Artikel

Menguak Sisi Lain Buya Hamka

Banner IDwebhost

Resensi Buku

Judul: Buya Hamka: Pemikiran dan Perannya di Pentas Politik Nasional

Ukuran: B5 (17 x 25 cm)
Tebal: 300 halaman
Kertas: HVS
Sampul: Soft Cover
Penulis: Ahmad Khoirul Fata
Cetak: I Desember 2020
Penerbit: Rasail Media, Semarang
Harga: 85.000 + Ongkir

Menurut Prof Hamka Haq ada tiga domain yang bisa kita lihat jika ingin meneropong seorang tokoh. Pertama adalah perannya. Buku John. D. Legge berjudul “Soekarno A Political Biography” adalah contoh terbaik dalam kaitannya dengan hal ini.

Kedua, kehidupan pribadinya sebagaimana yang digambarkan dengan baik sekali oleh Cindy Adams yang menuangkan wawancaranya dengan Bung Karno berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”.

Dan yang ketiga adalah pemikirannya, domain ketiga ini sudah cukup digandrungi berkaitan dengan penelitian tokoh di Indonesia seperti buku Akh Minhaji yang meneliti tentang pemikiran A Hassan, Badri Yatim yang meneliti pemikiran Soekarno, Thoha Hamim yang meneliti tentang pemikiran Moenawar Chalil dan lain sebagainya.

Baca juga: Cara Orang Besar Saling Memaafkan: Kisah Hamka, Pramoedya dan Bung Karno

Agaknya buku yang saat ini sedang kami baca adalah buku yang masuk dalam domain ketiga. Buku ini diangkat dari disertasi Ahmad Khoirul Fata (saya biasa memanggilnya Cak Fata) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang membedah pemikiran Hamka dalam bidang politik.

Hamka adalah salah satu tokoh yang banyak dikaji. Baik pribadinya, perannya maupun pemikirannya dalam berbagai lintas ilmu. Hal ini karena ia sendiri adalah tokoh yang multitalenta. Agak berbeda dengan penelitian lainnya yang memfokuskan pada kisah hidup Hamka, pandangan Hamka dalam tafsirnya dan karyanya, Cak Fata memberikan perspektif baru tentang pemikiran Hamka dalam bidang politik.

Nama Hamka memang tidak sekaliber Buya Natsir maupun Agus Salim, namun tulisannya dan perannya dalam perdebatan di konstituante patut pula kita perhatikan dimana perdebatan Islam dan kebangsaan yang terjadi pada pra kemerdekaan kembali berlanjut dalam sidang konstituante. Dan Cak Fata berhasil mendeskripsikan evolusi tersebut dengan apik dalam bukunya ini.

Baca juga: Buya Hamka, Nelson Mandela dan Anies Baswedan

Buya Hamka menawarkan sebuah konsep baru yang bernama Demokrasi Takwa. Baginya, sistem politik dan pemerintahan adalah hal yang bersifat taaquli bukan taabudi, sehingga – berdasarkan pendapatnya- demokrasi itu cocok dengan Islam namun dengan catatan. Hamka juga berpendapat silahkan masuk ke dalam organsiasi kebangsaan yang tidak mencantumkan Islam sebagai asasnya, asalkan niatnya hanya untuk Allah SWT.

Menurut Cak Fata, pemikiran Hamka ini sangat lugas ia sampaikan di saat masa pra kemerdekaan di mana perlu adanya persatuan dan kesatuan antara faksi Islam dan faksi kebangsaan.

“Hanya untuk Allah”, kata Buya Hamka yang seolah membuat kita berkontemplasi pada diri kita.

Hal ini sangat relevan mengingat banyaknya orang yang mengatasnamakan agama dan mengatasnamakan Pancasila sebagai kedok yang ketika dibuka topeng itu isinya adalah keserakahan dan haus akan kekuasaan. Mereka menipu dengan dalil-dalil agama, mereka pun menipu dengan dalil-dalil Pancasila dan nasionalisme, nyatanya substansi ajaran agama dan Pancasila justru mereka buang ke belakang.

Baca juga: Hamka, Rendra dan Puisi Sukmawati: Drama “Patine Gustiallah”

Mereka (politisi) berhasil membuat jurang yang dalam antar masyarakat pemilih yang kurang mengetahui realita politik bahwa politik itu sangat cair, mereka kuatkan politik identitas, pancasila dibenturkan dengan Islam begitu juga sebaliknya. Namun dibalik itu, kita tak tahu. Nyatanya sekarang mereka kong kalikong menggarong negara. Sudah saatnya pula kita mengatakan kepada mereka, “Go to hell with your aid“.

Membaca buku ini sangat mengasyikkan, Cak Fata berhasil mentransformasikan bahasa akademis ke bahasa yang lebih renyah untuk dinikmati bersama secangkir kopi. Selamat membaca. Tabik !

Hardiansyah, Sejarawan Bengkulu. (AMz)

Artikel Terkait

Back to top button