Banner IDwebhost
Dunia IslamFeatured

Kisah 600 Pengkhianat Yahudi Bani Quraizah

Banner IDwebhost

Oleh Sabrur R Soenardi

Sesaat setelah Perang Parit, belum juga Nabi SAW dan kaum Muslimin rehat sejenak saja, Jibril mendatangi beliau dan memerintahkan, atas nama Tuhan, untuk menyerang Yahudi Bani Quraizah secepatnya. Jibril bahkan menyatakan diri siap membantu untuk merasukkan rasa gentar dan takut di dalam dada-dada kaum pengkhianat itu (dalam sebuah riwayat, Jibril mengejawantah dalam sosok manusia tampan Dihyah al-Kalbi, mendahului pasukan Islam menuju benteng Quraizah).

Nabi segera memerintahkan seluruh pasukannya agar bergegas menuju benteng Bani Quraizah. Bahkan Nabi memberi ultimatum, “Tak usah salat asar dulu sebelum sampai ke lokasi!”

Menjelang magrib mereka sampai di lokasi. Tentara Islam kala itu berkekuatan 3000 orang dan mereka mengepung benteng Bani Quraizah selama 25 hari 25 malam. Tak kuat dalam gentar dan takut berkepanjangan, pada akhirnya kaum Yahudi itu menyerah dan pilih berunding.

***

Beberapa waktu sebelumnya, Bani Quraizah sejatinya telah menjalin kontrak politik dengan kaum Muslimin di Madinah untuk hidup damai dan saling membantu. Terutama untuk menghadapi serangan dari luar Madinah, kaum Muslim dan Yahudi bersepakat untuk saling menolong dan melindungi.

Akan tetapi, karena termakan rayuan seorang Yahudi dari Bani Nadhir bernama Huyay, Yahudi Quraizah di bawah pimpinan Ka’b bin Asad melanggar perjanjian yang telah diteken bersama kaum Muslimin. Mereka akan bergabung dengan kaum musyrikin Quraisy untuk menyerang umat Islam di Madinah. Sebab, mereka sangat yakin bahwa dengan melihat jumlah pasukan kafir Quraisy yang begitu banyak, Muhammad dan pengikutnya pasti akan hancur kali ini.

Ketika Nabi tahu ihwal rencana pengkhianatan mereka, beliau mengutus dua orang sahabatnya. Misinya mengingatkan mereka agar kembali ke perjanjian awal yang sudah mereka sepakati. Tetapi, Bani Quraizah malah menjawab: “Siapa itu Rasulullah? Tidak ada kesepakatan apa pun antara kami dengan Muhammad!”

Pada akhirnya, singkat cerita, kaum kafir musyrikin Quraisy gagal menaklukkan Madinah. Tidak ada pertempuran berarti saat itu, hanya gesekan-gesekan fisik kecil, dengan korban tidak seberapa dari kedua belah pihak. Merasa sudah lelah dan putus asa, kaum musyrikin Quraisy enggan melanjutkan peperangan dan memilih balik kanan ke Makkah. Meski begitu, sesungguhnya mereka pilih pulang bukan karena takut bertempur, akan tetapi, selain merasa kesulitan melewati parit raksasa yang dibuat kaum Muslimin (atas ide Salman dari Persia), juga karena tak tahan dengan serangan cuaca: udara dingin nan lembab membuat kuda-kuda mereka banyak yang modar, badai dan angin topan hebat menyapu habis tenda-tenda mereka.

Ketika kaum musyrikin Quraisy pulang ke Makkah, harapan Bani Quraizah pun tinggal harapan belaka. Keyakinan awal mereka ternyata kosong. Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya: Muhammad tak terkalahkan. Dan kini justru kengerian yang menjelang di depan mereka. Kaum Muslimin pasti akan menuntut konsekuensi atas pengkhianatan tersebut, yang paling ringan adalah mereka harus angkat kaki dari Madinah mengikuti jejak Yahudi Nadhir dan Qainuqa’.

***

Kaum Muslim dari suku Aus memohon penuh iba kepada Nabi SAW agar berbelas kasihan kepada Yahudi Bani Quraizah. Sebab, Quraizah telah lama juga menjadi sekutu mereka bahkan sejak sebelum mereka (suku Aus) masuk Islam.

Nabi SAW, barangkali, bisa saja mengambil keputusan sendiri tentang apa yang musti dilakukan terhadap Bani Quraizah yang telah mengingkari kontrak politik itu. Bisa saja beliau berkata, misalnya, “Jika kalian bertanya bagaimana keputusan atau pendapat pribadi saya, jawaban saya adalah usir mereka, bunuh mereka, bla bla bla…!” Titah Tuhan melalui jibril beberapa waktu lalu sudah lebih dari cukup sebagai justifikasi untuk berlaku sekeras mungkin, tanpa toleransi, kepada kaum pengkhianat itu.

Tetapi, Nabi tidak melakukan itu. Menggunakan pendekatan hukum, beliau memberi tawaran kepada suku Aus, “Apa kalian setuju jika salah satu pemimpin kalian, Sa’d bin Mu’az, menjadi hakim yang akan memutuskan status hukum sekutu kalian (Bani Quraizah) itu?”

“Setuju!” jawab orang-orang suku Aus serentak.

Sa’d bin Mu’az yang tengah sakit keras karena luka terkena panah dan sudah di ambang kematian menerima perintah tersebut. Sebelumnya dia meminta kepastian dulu, apa keputusan yang akan diambil akan mengikat semua orang, bahkan Nabi SAW sendiri. Nabi menjawab bahwa keputusannya juga akan mengikat beliau. Maka, apalagi yang lain, tentu semua mengiyakan.

Sa’d bin Mu’az adalah tipe orang cerdas, sangat mempertimbangan suatu perkara dengan cermat, dan tanpa kompromi. Ia setipe dengan Umar bin Khattab. Dalam kasus tawanan perang Badar, Sa’d sepakat dengan Umar agar tawanan perang Badar jangan dikasih ampun, karena jika mereka dibiarkan hidup pasti akan membuat masalah di kemudian hari. Terbukti, ketika pada akhirnya tawanan perang Badar itu dikembalikan ke Makkah dengan tebusan, mereka justru ikut menyerang kaum Muslimin dalam Perang Uhud.

Cara berpikir demikian itu pulalah yang dianut oleh Sa’d sebelum memutuskan status hukum atas Bani Quraizah. Dalam pikirannya, jika mereka dibiarkan hidup, mereka akan membahayakan kaum Muslimin di kemudian hari. Selain itu, Sa’d juga merujuk pada premis dasar, bahwa jika saja kaum Musyrikin Quraisy kemarin itu jadi menang dalam Perang Parit, pastilah Bani Quraizah akan bersama-sama kafir Quraisy menghabisi kaum Muslimin. Maka hal yang sama pun sudah selayaknya dilakukan kepada mereka.

Dan, Sa’d pun memutuskan, dan keputusannya itu berdasarkan hukum Taurat, kitab suci kaum Yahudi sendiri: semua lelaki dewasa dihukum mati, sedangkan semua perempuan dan anak-anak dibiarkan hidup (dijadikan budak).

Keputusan itu jelas tidak mengenakkan, dan membuat seluruh lelaki dan perempuan suku Aus menangis histeris membayangkan nasib sekutu mereka (Bani Quraizah). Mereka mengutuk Sa’d, tetapi Sa’d tak peduli. Emang gue pikirin, mungkin begitu tanggapan Sa’d.

Nabi SAW berkomentar, “Keputusanmu sesuai dengan kehendak Tuhan dari atas tujuh langit!”

Maka seluruh Bani Quraizah keluar dari benteng, lalu dipisahkan antara lelaki dewasa, perempuan, dan kanak-kanak. Dalam sebuah riwayat Al Barra’ bin Malik, untuk membedakan lelaki dewasa dan kanak-kanak cukup sederhana saja, yakni dengan melihat ada tidaknya bulu kumis yang tumbuh. Jika belum tumbuh bulu kumis, maka dianggap kanak-kanak. Tetapi jika sudah tumbuh bulu kumis, maka kedua tangannya diikat ke belakang, digiring ke tempat eksekusi sebagaimana lelaki dewasa lainnya.

Masing-masing lelaki Quraizah sudah disediakan liang kuburnya. Masing-masing duduk berlutut di bibir lubang, lalu dipenggal/dipancung satu demi satu oleh sahabat Nabi yang menjadi eksekutornya. Salah satu eksekutor itu adalah Ali bin Abi Thalib.

Total yang dieksekusi berjumlah 600 orang, ada juga yang menyebut 700 orang, bahkan 900 orang. Tetapi riwayat yang mendekati kebenaran jumlahnya 600 orang.

Tidak pandang bulu, termasuk yang masuk daftar eksekusi adalah lansia Quraizah bernama Zabir bin Batha. Ada seorang sahabat yang awalnya meminta kepada Nabi agar Zabir dibebaskan, karena ia (sahabat) berhutang budi padanya dalam suatu peristiwa perang sipil di Madinah di masa lalu. Nabi mengabulkan, Zabir dibiarkan hidup, bahkan juga anak istrinya dibebaskan, harta bendanya dikembalikan. Tetapi, Zabir merasa sudah bosan hidup, ia lebih memilih mati bersama semua lelaki dewasa Quraizah. Bahkan Zabir yang meminta si sahabat tadi mengantarnya ke liang kuburnya dan sekalian menebas batang lehernya.

Dari 600 orang itu, ada juga seorang perempuan yang ikut dieksekusi. Sebabnya, beberapa saat sebelumnya ia melemparkan batu gilingan besar ke arah seorang sahabat Nabi bernama Suwaid dan menyebabkannya tewas.(*)

Artikel Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker