Banner IDwebhost
ArtikelFeatured

Novel Salah Pilih: Cara Berkonflik dengan Masyarakat

Banner IDwebhost

Oleh : Delianur

Bagi generasi yang lahir dan sempat hidup cukup lama di masa Orde Baru, tentunya masih ingat bagaimana cara negara merepresentasikan orang pintar dan orang sukses. Melalui TVRI yang menjadi satu-satunya siaran televisi, negara sering merepresentasikan orang sukses sebagai orang yang datang dari orang miskin, kawasan kumh, daerah terpencil tapi dia orang ulet. Ketika sekolah dia belajar bersungguh-sungguh, ketika bekerja dia pekerja keras. Karena bersungguh-sungguh dan bekerja keras itulah dia kemudian sukses. Mempunyai harta banyak atau kedudukan tinggi.

Tidak ada yang salah dengan gambaran seperti itu. Karena memang kerja keras, baik itu ketika belajar maupun bekerja, selalu menjadi variable penting pembentuk kesuksesan. Namun gambaran negara tentang kesuksesan dan kepintaran yang melulu mesti diraih dengan kerja keras, menyembunyikan peran dan fungsi negara untuk membuat warganya pintar dan sukses. Karena kepintaran dan kesuksesan mesti ditopang dengan kehidupan ekonomi keluarga yang mapan sehingga bisa memberikan asupan gizi yang mendukung, serta struktur kekuasaan yang mendukung kesuksesan setiap orang.

Gambaran lebih lengkap tentang faktor kesuksesan diatas tidak direpresentasikan negara. Karena bila kesuksesan digambarkan seperti ini, maka persis pada titik inilah kelemahan negara terlihat. Pemerintah Orde Baru bukan hanya gagal menghadirkan kemakmuran bagi keluarga Indonesia sehingga keluarga di Indonesia juga gagal bisa memberikan asupan gizi yang baik kepada anak-anaknya, tetapi struktur kekuasaan pun tidak mendukung terbentuknya kesuksesan dari semua kalangan. Orde Baru dengan KKN nya, hanya bisa mengangkat kesuksesan bagi sebagian orang saja.

Dalam hal ini, novel Laskar Pelangi mungkin adalah contoh yang relatif lebih lengkap tentang bagaimana kecerdasan dan kesuksesan itu didapat. Sebagaimana diketahui, Ikal sebagai tokoh utama dalam novel ini adalah anak yang sukses. Meski dia terlahir dan hidup dalam keluarga miskin. Kesuksesannya bukan karena dia pintar saja, tapi juga mau bekerja keras untuk meraihnya. Melawan segala kesulitan yang dihadapi seorang anak yang datang dari keluarga miskin di daerah terpencil.

Baca juga : Gold; Indonesia dan Hoax Terbesar Tambang Emas Abad ke-20

Namun dalam novel ini juga terdapat tokoh lain bernama Lintang. Seorang anak yang juga pekerja keras seperti Ikal, tapi memiliki kecerdasan melebihi Ikal. Tetapi hidupnya tidak sukses. Lintang tidak bisa melanjutkan sekolah ke Eropa seperti Ikal, dan kembali ke kampung untuk mencari sesuap nasi karena kemiskinan akut. Lintang harus bekerja keras untuk mencukup kebutuhan adik-adiknya yang diwarisi kemiskinan oleh orang tuanya yang sudah meninggal. Selain itu, Lintang juga berhadapan dengan struktur kekuasaan yang eksploitatif. Lintang tidak bisa maju hanya dengan mengandalkan kecerdasan yang dia miliki.

Dalam kerangka inilah mungkin kita bisa memahami corak sastra klasik yang dihadirkan Balai Pustaka. Sebuah priode sastra Indonesia yang muncul pada tahun 1920 di mana karya-karya sastra nya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Sebuah penerbit yang dibentuk pemerintah Belanda atas nama Commissie voor de Inlansche School en Volkslectuur, komisi untuk bacaan rakyat.

Dalam novel-novel yang diterbitkan Balai Pustaka, selalu hal yang kita temukan adalah kritik terhadap adat. Novel-novel seperti Sitti Nurbaya, Azab dan Sengsara, Katak Hendak Menjadi Lembu, Salah Pilih dan lain-lain, adalah sastra yang mengurai sisi negatif adat yang dianggap penghambat kemajuan.

Dalam novel terbitan Balai Pustaka, problem Indonesia adalah adat yang membelenggu sementara kolonialisme Belanda seperti tidak menjadi permasalahan. Bila kolonialisme Belanda ditampilkan, hadirnya kerap sumir dan sering dianggap solusi ketimbang problem. Seperti tokoh Syamsul Bachri dalam novel Sitti Nurbaya yang kembali ke kampung halamannya untuk mentertibkan kehidupan disana. Padahal waktu itu Syamsul Bachri mendapat tugas dari pemerintah kolonial Belanda yang terganggu dengan perlawanan masyarakat Sumatra Barat yang menolak penambahan pajak.

Baca juga : Memang Jodoh : Karya Terakhir Penulis Sitti Nurbaya

Balai Pustaka tidak menerbitkan novel-novel seperti Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo, Hikayat Kadiroen karya Semaoen atau mempublikasikan Max Havelaar karya Multatuli yang sangat populer. Karena bagaimana pun novel-novel diatas adalah novel yang mengugat pemerintah kolonial Belanda yang menjadi biang kemunduran Indonesia.

Namun meski kelemahan Balai Pustaka lebih berorientasi mengkritik adat ketimbang mengkritik pemerintah kolonial Belanda sebagai penyebab kemunduran, justru pada titik inilah terurai lebih dalam faktor-faktor sosial budaya penyebab kemunduran. Penulis-penulis Balai Pustaka seperti mengurai lebih dalam dinamika masyarakat Indonesia yang dianggap berkontribusi terhadap kemunduran.

Sebagaimana roman “Sitti Nurbaya” atau “Salah Asuhan” yang mengkritik dinamika sosial budaya yang berkontribusi terhadap kemunduran, begitu juga novel “Salah Pilih”. Berbeda dengan novel “Katak Hendak Menjadi Lembu” yang menjadikan landskap tanah Priangan, dalam “Salah Pilih” Nur St. Iskandar memakai landskap Minangkabau tempat kelahirannya, untuk mengkritik adat. Nur St. Iskandar mengurai sisi sosial budaya di tempat kelahirannya yang menurutnya mesti diubah. Bila tidak diubah, maka tanah kelahirannya dipastikan akan tertinggal.

Namun “Salah Pilih” tidak seperti “Salah Asuhan” yang menggambarkan Hanafi, tokoh utamanya, sebagai orang yang bertentangan dengan adat. Namun karena motif nya kebebasan juga menganggap enteng adat, hidupnya pun pada akhirnya berakhir tragis. “Salah Pilih” juga tidak seperti “Sitti Nurbaya” yang menggambarkan konflik dengan adat yang mesti “Sad Ending” dan berujung keterusiran dari kampung halaman.

Dalam “Salah Pilih” konflik dengan adat tidak berarti menganggap remeh adat dan meremehkan para pemangku adat. Meski tidak setuju, adat dengan para pemangku nya adalah orang-orang yang mesti dihadapi dengan baik. Konflik dengan adat juga tidak selalu berakhir konflik tanpa ujung dan berakibat keterusiran.

Baca juga : Roman Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai: Perlawanan Samar Atas Kolonialisme

Bertentangan dengan adat dalam “Salah Pilih” pada akhirnya berakhir dengan kerjasama. Adat dengan cara yang baik dan terhormat meminta para penentang adat yang sudah mempermalukan Asri dan Asnah yang sudah mempermalukan mereka, untuk kembali ke kampung halaman. Bukan hanya untuk menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, tetapi juga menjadi penghulu adat. Memimpin masyarakat untuk melanjutkan upaya-upaya memajukan masyarakat yang sudah dibangun sebelumnya oleh Asri.

Dalam tipikal orang seperti Asri yang memperkenalkan pembaharuan terhadap adat inilah kita bisa memahami perihal segala konsep perubahan yang diperkenalkan orang sekarang.

Bahwa segala macam gagasan kontroversial yang dianggap akan memajukan masyarakat, akan ditolak masyarakat selama pengusulnya dianggap tidak menunjukan perilaku yang baik atau tidak berkontribusi apa-apa terhadap masyarakat. Jadi gagasan progresif seperti Islam Liberal dan lain-lain, pada akhirnya hanya akan menjadi kontroversi belaka selagi penggagasnya mempunyai track record buruk dan tidak mempunyai kontribusi apa-apa untuk masyarakat kebanyakan.

Dalam konteks ini juga novel “Salah Pilih” lah yang mestinya populer di masyarakat. Karena pertentangan dengan adat dan kebiasaan, berakhir dengan kerjasama. Asri yang menentang adat, berkerjasama dengan adat untuk membangun masyarakat. Bukan seperti novel “Sitti Nurbaya” dimana pertentangan dengan adat hanya berujung dengan kesedihan. Penentang adat meninggal dan masyarakat ditinggalkan tokoh progressif.

Atau jangan-jangan para penentang adat di Indonesia memang tidak mau seperti Asri. Hanya ingin memperkenalkan ide-ide baru saja. Tapi tidak mau berlelah-lelah menata perilaku dan turun langsung ke masyarakat? Karena bagaimanapun mengeluarkan ide baru itu lebih mudah ketimbang menata perilaku dan turun langsung ke masyarakat. Hanya cukup dengan update status media sosial saja. (Fn)

Artikel Terkait

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker