FeaturedJalan Pinggir

Berapa Buku yang Kita Koleksi?

Banner IDwebhost


Oleh: Sunano (Tim Kemediaan, Departemen Program Kemanusiaan ACT dan Pengurus KB PII Pusat)

Pada pertengahan 2010, sempat diadakan diskusi terbuka oleh Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta dengan pembicara Prof. Hyung-Jun Kim dari Korea Selatan. Dalam kesempatan diskusi saya gunakan untuk bertanya tentang resep kenapa Korea Selatan pada dekade 60-an jauh tertinggal dengan Indonesia karena dampak perang saudara dengan Korea Utara, sedangkan sekarang Indonesia malah jauh tertinggal dari Korea Selatan dalam segala hal. Bahkan Korea Selatan adalah negara penghasil title Ph.D terbanyak di dunia.

Jawab Prof Hyung sangat mengejutkan. Walaupun tidak semua resep kemajuan dijelaskan, tapi Beliau menjelaskan bahwa di Korea Selatan sampai sekarang tiap desa memiliki perpustakaan lengkap berkaitan dengan sejarah, kondisi sosial, ekonomi, politik desa dan potensi yang bisa dikembangkan masing-masing. Juga dilengkapi dengan buku-buku referensi yang lengkap dari manapun. Tradisi membaca memang sangat kuat di Korea Selatan dan itu ditradisikan.

Saya jadi ingat film Korea pada permulaan booming F-K yang ditayangkan di Indosiar adalah film ‘Jewel in the Palace’, kisah perempuan dengan obsesi belajar sangat tinggi, kehausan ilmu yang luar biasa sampai menjadi dokter bedah pertama Korea. Tokoh utama Jang Geum adalah prototipe perempuan tidak wajar, karena berani mencuri buku demi mengetahui kebenaran, dengan resiko di penjara bahkan sampai ancaman pembunuhan.

Di Indonesia, membaca adalah perlahan menjadi barang langka. Menurut data UNESCO tahun 2016, minat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat 60 dari 61. Minat baca orang Indonesia hanya berada di angka 0,001 persen. Jika diartikan, hanya terdapat 1 orang Indonesia dari 1000 orang Indonesia yang gemar membaca.

Baca juga: Cetakan Pertama Buku “Banjir Darah” Ludes dalam Hitungan Jam!

Anehnya, Indonesia menempati urutan keempat negara pengguna gawai (gadget) setelah China, India, dan Amerika. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Setiap hari, orang Indonesia bisa melihat gawai selama 9 jam. Ironis memang, dan mereka semua aktif di media sosial dengan kecerewetannya yang luar biasa. Mereka bisa mengomentari hal remeh dengan culas dan sakit kepala membaca hal yang serius.

Nah, mengenai buku, kalau toh banyak yang hobi membaca hanya untuk kebutuhan emosional. Hal ini menggejala sejak paruh 2005 saat dominasi non intelektual (baca: politik) memberangus tradisi berfikir anak muda kita. Kata salah satu dosen UIN Sunan Kalijaga, Andi Dermawan, Indonesia terkena tsunami politik, sampai semua orang latah ngomong itu. Dari professor sampai tukang nasgor aktif ngomong politik, tanpa dilandasi referensi yang kuat. Ya, akibatnya, budaya literasi tercerabut sampai ke akar.

Buku-buku yang populer salah satunya buku terakit kebutuhan emosional bisa dilihat dengan makin larisnya buku-buku motifasi, terapi spikologis, how to, tips, novel berbasis emosi, dan buku “mirip biografi”. Sedangkan buku-buku pemikiran, ilmiah yang berat dan tebal makin tidak diminati, kalau toh kalangan mahasiswa membutuhkan buku itu hanya untuk referensi kuliah yang dibaca sebentar saja. Sangat jarang, atau bisa dibilang langka sekali tiap rumah, desa, mahasiswa punya perpustakaan. Minimal menyimpan semua referensi kuliah. Entahlah apa yang mereka pelajari selama ini.

Baca juga: Survei: Dari Tidak Pernah Baca, Kini 71% Anak Baca 5-10 Buku Per Minggu di Taman Bacaan

Sementara para pemilik modal dan kalangan intelektual sekarang banyak memilih berinvestasi pada manusianya. Membangun human resources, dengan mendirikan sekolah. Setelah berdiri, sekolah itu berbiaya sangat mahal. Sementara investasi fisik dan butuh biaya operasional seperti perpustakaan tidak ada yang mendirikan. Saya kira inilah yang secara perlahan menghancurkan tradisi intelektual bangsa kita. Pendidikan yang baik adalah yang berbiaya mahal. Karena berbiaya mahal maka tiap orang tua dan siswa dipaksa memenuhi kebutuhan membayar. Caranya..? Terserah. Bagi yang tidak mampu, jangan berani-berani daftar sekolah unggulan.

Hal yang berbeda dengan founding father kita. Misalnya Muhammadiyah dan Taman Siswa pada awalnya mendirikan sekolah dengan gratis hanya untuk mencerdaskan bangsa. Tidak jarang guru, pemilik sekolah membanting tulang menutupi biaya operasional dengan menggadaikan barang pribadi atau meminta donor pada pengusaha. Yang penting generasi bangsa menjadi cerdas. Dan banyak pengusaha waktu itu mau membantu.

Baca juga: Catatan Hari Buku Sedunia: Sebuah Pengakuan

Pada tradisi NU, mendirikan pesantren dengan biaya seikhlasnya dari orang tua santri. Yang punya beras menyumbang beras, yang punya ketela disumbang ketela. Dan masing-masing ikhlas menerima. Masalah kualitas, jelas unggulan karena guru, kyai memiliki integritas dalam mendidik, mencerdaskan. Bangga jika murid, santri menjadi cerdas, walaupun tanpa digaji. Tradisi literasi pesantren NU yang mengacu pada pembelajaran berbasis buku berhasil mempertahankan sisa-sisa literasi Indonesia yang hampir remuk-redam. Sedangkan sekolah agama dan umum, bahkan tidak pernah ada pelajaran berbasis buku.

Kembali pada tradisi adanya perpustakaan desa di Korea Selatan. Di Indonesia, kayaknya hal yang hampir mustahil. Lihat saja, mana ada orang dengan kemampuan modal tinggi punya motivasi beramal dengan mendirikan perpustakaan. Jangankan akan menghasilkan cash back, malah tiap bulan kita dituntut mengeluarkan biaya operasional. Sampai-sampai pada paruh 2008, perpustakaan Hatta yang sangat lengkap terpaksa tutup. Semua buku disumbangkan ke UGM, tapi lacur, setengah buku yang disumbangkan berhasil dicuri.

Tradisi Dalam Islam

Ada contoh tradisi dalam sejarah Islam pada abad pertengahan yang sekarang sudah ditinggalkan. Pada zaman kekhalifahan Abbasiyah dikenal dengan kemajuan intelektual yang sangat tinggi. Waktu itu, setiap pengusaha punya obsesi dan berlomba-lomba dalam mendirikan perpustakaan. Di tiap kota berdiri perpustakaan megah dengan jutaan koleksi. Perpustakaan pribadi pengusaha mencapai ratusan ribu koleksi. Perlombaan antar pengusaha dan mengoleksi buku sampai-sampai tiap buku dihargai dengan seberat timbangan emas. Apakah itu buku terjemahan atau karangan sendiri.

Muhallab bin Abi Sur’ah, salah seorang Jenderal yang ternama dari Dinasti Abbasiyah pernah berpendapat bahwa untuk mencapai kemenangan dan kemerdekaan umat hendaklah jangan lupakan dua perkara, yaitu: persenjataan dan perpustakaan. Oleh karena itu pada suatu hari, tatkala anaknya hendak keluar berjalan-jalan, dinasehatkan ”jika hendak pergi ke pasar, janganlah menoleh kekanan dan kekiri, jangan berhenti, melainkan pada dua tempat, yaitu tempat orang menjual senjata dan pada tempat orang menjual buku.” “iza waqaftum fil aswaqi, fala taqifu illa ‘ala man jabi’us silaha au jabi’ul kutub”.

Abad ke-10 M adalah zaman keemasan dalam sejarah Spanyol dan Asbania. Masa pemerintahan khalifah ‘Abd al-Rahman III digantikan oleh Hakam II, bangsa yang mulanya terpecah belah, bersatu menuju kemajuan. Hakam II adalah pecinta ilmu pengetahuan yang tiada bandingannya. Diutus orang-orang membeli manuskrip kemana-mana, dan dalam istanannya terkumpul 400.000 naskah. Istananya penuh dengan pegawai perpustakaan, tukang salin dan tukang jilid. Dan sebagian besar koleksi sudah dibaca dengan memberikan catatan di dalamnya. Abdul Faradj, pengarang kitab Al-Aghani dihadiahi 1000 dinar untuk bisa memiliki naskah kitabnya.

Demikian, cerita Muslimin 10 abad yang lalu memandang tak ada amal yang ditinggikan lebih dari pada mendirikan gedung perpustakaan atau mewakafkan buku.

Zaman Belanda, terdapat beberapa perpustakaan seperti “bataviaasch Genootschap” dengan kekayaan kitab tidak kurang dari 200.000 jilid banyaknya. Sekarang hanya tersisa di institusi agama Katolik, seperi yang bisa dijadikan rujukan berburu buku di Perpustakaan Petra Surabaya, Perpustakaan Ignatius Yogyakarta, Perpustakaan Nasional. Pun jumlahnya sedikit sekali dibandingkan dengan perpustakaan Biblictheque Nationale di Paris yang lebih dari 4.500.000 jilid kitab. Perpustakaan umum di Leningrad kekayaannya mencapai 4.300.000 jilid kitab dan Congres Library di Washingthon tidak kurang dari 4.200.000 buku.

Amati saja, tiap film Hollywood, film Korea, Mandarin selalu tersedia buku di ruang tamu, kamar. Film apapun. Film Indonesia mana ada setting tempat nemampilkan rak buku.

Nah, pertanyaannya, berapa banyak buku yang kita koleksi..??

Artikel Terkait

Back to top button