BeritaFeatured

Inggris Jadi Negara Pertama Suntik Vaksin Virus COVID-19

Banner IDwebhost

Kanigoro.com – Inggris menjadi pertama di dunia yang gelar vaksinasi massal dari vaksin COVID-19. Selain itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins menyambut secara terbuka permintaan Indonesia untuk bergabung dengan Mekanisme Pasar Lanjutan COVAX.

“Selama pandemi, Inggris dan Indonesia telah berbicara dalam satu suara di komunitas internasional – menyimpulkan bahwa virus ini tidak mengenal batas negara atau kebangsaan, dan harus kita lawan. Kita memiliki tugas untuk merespon COVID-19 dalam upaya global demi menyelamatkan umat manusia, dan tidak ada negara yang bisa melakukannya sendiri. Kita semua harus bekerja sama untuk mengembangkan vaksin, perawatan, dan tes yang aman, efektif, dan terjangkau, serta dapat diproduksi dengan cepat dan tersedia untuk semua. Ini akan menyelamatkan nyawa dan membangun kembali ekonomi kita,” tulis Jenkins, Selasa (8/12) dalam pernyataannya yang diterima redaksi Kanigoro.com melalui British Embassy Jakarta.

Jenkins menjelaskan, vaksin, perawatan, dan tes hanya akan berdampak global jika menjangkau mereka yang membutuhkannya. COVAX, dan kolaborasi di bawah Mekanisme Pasar Lanjutan adalah harapan terbaik dunia untuk mengendalikan pandemi dengan menyatukan organisasi global demi mempercepat pengembangan, produksi, dan akses yang adil terhadap tes, perawatan, dan vaksin COVID-19.

“Fasilitas COVAX adalah aliansi negara dan mitra yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang mengumpulkan sumber daya untuk mempercepat penemuan, pembuatan, dan distribusi vaksin yang adil terhadap satu miliar orang. Permohonan Indonesia untuk bergabung dengan COVAX berarti Indonesia akan memiliki akses langsung ke ilmu pengetahuan global terbaik,” tulisnya.

Indonesia bergabung dengan 91 negara lain dalam komitmen pasar lanjutan. Artinya, Indonesia akan menerima vaksin antara 3 dan 20% populasi, tergantung pada seberapa banyak dan berapa banyak negara yang menyumbang ke Accelerator.

Inggris saat ini menyumbang 1/5 dari total dana global untuk vaksin, terapi dan tes melalui COVAX ACT-Accelerator – sejumlah $ 1 miliar (Rp 14 Triliun).

“Kami menyerukan negara lain untuk berkontribusi lebih banyak, guna membantu memastikan akses global terhadap inovasi yang bisa menyelamatkan nyawa manusia,” lanjutnya.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab dalam pernyataan tertulisnya mengatakan, “kami memiliki tugas untuk memastikan vaksin, perawatan, dan tes untuk Covid-19 tersedia untuk semua – menghentikan penyebaran pandemi global dan membawa umat manusia ke jalan menuju pemulihan. Kolaborasi di bawah ACT-Accelerator sangat penting untuk mendukung pengembangan, produksi dan akses untuk semua negara.”

Dominic Raab mencatat berita tentang vaksin pertama yang didistribusikan di Inggris ini adalah secercah cahaya di dalam suatu kegelapan Covid-19 yang cukup panjang.

“Kita harus realistis. Kita masih harus terus menunggu sedikit lama dalam mengambil tindakan pencegahan demi kesehatan, membatasi sosialisasi dan bersabar. Hari ini adalah langkah maju yang besar dalam perjuangan kita melawan virus corona. Memiliki vaksin yang efektif adalah cara terbaik untuk melindungi mereka yang paling rentan, menyelamatkan puluhan ribu nyawa,” terang Raab.

Raab juga menjelaskan, regulator obat independen Inggris, tim ilmuwan dan dokter terkenal MHRA menginformasikan bahwa vaksin Pfizer / BioNTech telah lulus uji kualitas, keamanan, dan efektivitas yang ketat dan dapat diberikan kepada orang-orang di Inggris.

“Ada pemeriksaan dan keseimbangan ekstensif yang diperlukan pada setiap tahap pengembangan vaksin, dan ini tidak berbeda untuk vaksin Covid-19. Tidak ada tahapan dalam proses pengembangan vaksin yang tidak dilewati, dan CEO MHRA telah menjelaskan bahwa sama sekali tidak ada jalur alternatif yang diambil dalam menyetujui vaksin Pfizer / BioNTech, semua harus melewati proses yang sudah ditetapkan,” tambahnya.

Komite Bersama Vaksinasi dan Imunisasi Inggris (JCVI) telah menyarankan agar vaksin pertama-tama diberikan kepada mereka yang tinggal di panti jompo berikut stafnya, diikuti oleh orang-orang yang berusia di atas 80 tahun dan pekerja kesehatan dan sosial, kemudian kepada penduduk lainnya dalam urutan usia dan risiko.

“Ini adalah momen pengharapan dan sebuah janji yang besar. Tapi kita semua harus terus bersabar, di Inggris dan Indonesia, dimanapun kita berada – mendistribusikan vaksin adalah upaya dan tantangan yang luar biasa. Sekarang bukan waktunya untuk melupakan fakta bahwa kita membutuhkan upaya global – karena tidak ada satu negara, dan tidak ada perusahaan farmasi, yang dapat melakukannya sendirian,” pungkasnya. (Fn)

Artikel Terkait

Back to top button