Artikel

Ayah Yunani dan Abah Dahlan

Banner IDwebhost

Oleh: Heti Palestina Yunani

Laki-laki muda paling kanan itu pasti tak sulit dikenali. Ia Dahlan Iskan. Santun. Menekuk sebelah lengan. Sorot matanya cerdas. Menyala. Hingga kini. Ciri orang hebat.

Bergeser ke kanan. RM Yunani Prawiranegara. Almarhum ayah saya. Perokok sejak muda rupanya.

Foto ini lama saya tahan. Belum terunggah di mana pun. Hingga usia kepala empat. Salah satu alasan: menunggu terkonfirmasi pada Abah Dahlan.

Suatu hari di Disway News House, Abah mengetik. Dengan satu jari via gawai. Beranjak sejauh dua meja kerja menuju Abah, saya menunjukkan dokumen ini. Melihatnya, Abah kaget. Campur senang. “Wah aku minta. Kirim ke aku ya Nduk,” ujarnya.

Baca juga: Nyawa Rangkap Dahlan Iskan

Duduk bersama dalam forum, Abah bilang bahwa mereka sudah wartawan saat itu. Di Samarinda. Era 70-an.

“Ayahmulah guruku dalam jurnalistik. Tapi itu belakangan. Yang pertama, ia justru guruku dalam seni. Ayahmu yang mengajarkan membaca puisi dan bermain teater,” kata Abah.

“Kedua, ayahmu itu guru berorganisasi. Ia senior di PII. Yang men-training-ku ketika masuk PII,” lanjut Abah.

Sebagai senior di dunia jurnalistik -tutur Abah- ayahlah yang mendorongnya menjadi wartawan. Memberi tahu Abah tentang sebuah media nasional yang membutuhkan kontributor di Samarinda. Keduanya bahkan sempat bekerja di satu media.

Baca juga: Dahlan Iskan Bagikan Teori Bisnis Lewat Kisah Mahasiswa

Tentang guru jurnalistik, beberapa kali saya mendengar Abah mengakui itu di depan umum. Sekali -sesuai yang saya saksikan- diujarkan Abah dengan merangkul bahu ayah. Terakhir di depan awak Harian Disway dalam RUPS.

Sesama perantauan di Samarinda -ayah dari Ngawi dan Abah dari Magetan- keduanya pernah hidup “ngenger”. Di rumah seorang teman satu organisasi. Dia mau menampung dua laki-laki lajang dari Jawa tak berduit itu karena iba, barangkali. Hampir setahun lamanya.

“Belakangan teman kami itu naksir ayahmu. Hampir bertunangan dan menikah. Tapi entah kenapa enggak jadi ya. Kamu pernah dengar namanya kan?” papar Abah. Diakhiri tanya.

Saya pun menghubungkannya. Dengan seorang perempuan, tinggal di Yogyakarta. Bernama Wanti. Ayah pernah mengenalkannya pada saya. Kala berkunjung ke rumahnya bersama ibu dan adik sekitar 1991. “Nah iya itu benar namanya. Dia meninggal karena kanker,” ujar Abah.

Baca juga: Dahlan Iskan: Entrepreneur Sejati Tak Pernah Takut Hadapi Masalah

Tentang dua jurnalis bersahabat ini, saya melihat mereka “besar” dengan cara dan jalannya sendiri. Tak selalu sepakat. Tapi erat.

Kala ayah koma, terserang stroke pada 2009, Abah termasuk orang pertama yang membezuk. Bersama Umi Dahlan. Menatap sahabatnya itu hanya dari kaca. Usai operasi pendarahan otak.

“Ada satu hal yang menunjukkan hubungan dekat ayahmu denganku Nduk. Ini enggak ada di orang lain. Cuma ayahmu yang memanggilku ‘Dik Dahlan’. Aku memanggilnya ‘Mas Yun’,” ungkap penyintas Covid-19 itu.

Sekarang, ia bos saya. Plus abah pengganti ayah.

Selamat Hari Pers, Ayah.
Selamat Hari Pers, Abah.

Artikel Terkait

Back to top button