FeaturedJalan Pinggir

Manusia Bertipu Daya, tetapi Allah Sebaik-baik Pembuat Rencana

Banner IDwebhost

Oleh: Sabrur R Soenardi

Dalam suatu even pengajian Gus Baha, tiba-tiba lampu mati. Ulama kondang pakar Ihya’ itu bertanya kepada jemaahnya, “Ini kita lanjutkan tidak pengajiannya?” Jemaahnya ada yang menjawab lanjut, ada yang menjawab tidak, ada yang cuma diam saja (abstain). Tetapi santri KH Maimoen itu menegaskan dengan gaya selorohnya, “Ya lanjut lah. Orang demenan (selingkuh) saja kalau lampu mati tetap lanjut. Mosok ngaji kalah dengan orang demenan.” Jemaah pun tertawa ngakak mendengar statemen Gus Baha itu.

Di mana-mana, orang berzina (demenan) memang ya di ruang tersembunyi, gelap, tak ada lampu, bahkan jika pelru kain gorden ditutup sekalian, biar makin privat, makin tersembunyi. Jika di kamar tersebut ada CCTV, lampu dimatikan saja, agar tidak terdeteksi oleh kamera dengan resolusi sebesar apa pun.

Soal zina, demenan dan semacamnya, lain sekarang lain dulu. Di zaman dulu, tidak ada teknologi lampu seperti sekarang. Juga tidak ada teknologi CCTV. Jadi, perzinaan di ruang gelap nan tersembunyi itu super aman wal nyaman. Tinggal matikan saja itu senthir, teplok, maka aman terkendali. Tidak akan ada orang yang melihat. Apalagi, untuk bisa dikenai hukuman (had) atas pidana perzinaan, setidaknya harus disaksikan oleh 4 orang lelaki, jika perempuan semua maka harus berjumlah 8 orang, dan semuanya harus melihat semata-mata bahwa telah terjadi dukhul (masuknya alat kelamin laki-laki ke liang senggama perempuan).  Lha, kalau suasananya gelap, bagaimana bisa terlihat? Itulah kenapa, pada saat itu (juga sekarang) kasus pidana perzinaan adalah sesuatu yang krusial, kompleks, dan memerlukan kehati-hatian.

Zina di zaman Rasul SAW

Maka, dalam beberapa kasus di zaman Nabi SAW sendiri, terbongkarnya kasus perzinaan bukan karena faktor kepergok yang kemudian disusul pelaporan kepada Nabi untuk ditegakkan hudud, tetapi lebih karena pengakuan dari sang pelaku sendiri. Ini setidaknya dalam kasus wanita Ghamidiyah dan kasus seorang sahabat bernama Ma’iz. Mereka mengaku kepada Nabi bahwa mereka telah berzina, bahkan untuk kasus wanita Ghamidiyah, dia telah mengandung anak hasil perzinaan. Mereka minta agar hudud ditegakkan atas mereka: dirajam.

Dalam menyikapi pengakuan tersebut, alih-alih Nabi langsung percaya, bahkan menanggapi saja tidak. Nabi menganggap, itu adalah pengakuan tidak masuk akal, itu adalah pengakuan gila. Bahkan pada kasus Ma’iz, Nabi SAW bertanya kepada orang-orang (sahabat), “Apa ada yang tidak beres di otaknya si Ma’iz?” Maksudnya, mungkin, apa si Ma’iz sudah gila, sudah sinting, stres, sampai dia membuat pengakuan bahwa dia berzina? Bahkan Nabi melemparkan beberapa klarifikasi untuk meyakinkan Ma’iz: Ah, jangan-jangan kamu cuma melihatnya, cuma menyentuhnya, tidak sampai terjadi dukhul…, bla bla bla.

Baca juga: Di dalam Tanda Tangan Presiden, Nasib Rakyat Dipertaruhkan

Sekali pengakuan, Nabi tidak menanggapi, bahkan seakan-akan menganggapnya angin lalu. Mereka bahkan harus menghadap beliau sampai tiga atau empat kali, baru kemudian beliau menanggapinya secara serius. Untuk kasus wanita Ghamidiyah, bahkan beliau menyuruhnya pulang saja. “Pulanglah kamu, tunggu sampai anakmu lahir,” kata Nabi.

Beliau sebenarnya berharap, agar wanita tersebut tidak datang lagi. Tetapi ketika anak tersebut lahir, wanita itu datang lagi meminta ditegakkan hudud. Nabi kembali menyuruhnya pulang, meminta agar anaknya disusui terlebih dulu sampai 2 tahun.

Setelah anak tersebut genap dua tahun, wanita tersebut kembali datang sembari membawa anaknya yang memegang sepotong roti dan tengah memakannya. Seakan-akan wanita tersebut ingin menunjukkan bahwa anaknya kini sudah besar, sudah bisa makan sendiri, sudah tidak merepotkan, sehingga tidak mengapa jika ia ditinggal mati ibunya (karena dirajam). Dengan begitu, Nabi tidak punya alasan untuk menyuruh dia pulang lagi.

Atas sikap atau reaksi Nabi dalam dua kasus tersebut, banyak yang memahami, bahwa seakan-akan Nabi tidak menghendaki jika seorang pelaku zina yang telah menyadari kesalahannya membuat pengakuan jujur di depan publik dan minta dihukum (hudud). Cukuplah dia sendiri dan Allah yang tahu tentang perbuatan kotornya itu, dan segeralah bertaubat, jauhi zina, jangan ulangi lagi, dan perbanyaklah kebajikan untuk mengikis dosa-dosanya yang telah lalu. Toh, juga tidak ada orang yang tahu hal-ihwal kejadiannya, jadi buat apa malah mengumumkan diri sehingga publik jadi tahu. Allah SWT sudah menutupi keburukan-keburukannya, orang tidak ada yang tahu, bahkan seorang pun tidak, apalagi sampai empat orang, apalagi 8 orang. Mengapa justru dosa dan keburukan itu ditampakkan setelah Allah menutupinya? Bukankah itu gila?

Katakanlah, sebagai misal, di zaman sekarang kita melakukan dosa di malam hari, dini hari nan gelap gulita, di tempat atau ruangan yang sepi, tidak ada orang tahu, CCTV mati. Bukankah itu suasana yang sangat ideal dan hampir sempurna, karena sangat-sangat aman? Dosa apa pun, terserah, tinggal sebut saja: berzina dengan PSK ahli neraka, nenggak kuah cem-ceman kadal, memukuli orang hingga nangis cendol dawet, curi dana bansos 71M, ekspor benih bintang laut dari selokan, dst. Apa pun pokoknya.

Nah, terlepas apakah kita secara moral terbebani atau tidak dengan kejahatan tersebut, pilihan terbaik sebenarnya ya diam saja. Hahaha. Toh tidak ada yang tahu. Bahkan korban kejahatan kita mungkin tidak tahu siapa kita. Ya karena gelap tadi, tak ada CCTV pula. Kenapa pilih diam? Tujuannya,agar hukum tidak bisa menjerat kita; atau jikapun terjerat, butuh proses hukum yang sangat lama, berbelit, dan berliku tajam.

Atau jika kebetulan kita beragama, dan menganggap bahwa itu dosa dan terlarang, ya segera saja bertaubat dan perbanyak kebaikan, seperti dalam kasus di zaman Nabi itu. Habis perkara! Tetapi jika kita malah dengan sadar membuat pengakuan, ya seperti kata Nabi dalam kasus Ma’iz itu, “Apakah ada yang tidak beres di otaknya?” Mungkin kalau bahasa orang sekarang tengah ramai di medsos itu, “Jangan-jangan dia lupa servis dengkul beserta otaknya!” Hahaha.

Baca juga: Ancaman Komersialisasi Pendidikan dalam UU Cipta Kerja

Tetapi, memang begitulah, Allah memang maha menutupi keburukan seseorang, tetapi juga sekaligus membukanya lebar-lebar. Jika Allah sudah berkehendak, maka apa pun akan terjadi, meski kita berusaha keras mencegahnya. La mani’a lima a’thaita, wala mu’thiya lima mana’ta, begitu kita sering berdoa kepada-Nya. Ketika orang lain mungkin tidak tahu akan kejahatan kita, akan tetapi tiba-tiba dengan tanpa sadar kita, baik langsung atau tidak langsung, membuat pengakuan tentang kejahatan kita. Atau, kita mungkin bisa menyimpannya rapat-rapat, tetapi aib itu terbuka lewat pihak lain dengan caranya sendiri. Kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.

Kisah Syam’un

Kita bisa berkaca pada kasus pembunuhan di zaman Nabi Musa AS. Ada seorang bani Israel yang terbunuh secara tidak hak, namanya Syam’un. Dia orang kaya-raya kala itu, dan seorang rentenir pulak. Meski kaya-raya, ia tidak punya ahli waris selain sepupunya yang fakir miskin bernama Uhaihah. Sang pembunuh adalah Uhaihah sendiri, tentu dengan maksud untuk mengambil semua warisannya.

Oleh Uhaihah, mayat Syam’un ditaruh di tengah kota perbatasan dengan maksud agar terjadi fitnah: orang-orang saling tuduh tentang siapa pelaku pembunuhan. Intinya, agar tidak ada yang menuduh bahwa dialah pelakunya. Ketika dia diberitahu bahwa sepupunya mati, Uhaihah pura-pura sedih, menangis, meratap, dan menuduh penduduk kota sebelah yang telah melakukan pembunuhan. Hampir terjadi peperangan antara penduduk dua kota.

Ada seorang tua yang mengingatkan orang-orang, “Hai kaumku, buat kalian termakan fitnah, saling tuduh-menuduh, saling menumpahkan darah hanya karena kematian Syam’un? Bukankah sebenarnya kalian benci dengan dia, karena dia seorang rentenir yang sangat menjengkelkan?”

Tetapi orang-orang memberi jawaban telak, “Hai, Pak Tua, meskipun Syam’un seorang rentenir yang selama ini menghisap darah-darah kita, itu bukan alasan untuk menghilangkan nyawanya secara tidak hak. Siapa yang membunuhnya harus kita usut!”

Akhirnya, atas saran dan inisiatif orang tua itu pula, mereka meminta petunjuk kepada nabiyullah Musa AS. Singkat kisah, atas petunjuk Allah, mereka kemudian menyembelih seekor sapi betina yang tidak tua tidak muda, bewarna kekuningan nan enak dipandang, tidak berbelang, belum pernah dipakai membajak sawah, dan itu dimiliki oleh seorang anak saleh yatim yang sangat berbakti kepada ibunya. Sapi itu dibeli dengan emas seberat kulitnya.

Musa AS kemudian menitahkan, atas petunjuk Allah, untuk memukulkan tulang sapi tersebut ke jenazah Syam’un. Seketika Syam’un hidup kembali dan mengatakan kepada orang-orang bahwa Uhaihah, sepupunyalah, yang telah membunuhnya. Sejenak kemudian Syam’un mati. Dengan terkuaknya kebenaran tersebut, maka Uhaihah gagal mendapat warisan atas harta Syam’un, bahkan sebaliknya malah memperoleh hukuman berat (kisas).

Dalam kisah yang sangat masyhur dan tersurat di QS Al-Baqarah tersebut, Allah menegaskan (di ayat 72) bahwa Dia adalah Zat yang “menampakkan hal-hal yang kalian sembunyikan” (mukhrij ma kuntum taktumun). Kita mungkin berusaha sedemikian rupa untuk menyembunyikan kejahatan kita, kejelekan, aib, atau keburukan kita, tetapi Allah dengan cara-Nya sendiri sangat mudah untuk menampakkannya. Kita mungkin punya rencana (makar) sedemikian rupa, sedemikian rapi dan terukur, tetapi Allah juga punya rencana, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Wa makaru wa makarallah, wallahu khairul makirin (QS Ali Imran: 54). Wallahu a’lam.(*)

Artikel Terkait

Back to top button