Jalan Pinggir

Relevansi “Falsafah Gerakan” Pasca Pandemi

Banner IDwebhost

Oleh: Agung Hidayat

Setiap “rezim pengurus” akan selalu berganti dan akan pergi menjadi masa lalu, tetapi Pelajar Islam Indonesia (PII) sebagai suatu lembaga yang berkonstitusi dan memiliki tujuan akan tetap ada, namun keberlangsungan PII sebagai lembaga, sebagai suatu “perahu pergerakan” tidak dapat tumbuh dan berjalan sendiri, harus ada “pilot, manajer, dan sebagainya.” yang menyelenggarakan misi-misi secara rapi demi ketercapaian tujuannya.  Sementara itu sepanjang PII masih tegak berdiri, dasar filosofis (philosofische grondslag) harus ada mengiringi perjalanannya.

Sekarang ini, mungkin, beberapa dari kita mengetahui Falsafah Gerakan (FG) sebagai salah satu dari 14 hierarki konstitusi PII. Setiap terselenggaranya training dokumen FG akan dibahas, baik secara serius atau sekadarnya. Dari namanya kita dapat menebak bahwa FG berisi pandangan filosofis yang berfungsi sebagai “pegangan” dalam pergerakan. FG memuat 4 pembahasan pokok yakni Muqaddimah, Pandangan Dunia Islam, Sistem Perjuangan serta Misi dan Eksistensi.

Apabila kita membacanya—baiknya secara berulang-ulang—ada satu hal mendasar yang akan kita temukan yaitu, tidak ditemukannya posisi keberpihakan secara jelas dan tegas. Selain itu, kerancuan dan ketidakjernihan sebagian besar premis membuat FG seperti daun yang terlepas dari tangkai tapi tidak sempat menyentuh tanah karena diterbangkan oleh angin. Konklusi yang seharusnya diisi oleh kesimpulan yang mengikat dan jelas justru diisi dengan menawarkan permasalahan baru.

Mengapa FG bisa sedemian rancu? Saya coba ajukan dua jawaban, pertama, sebagian besar dari kita tidak pernah mendapatkan penjelasan secara gamblang dari mana FG bermula. Bermula dalam artian, kita tidak pernah tahu bagaimana proses perumusannya, siapa yang merumuskan, apa yang diinginkan oleh si perumus serta dalam situasi yang bagaimana FG dirumuskan (situasi alam pikir si perumus dan realitas saat itu). Hal-hal di atas belum saya dapatkan jawabannya baik melalui lisan ataupun tulisan. Padahal pengetahuan historisitas amat penting guna memahami dan menafsirkan keinginan yang terkandung di dalam FG.

Kedua, FG tidak berangkat dari realitas yaitu satu permasalahan terkait yang ingin diselesaikan. Misalnya pada bagian mukadimah perumus memberikan percontohan historis tapi sampai akhir kalimat mukadimah ia tidak kunjung mengangkat persoalan nyata. Saya pikir permasalahan nyata bakal diangkat dilembar berikutnya, ternyata tidak. Bahkan sampai kepada pembahasan Sistem Perjuangan Islam yang membahas 5 poin yaitu, Cita Perjuangan Islam, Cita-cita Masyarakat Islam, Tingkatan-tingkatan Perjuangan Islam, dari tiga poin ini penjabarannya bersifat abstrak tidak ada yang berangkat dari realitas, padahal judulnya sangat realistis, lalu bagaimana mungkin perumus dapat melanjutkan ke poin berikutnya yaitu tentang Metode Perjuangan, yang lebih rancu, perumus menempatkan pembahasan Problematika berada di bagian akhir. Saya tidak dapat membayangkannya, apakah karena FG itu bersifat filosofis sehingga tidak berangkat dari permasalahan fenomena?

Memang, pada sebagiannya, FG membangun premis yang baik, misalnya di bagian Karakteristik Bangun Organisasi, pada pembahasan asas-asas, penjelasannya sistematis dan rapi, tetapi secara keseluruhan kita patut membawa FG ke forum peninjauan.

Dan apabila saya keliru, ternyata di luar sana ada yang mengetahui historisitas FG dan mampu menjelaskan FG secara gamblang maka timbul pertanyaan berikutnya. Mengapa kepahaman atas FG itu tidak begitu masif di kalangan masyarakat PII?

Bagaimana mungkin pengurus PII akan tahu ke mana harus membawa PII, sementara Philosofische grondslag-nya saja tidak tentu asal dan keinginannya? Maklum apabila kemudian dalam arus kehidupan yang semakin liar ini PII terseok-seok dan kelimpungan menentukan arah-sikap. Benar jika dikatakan kita perlu pribadi-pribadi yang “aksi”, tetapi jangan sampai makna “aksi” itu justru membuat PII menjadi “organisasi seremonial” tanpa roh dan menjauhkannya dari tujuan “kesempurnaannya” disebabkan tidak pahamnya para kader atas dasar filosofis, arah-tujuan dan metode perjuangan PII.

Mengapa Philosofische grondslag sangat penting? Karena ia akan menjadi jati diri yang akan mengilhami setiap perilaku para kader yang kemudian menentukan “perilaku kelembagaan” dari waktu ke waktu. Tanpa philosofische grondslag yang jernih dan terpahami oleh seluruh pengurus dan kader, kita akan semakin kehilangan arah-tujuan pergerakan dalam gelombang ketidakpastian situasi yang kian memprihatinkan.

Pada permenungan dalam lingkaran pandemi ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang juga, mungkin, digelisahkan oleh sebagian orang yakni perlunya kita melakukan keberanjakan atau sekurang-kurangnya meninjau ulang dasar filosofis yang selama ini, mungkin, telah kita yakini kesakralannya. Terutama dalam rangka menghadapi segudang permasalahan “keorganisasian”. Problem keorganisasian yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, wilayah maupun daerah, maka di sana memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan “dasar filosofis” sebagai pemandu pergerakan, selain daripada pengurus yang berwatak ikhlas, serius dan “kudus”.

Melalui tulisan ini, kita mengajak kepada seluruh masyarakat PII khususnya para instruktur, pejabat organisasi serta Pengurus Besar sebagai cerminan untuk mengambil langkah penyegaran, pembaruan atas philosofische grondslag PII; lalu memahaminya dan menyebarluaskannya kepada masyarakat PII yang digarap secara serius dan kudus.

Soal kekudusan ini Joesdi Ghazali dalam bukunya “Islam dan Dunia Modern” memberi wejangan, ia menganjurkan kita untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat jauh sebagai refleksi dari fenomena isra’ mi’raj Rasulullah. Kata “perjalanan ke suatu tempat” saya maknakan sebagai “perubahan dan keberanjakan”, katanya, “Pergilah ke suatu tempat dengan hati yang kudus, berangkatlah ke Miami, London atau Moskow dan pasanglah niat kudus sejak mulai berangkat. Tetapi kalau sudah sejak mula berangkat maksudnya sudah lain, berniat untuk memuaskan selera buruknya dan hawa nafsunya … Berarti dia sudah memilih jalan yang salah.”

Karena dalam situasi semacam ini tidak dapat kita harapkan gerak tubuh dan pikiran “tak kudus” dalam penyelenggaraan organisasi apalagi dalam penyebarluasan nilai-nilai fundamental. Kalau pun kita paksakan, penyelenggaraan itu bakal tidak membangkitkan kesadaran para kader secara utuh, yang amat penting lagi adalah peran para penyelenggara organisasi untuk dapat secara cermat dan ikhlas dalam meneruskan Dasar Filosofis itu kepada setiap lapisan pengurus dan para kader binaan. Melalui peninjauan dan diseminasi Dasar Filosofis kiranya dapat diposisikan langkah ini sebagai spirit baru dan paradigma baru bagi PII dan para kader dalam gelombang ketidakpastian abad 21.

Artikel Terkait

Back to top button