Banner IDwebhost
ArtikelFeatured

Keributan PAN Menjelang Kongres

Banner IDwebhost

Oleh : M Izzul Muslimin

Agak berbeda dengan partai-partai lain yang telah bermusyawarah menentukan kepemimpinannya, menjelang kongres PAN sepertinya ada dinamika atau boleh dibilang ‘keributan’ di internal PAN untuk menentukan siapa nahkoda PAN selanjutnya. Setidaknya ada dua kutub yang sama kuat antara yang ingin mempertahankan status quo dan yang menginginkan perubahan. Yang menarik, justru tokoh senior PAN Prof. Dr. M. Amien Rais (MAR) disinyalir cenderung berada dalam posisi yang menginginkan perubahan. Sementara sudah jadi pemahaman bersama, Zulkifli Hasan (ZH) yang saat ini menduduki posisi Ketua Umum DPP PAN dan ingin maju kembali adalah besan MAR. Keadaan ini tentu menjadi sorotan yang cukup menarik. Benarkah akan terjadi pecah kongsi antara MAR dengan ZH?

Satu sisi kita melihat bahwa keributan adalah gambaran sebuah organisasi yang tidak solid. Tetapi pada sisi lain kita bisa mengatakan bahwa itu justru menggambarkan dinamika dan masih adanya demokrasi dalam tubuh organisasi tersebut. Tentu kita menyayangkan jika semua Parpol di Indonesia justru tidak ada dinamikanya dan hanya didominasi oleh figur atau kelompok tertentu sehingga proses dialektika politik dan pelembagaan politik tidak berjalan dengan baik sehingga cenderung stagnan dan absolut. Tetapi kita juga tidak berharap jika parpol di Indonesia berada dalam kondisi pertengkaran dan perpecahan internal sehingga tidak bisa melakukan konsolidasi dan koordinasi secara sehat. Oleh karena itu kita justru mengharapkan adanya dinamika dan keributan di PAN saat ini adalah sebuah gambaran positif. Hal ini tentu bisa dikonfirmasi ketika setelah terjadi Kongres PAN mereka tetap utuh dan tidak mengalami perpecahan.

MAR adalah sosok politisi senior seangkatan dengan Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono, Prabowo Subianto, dan Wiranto. Mereka adalah para pemimpin politik yang muncul di awal-awal reformasi dan pernah memegang posisi puncak dan menentukan di sebuah partai politik. Mereka saat ini masih menjadi tokoh kunci di partainya masing-masing (kecuali Wiranto yang sudah kehilangan pengaruhnya di Partai Hanura). Bisa jadi saat ini adalah momen-momen krusial dimana mereka harus mulai melakukan estafeta kepemimpinan di tengah usia mereka yang telah merangkak lanjut. Meskipun MAR sudah tiga periode tidak lagi menjadi Ketua Umum PAN, namun pengaruhnya masih sangat terasa dan selalu menjadi king maker dalam setiap suksesi kepemimpinan PAN. Hubungan antara MAR dan ZH yang unik dalam polarisasi politik PAN sepertinya akan menjadi ujian bagi MAR maupun ZH untuk bisa tetap mempertahankan pengaruhnya di PAN tanpa harus menimbulkan perpecahan.

Perlu Poros Tengah?

Perbedaan sikap antara MAR dan ZH jika tidak bisa dikanalisasi dan dijembatani akan menimbulkan masalah besar bagi PAN. Jika misalnya ZH yang akhirnya menang dengan menimbulkan luka bagi MAR dan pengikutnya, maka tidak menutup kemungkinan terjadi perpecahan di PAN mengingat MAR adalah tokoh utama pendiri PAN yang masih punya banyak pengikut. Sebaliknya jika perubahan yang diharapkan MAR dan pendukungnya dengan meninggalkan kekecewaan bagi kubu ZH juga tidak menutup kemungkinan terjadi eksodus kader yang tidak sedikit dari PAN. Belum lagi jika masalah ini juga terbawa dalam konflik hubungan kekeluargaan antara MAR dan ZH.

Pilihan yang paling bijak adalah antara kubu MAR dan ZH harus bisa saling menahan diri dan saling kompromi. Politik jalan tengah atau poros tengah adalah pilihan paling tepat yang harus diambil. Masa depan PAN adalah taruhan paling besar yang harus mereka selamatkan. Keberadaan PAN tidak hanya dibutuhkan bagi internal warga PAN tetapi juga bagi kepentingan politik nasional. Saat ini PAN sangat dibutuhkan sebagai partai penyeimbang, di tengah kecenderungan pilihan politik partai yang ingin menempel pada kekuasaan. Wallahu a’lam.

Artikel Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker