR selalu menjadi indikator kemenangan kandidat.

Namun bila mau melihat lebih detail, sebetulnya instruksi politik MAR tidak serta merta didukung 100% oleh semua penggiat partai. Meski sudah mengeluarkan instruksi, MAR masih harus berkeringat untuk memenangkan kandidatnya. Tidak seperti sesepuh partai lain, MAR tidak cukup mengeluarkan fatwa politik dan semuanya berjalan sesuai yang diinstruksikan. MAR mesti turun gelanggang langsung untuk mendatangi setiap tokoh kunci pemegang suara di daerah untuk meyakinkan mereka dengan keputusan yang sudah dia buat.

Kongres PAN 5 tahun lalu di Bali, menjadi gambaran betapa derasnya keringat MAR untuk memenangkan Zulkifli Hasan atas Hatta Radjasa. Kepastian siapa yang menjadi nahkoda PAN pada Kongres Bali, terjadi di detik-detik terakhir penghitungan suara. Selisih suara Zulkifli Hasan atas Hatta Radjasa hanya terpaut 6 suara. Mungkin Kongres sekarang ini adalah puncaknya. Tiga orang mantan Ketua Umum Partai bersatu melawan MAR sesepuh partai dan hasilnya ada perbedaan ratusan suara antara Zulkifli Hasan dan Mulfahri yang didukung MAR.

Namun meski Kongres Kendari 2020 menjadi kekalahan politis MAR pertama, bila kita perhatikan suara-suara kader PAN yang berseliweran, ada semacam tone yang sama bila mereka tidak ingin memojokan MAR dan tetap menghargainya. Permohonan maaf kepada MAR karena tidak bisa seiring atau tetap memastikan MAR sebagai tokoh partai, adalah suara-suara kader partai yang kerap muncul ke permukaan.

Bahkan sebelum Kongres berlangsung, beberapa tokoh kunci kemenangan Zulkifli Hasan konon sudah mendatangi MAR terlebjh dahulu. Selain minta maaf karena tidak bisa seiring sejalan, mereka juga mengingatkan bahwa pilihan politik MAR itu keliru. MAR tentunya membantah dan mengingatkan bahwa ini demi kebaikan partai. Bukan perkara menang kalah. Perdebatan masa depan partai inilah yang menjadi tema. Bukan masalah menang kalah.

Ketika Partai politik dituding tidak demokratis, sentralistis, lebih mirip kerajaan, kejadian ini tentu menjadi harapan tersendiri. Terlebih ketika kemarin orang mengecam dinasti politik sebagai penyakit politik Indonesia. Karena pada Kongres kali ini, MAR bukan hanya gagal menempatkan Mulfahri sebagai Ketua Umum partai, tetapi juga tidak bisa membujuk aktivis partai dengan menempatkan Hanafi Rais sebagai Sekjend partai.

Mungkin dua hal diatas lah yang menjadi agenda besar PAN ke depan secara keorganisasian. Di satu sisi mesti membenahi etika politik dalam merumuskan keputusan-keputusan keorganisasian Partai, di sisi lain tetap menjaga tradisi demokrasi partai.

Tags

Artikel Terkait

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker