Banner IDwebhost
Dunia Islam

Ir. H. Achmad Aprayoga Nurhono Msc: PII Mendidik Cita-Cita Besar Islam dalam Bingkai Persatuan NKRI

Banner IDwebhost

Kanigoro.com – “The Spirit/Soul of Higher Islamic Education and Leadership training taught by PII institution, it is really a rooted in constant sincerity to acquire meaningful knowledge, based on true purpose of education at the highest level according to the worldview of Islam and It’s Intellectual tradition, and genuine respect for scholars and positive contributions from all mazhab and civilizations, which in the contemporary context had been successfully realized at the struggle of PII glory history within the unity framework of Indonesian country, the NKRI”

Cita-cita Besar PII

Adalah sungguh tidak mudah untuk memahami makna sebenarnya akan realitas (al-haqiqi) dan kebenaran (al-haq) cita-cita besar (master idea) sebuah organisasi. Ini karena diperlukan kemampuan berpikir besar untuk dapat menangkap ide cita-cita besar tersebut. Peniruan dan pemalsuannya relatif mudah dikenal karena aspek luarannya yang mudah ditiru, dilihat secara fisik dibanding dengan yang cita-cita besar yang asli.

Berpikir di tingkat menengah biasanya hanya berpusat pada peristiwa, sedangkan berfikir kecil hanya membicarakan orang (Elleanor Roosevelt).

Berpikir besar atau hebat adalah ketika membicarakan tentang Tuhan (Prof.Dr. Zainiy Uthman).

Diskursus serius tentang sifat alami dan kualitas organisasi PII, terutama dalam proses pengenalan dan pembentukan jiwa kepemimpinan ideologis berasaskan pandangan alam Islam (Islamic worldview) sejatinya dapat dibangun pada kesatuan harmonis tiga hal penting, yaitu tokoh-tokoh pemimpinnya yang otoritatif (berwibawa), tokoh inspiratif pendirinya (inspiring scholars), dan kuatnya ide-ide (powerful ideas) cita-cita besar organisasi tersebut.

Rihlah intelektual dan spiritual ini, terutama ingin berbagi dalam proses pembentukan kepemimpinan kepribadian ideologis dalam bingkai pandangan hidup (worldview) Islam, mencoba menangkap secara garis besar makna-makna penting hasil didikan cita-cita besar PII, kaderisasi dan pelatihannya khususnya di Yogyakarta.

1. Rekruitmen Awal Kaderisasi PII Lewat Kegiatan Pecinta Alam

Di tahun 1974-1976, kami masuk SMA 1 -Teladan Yogyakarta, sekolah negeri yang sangat ketat dalam seleksi, banyak anak-anak pintar, dan terkenal sebagai salah satu sekolah menengah terbaik di Yogyakarta dengan “track record” hampir semua lulusanya dapat masuk ke Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia.

Di tahun itu kegiatan Pramuka khususnya “Pecinta Alam” dengan kegiatan mendaki gunung, Hiking, camping, dan setiap tahunnya “Napak Tilas Jalur Perjuangan Jenderal Sudirman” di Yogyakarta, sangatlah diminati banyak remaja, pelajar dan generasi muda pada umumnya. Di SMA-1 itupun didirikanlah organisasi “Pecinta Alam” dengan nama Teladan Hiking Association (THA), dimana saya pun sejak kelas 2 berpartisipasi dengan kegiatan mendaki berbagai gunung api di Jawa, seperti Merapi, Slamet Merbabu, Sumbing, Lawu dan Semeru.

Keaktifan saya di THA, rupanya mendapat perhatian khusus, dari saudara Choirul Jamhari (sekarang Dr.Choirul Jamhari, staf ahli Menteri Koperasi) salah satu aktivis Pramuka di SMU-1 yang tanpa diketahui ketika itu adalah aktivis kader PD PII Yogyakarta. Dia mengajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan pecinta alam yang bernuansa Islami, dan mendirikan “Muslim Pecinta Alam” (Muspala) yang dirintis oleh Pengurus Daerah (PD) PII Yogyakarta. Saya pun kemudian semakin terlibat di dalam kegiatan ini, yang mempunyai ciri ke-Islaman yang kental, seperti kegiatan Pecinta Alam dengan sholat berjama’ah, renungan suci ketika acara api unggun, dll. Karena kecintaan dengan keindahan alam Indonesia inilah, sayapun memilih kuliah di fakultas Teknik Geologi UGM di tahun 1977. Pada kegiatan Muspalapun tetap berpartisipasi, bahkan mulai memberikan pencerahan tentang gunung api yang dikaitkan dengan ayat-ayat Kauniyah dalam Al-Qur’an. Tanpa disadari mulailah tumbuh perlahan semangat untuk mengkaitkan ilmu pengetahuan umum dengan ilmu agama yang selanjutnya semakin diketahui adalah bagian dari kerangka proses Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer yang sangat penting dalam gerakan membangun kebangkitan peradaban Islam di Indonesia.

2. Pekan Perkenalan Anggota (PPA), Pengenalan Awal dengan Cita-Cita Besar Islam

Organisasi kader PII memulai rekruitmen resmi anggota barunya selama seminggu melalui kegiatan yang namanya “Pekan Perkenalan Anggota” (PPA). Saya pun yang masih di SMU kelas 2 di tahun 1976, diikutkan dalam acara PPA ini, dan mulailah awal pengenalan sejarah akan realitas dan ide cita-cita besar PII. Sejarah berdirinya PII, tujuannya dan tokoh-tokoh perjuangan dalam sejarah perjuangan persatuan umat Islam dalam bingkai NKRI secara umumpun mulai diperkenalkan. Yang berkesan, sebagai peserta, saya yang berasal dari Sekolah Menengah Umum, dirayu setengah dipaksa untuk memberikan pencerahan bagaimana membuat “Adaptor Listrik” sederhana, yang memang kebetulan diajarkan membuatnya di SMU-1 teladan ketika itu. Terkejut karena dipaksa, namun senang juga mengajarkannya ilmu yang diketahui, terutama pada pelajar-pelajar sekolah agama (Mualimin, Mualimat, Ponpes dan Sekolah Umum) dalam acara tersebut.

Mulailah tumbuh simpati dan kekaguman pada organisasi ini, yang “mampu menyatukan”, menjembatani kelompok masyarakat pelajar, remaja, generasi muda Islam dari sekolah umum dan agama, yang ternyata menjadi kekuatan fundamental sejarah dari latar belakang dan motivasi berdirinya PII, yaitu mempersatukan pelajar dari sekolah umum dan agama dengan slogan jenius terkenalnya “Meng-Intelektualkan Ulama, dan Meng-Ulamakan Intelektual”.

Dalam perspektif mikro-makro global perang pemikiran (“ghozful fikri”), latar belakang berdirinya PII tersebut, ternyata adalah wujud cerminan dari realitas dan kondisi makro konflik Islam versus Sekuler yang sengaja digerakkan oleh strategi penjajah Belanda dengan politik Kolonialisme, Kristenisasi dan Sekularismenya.

3. Pelatihan Awal Proses Pembentukan Kepemimpinan Ideologis Islam

Setelah ikut PPA, saya pun mulai aktif dalam ke-Pengurusan Komisariat (PK) Danurejan dan akhirnya naik dalam kepengurusan Daerah (PD) Yogyakarta. Mulailah saya diperkenalkan dengan konsep Training kaderisasi berjenjang PII lewat Training kepemimpinan : Basic, Intermediate (Mental Training, Pekan Perkampungan Pelajar), dan Advance (Leadership Advance Training). Pada level Basic Training 7 hari, kegiatannya penuh dalam lingkungan “Berasrama”, dengan kekuatan metode “Group Dynamic”. Alhamdulilah, kualitas potensial kepribadian kepemimpinan yang tersembunyi secara bertahap pun tumbuh subur dengan kuatnya. Kekuatan intelektual dan jiwa kepemimpinan berkembang pesat dalam suasana diskusi interaktif sehat yang memperlakukan peserta dengan saling hormat menghormati di bawah kerangka falsafah pendidikan orang dewasa yang Islami. Setelah mengikuti Basic dan Mental Training, potensi kepemimpinan saya pun mulai diarahkan dan dikembangkan melalui forum resmi latihan kepemimpinan demokratis Musyawarah Daerah, terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Daerah Yogyakarta (PD PII Kodya Yogya).

Selanjutnya mengikuti LAT, saya pun selama 4 tahun masuk dalam ke-pengurusan wilayah (PW) Yogyakarta Besar yang membawahi 18 PD di seluruh Wilayah Yogyakarta sampai Banyumas. Kompetensi dan kesenangan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), menghantarkan saya duduk di departemen Kader pada periode PW pertama yang dipimpin sahabat Rodjai, dan periode kedua PW saya terpilih menjadi Ketua bidang Ekstern menemani Ketua Umum Syafrudin Waskito. Dalam periode tersebut, dan setelahnya semakin aktif terlibat sebagai Instruktur berbagai tingkat mulai Basic, Intermediate, LAT Wilayah dan nasional, bahkan ikut memberikan pencerahan di berbagai tingkat Coaching Instruktur PW. Semua perjalanan Training di PII tersebut sungguh telah menjadi landasan utama untuk semakin memantapkan, mengokohkan dan mematangkan jiwa kepribadian kepemimpinan ideologis Islam kami.

4. Aktualisasi Jiwa kepemimpinan Islam di BUMN Bisnis Perminyakan

Kebanyakan alumni aktivis PII pasca kepengurusan PW atau PB, selanjutnya berkiprah di dunia politik, atau menjadi dosen di Perguruan Tinggi atau pengusaha (Enterpreneurship). Tidak seperti kebanyakan tersebut, kami memilih jalur menjadi teknokrat Muslim terjun di dunia bisnis MIGAS mengikuti latar belakang profesi sebagai Geologist dan Geophysicist. Di perusahaan kerja kedua, PT.Unocal Indonesia yang beroperasi di Balikpapan, semangat berdakwah hasil didikan training kepemimpinan PII untuk berani maju dengan semangat “Tandang ke Gelanggang Walaupun Seorang Diri” masih tetap berkobar. Dengan aktifnya di “Badan Dakwah Islamiyah” (BDI) Unocal, kami mulai mengembangkan dakwah di kompleks perumahan, dan mulai memperluas penguatan jaringan dakwah umat khususnya di pedesaan Kaltim. Puncaknya terjadi ketika kami menjadi Pimpinan BDI Unocal, gerakan mempersatukan kekuatan umat dengan program nyata mulai dikembangkan.

Program diskusi bersama lembaga BDI Pertamina, VICO, Total Indonesia, Cendekiawan-Ulama Balikpapan, berhasil merumuskan problem utama umat Islam Kaltim, yaitu Bahaya Kristenisasi Pedesaan, Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur’an, Pemberdayaan ZIS, Pemberdayaan Ekonomi, dan menyepakati berdirinya Yayasan Ar-Rahman untuk menjadi Pusat Pengelolahan Dakwah Pedesaan. Kami dipercayai duduk dalam tim staf inti jajaran Ketua Yayasan.

Melalui Yayasan Ar-Rahman Balikpapan inilah berdiri BPR Syari’ah Ibadurrahman di Penajam (10 tahun menjadi Komisaris Utama; BPRS ini didirikan bersamaan dengan berdirinya BMI Jakarta), Koperasi Islam, Pelayanan/Pengajian Haji, dan Ponpes Kuliyatul Mubalighin (KM), khusus bagi pemuda/i pedesaan yang dipersiapkan menjadi ustad & ustadzah selama 1 tahun. Alhamdulillah Ponpes masih berjalan dan sudah berumur lebih 22 tahun. Terakhir kali di bulan Juni 2016, kami datang dan memberikan pencerahan dan Pelatihan. Dengan pengalaman dan kompetensi sebagai intelektual teknokrat Islam, kami pun dipercaya menjadi penasehat Panglima Tanjung Pura Kaltim selama 10 tahun.

Di umur 40 tahunan, bersamaan dengan kesibukan kerja, setiap Sabtu Minggu sempat mengambil master program Reservoir Geofisika Perminyakan di Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Alhamdulilah, dengan karunia Allah SWT mendapatkan hasil dengan predikat terbaik di kelas tersebut.

5. Pengembangan Latihan kepemimpinan Berbasis Adab, dan Ta’dib.

Setelah bekerja selama lebih 20 tahun di dunia MIGAS Indonesia, Alhamdulillah saya pun mengambil pensiun dini (usia 49 tahun) bersamaan dengan datangnya tawaran Perusahaan Petronas Malaysia selama 8 tahun lebih sebagai Penasehat ahli dalam bidang Geophysicist dan Geoscientist. Tugas dan tanggung jawab utamanya adalah di samping me-“review” juga “endorsed” secara teknis semua pekerjaan Geophysicist perusahaan MIGAS yang beroperasi di Malaysia; Tugas lain adalah mendidik, dan mengajarkan tenaga muda Malaysia untuk dapat menjadi “Manager” muda dalam waktu 5-7 tahun ke depan. Strategi SDM dengan andalan Program “Accelerated Capability Development” (ACD) Petronas dijadikan kerangka acuan falsafah dan programnya. Alhamdulilah dengan Ilmu, pengalaman dan kompetensi kepemimpinan hasil didikan PII, telah mempermudah melaksanakan berbagai macam tugas dan tanggung jawab. Tidak terasa hampir 500 lebih proyek dapat diselesaikan dengan baik, sehingga diberi kesempatan untuk mempresentasikan makalah tingkat tinggi pada berbagai forum internasional di dalam dan luar Malaysia dan Qatar.

Di Malaysia melalui jasa ustadz Dr.Adian Husaini MA, sayapun diperkenalkan dengan Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud (Pendiri dan mantan Direktur CASIS UTM Malaysia) murid utama lapis pertama Prof.Dr. Al-Attas, pendiri ISTAC di Malaysia. Selama 8 tahun kami pun tidak pernah ketinggalan dengan program “Saturday Lecture Night”- nya yang terkenal dengan kuliah komprehensip tingkat dunia tentang gerakan Islamisasi Ilmu Pengetahuan kontemporer dan Peradaban Islam unggul. Kajian falsafah Islam Prof.Dr. al-Attas dalam kajian perbandingan Islamic worldview dengan worldview asing (Allien worldview) di luar Islam, dan kajian mendalam sejarah alam Melayu ini dalam rangka membangun kembali peradaban Islam al-fadhilah yang unggul, semakin dirasakan kaitan benang merahnya akan makna tingkat tinggi dari cita-cita tujuan berdirinya PII (Kesempurnaan Pendidikan dan Kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam bagi bangsa Indonesia dan umat manusia), melalui keharusan gerakan Islamisasi ilmu dan kebangkitan peradaban Islam dalam bingkai persatuan NKRI.

Konsep hilangnya adab (the loss of adab) dan pendidikan ta’dib (proses menyemaikan dan menanamkan adab dan akhlak mulia Islam) yang diajarkannya pun mulai kami dalami dan kembangkan di Indonesia menjadi kerangka acuan fondasi utama untuk jiwa Pelatihan Kepemimpinan untuk kader Umat dan Bangsa yang dikembangkan di perguruan tinggi, Pondok Pesantren, mesjid dan sekolah-sekolah umum termasuk di tingkat SD sampai SMU.

Hasil konkrit didikan dan kaderisasi intensif PII PW Yogyakarta Besar di atas, Subhanallah berkat karunia-Nya, telah menghantar kami sekarang menjadi Ustadz Teknokrat Muslim dan Konsultan Spesialis Reservoir Geophysicist Perminyakan, Tim inti Penulis “Buku dan Modul Pelatihan kepemimpinan untuk Kader Umat dan bangsa”, Motivator Leadership Nasional KB PII Pusat, Pengurus Pusat BksPPI (Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia) Divisi Pendidikan dan Training) dan Tim inti Pendiri dan Pengurus lembaga “Institut Risalah Peradaban”. (SS)

Artikel Terkait