Artikel

Ramadan, Sang Tamu Istimewa, Sudah Menjelang

Banner IDwebhost

Oleh: Sabrur R Soenardi*)

Ketika kita kecil dulu, atau setidaknya saya, ada nyanyian khas yang diajarkan oleh orangtua setiap menjelang bulan Ramadan. Saya hapal sekali dengan nyanyian tersebut, begitu juga anak-anak kampung yang sebaya dengan saya. Nyanyian tersebut bukan sekadar nyanyian, bukan sekadar irama dan lagu yang berbalut syair, tetapi mengandung wawasan dan pesan spesial yang terkait dengan keberadaan bulan puasa. Nyanyian itu berisi syair-syair simbolik, metaforis, yang di baliknya terkandung wawasan makna tentang keistimewaan bulan Ramadan serta bagaimana kita, sebagai Muslim, menyambut dan mengapresiasinya.

Nyanyian tersebut, menurut para orangtua kita, diciptakan oleh Sunan Kalijaga beratus tahun yang lalu. Beliau memang bukan saja kondang sebagai juru dakwah di Tanah Jawa, tetapi juga seorang seniman yang sangat bertalenta. Dalam berdakwah kepada masyarakat untuk memeluk Islam, Kanjeng Sunan menggunakan pendekatan kultural. Artinya, beliau memasukkan nilai-nilai keislaman melalui adat-istiadat, tradisi, budaya yang sudah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Jawa waktu itu. Dengan cara itulah dakwah Kanjeng Sunan dapat diterima dengan mudah, karena jika diubah secara langsung atau revolusioner jelas tidak mungkin dan akan menimbulkan resistensi di kalangan masyarakat, terutama mereka dari kalangan awam.

Nyanyian yang saya maksud adalah yang berjudul “Dayoh”, kurang lebih begitu. Yang jelas syairnya sebagai berikut: Eee, dayohe teka//Eee, gelarna klasa//Eee, klasane bedah//Eee, tambalen jadah//Eee, jadahe mambu//Eee, pakakna asu//Eee, asune mati//Eee, guangen kali//Eee, kaline banjir//Eee, ilekna pinggir//Eee, pinggire lunyu//Eee, yo golek sangu.

Memang, jika dicermati (setidaknya dalam kacamata awam), sekilas tata urutan syair-syair dalam nyanyian di atas serasa kurang sistematis, melompat kesana-kemari seakan-akan kurang ada korelasi satu sama lain. Meski demikian, sesungguhnya ada jalinan makna dan nilai filosofis yang sangat mendalam di balik metafor-metafor yang terbuncah dalam syair nyanyian tersebut. Semuanya mengandung makna dan pengertian yang menghunjam tentang Ramadan dan bagaimana kita menyikapinya.

Pertama, metafor “dayoh”. Kata Jawa “dayoh” ini berarti tamu. Ini merujuk pada bulan Ramadan, bulan puasa, yang oleh Nabi Saw sendiri dikatakan sebagai tamu, bukan sembarang tamu, melainkan tamu agung. “Dayohe teka”, berarti tamunya datang. Bulan Ramadan datang lagi setelah sebelas bulan sebelumnya meninggalkan kita. Ia tamu yang spesial, istimewa, karena kedatangannya sudah pasti, yakni setiap bulan ke 9 dalam kalender hijriah, serta membawa rahmat, berkah, dan ampunan kepada orang-orang yang berpuasa, selain juga menjanjikan malam Lailatul Qadar, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (83 tahun).

Kedua, metafor “klasa” atau tikar. Tikar ini adalah metafor tentang diri kita sendiri selaku Muslim. Kita harus menggelar tikar demi menyambut tamu kita, artinya bahwa kita musti menyiapkan diri secara fisik dan mental, secara lahir dan batin, untuk memasuki bulan Ramadan, agar bisa mengisinya dengan ibadah yang maksimal. “Klasane bedah”, mengandung arti bahwa ibarat tikar, diri kita ini adalah tikar yang robek, yakni bahwa selama sebelas bulan sebelumnya kita lebih banyak menuruti setan dan hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari, banyak berbuat maksiat, sehingga dosa kita begitu banyak.

Ketiga, metafor “jadah”. Ini adalah sejenis makanan khas Jawa yang terbuat dari bahan ketan. Tetapi konon, dalam khazanah Islam Jawa, kata ini secara generik disenyawakan dengan kata Arab, jadda-yajuddu-jaddan, yang artinya bersungguh-sungguh. Ketika dikatakan bahwa “klasa bedah” (diri yang penuh dosa) itu harus ditambal dengan “jadah”, maka itu mengandung makna bahwa penyucian atas dosa-dosa kita harus melalui upaya lelaku atau riyadah batin, ibadah, yang sungguh-sungguh. Lelaku atau riyadah batin yang dimaksud itu tidak lain adalah ibadah khusus selama bulan Ramadan, yakni puasa, yang dilakukan dengan penuh rasa iman dan berharap pahala dari Allah. Makna ini sejalan dengan hadis Nabi, bahwa puasa Ramadan akan menghapus dosa-dosa selama sebelas bulan sebelumnya.

Keempat, metafor “asu” atau anjing. Kata anjing di sini musti dibagankan ke dalam lanskap kewalian Kanjeng Sunan Kalijaga. Dalam kapasitasnya sebagai seorang sufi, seorang wali, ketika beliau menggunakan kata asu atau anjing, maka itu berarti merujuk ke hawa nafsu atau ego (Arab: nafs). Dalam khazanah sufistik, hawa nafsu atau kedirian (ego) secara umum memang disimbolkan dengan seekor anjing, dan terutama anjing hitam. Bagi para pengkaji tasawuf, khususnya mistisisme ekstatis ala Hallajian (Husain Ibn Manshur), tentu tidak asing dengan wawasan ini. “Jadahe mambu, pakakna asu, asune mati”, jadah basi dijadikan makanan buat anjing, sehingga anjing itu mati, mengandung piwulang bahwa lelaku atau riyadah batin itu, yakni puasa, dilakukan dalam menggembleng diri, memenej hawa nafsu, agar tidak liar dan bebas tanpa kendali. Hatta sang anjing mati (asune mati), artinya proses itu (puasa) bisa sampai pada taraf menyapih sang nafsu, sehingga kita (Muslim yang berpuasa) bukan lagi menjadi manusia yang diperbudak oleh nafsu, melainkan justru kita sebagai tuannya, yang bisa mengatur hawa nafsu kita sesuai kehendak dan kemauan kita sendiri. Nafsu itu terutama menyangkut perut, indera, dan seks.

Kelima, metafor “kali” atau sungai. Jika kata asu (anjing) tadi identik dengan wacana tasawuf, maka kata kali (sungai) lebih mengkonotasi pada khazanah fikih atau syariah. Secara kebahasaan, syariah sering diartikan sebagai jalan, bisa juga sebagai sungai yang airnya mengalir. Ketika kita merunut sungai tersebut, dengan sebuah perahu, misalnya, ia akan mengantarkan kita kepada tujuan. Begitupun syariah atau tata aturan Islam, jika kita mengikutinya dengan baik, ia akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. “Asune mati, guangen kali” (sang anjing mati, buang ke sungai), mengandung makna bahwa tidak hanya cukup dengan ibadah wajib puasa saja upaya penggemblengan diri, penundukan nafsu, itu dijalankan, namun juga melalui ibadah-ibadah sunnah lainnya sesuai tuntunan syariah yang diteladankan oleh Nabi Saw. Banyak sekali amalan sunnah khas Ramadan, misalnya: salat taraweh (tahajud, witir), tadarus, bersedekah, dan iktikaf.

Keenam, metafor “banjir” dan “pinggir”. Disebutkan dalam syair nyanyian tersebut tentang sungai yang banjir (kaline banjir), dengan kata lain bahwa aliran sungainya sangat deras. Ini mengandung makna, bahwa bagi kalangan awam, rangkaian ibadah selama bulan Ramadan, baik itu yang wajib (puasa) maupun yang sunnah (tadarus, taraweh, sedekah, iktikaf, dll) tentu merupakan hal yang memberatkan jika harus menjalankan semuanya dalam intensitas dan volume yang tinggi. Jika ibadah-ibadah tersebut diibaratkan sebuah sungai, maka ia tak ubahnya sungai yang banjir, sehingga tidak setiap orang bisa kuat menjalaninya. Namun, sesuatu yang tidak bisa kita jumput semuanya bukanlah berarti kita tinggalkan semuanya (ma la yudraku kulluh, la yutraku kulluh), begitulah kaidah fikih (legal maxims) Islam menegaskan. Maka dalam syair itu diberi jalan keluar, “ilekna pinggir”, alirkan di tepian, yang kurang lebih memuat maksud, bahwa jika kita tidak sanggup untuk beribadah secara maksimal di bulan Ramadan (terutama secara kwantitas), maka harus ada target minimal. Jika tidak semua sunnahnya bisa kita wujudkan, tentu saja pasti ada sedikit yang bisa kita lakukan, sesuai dengan kemampuan kita. Jika yang sunnah-sunnah itu sama sekali tidak bisa kita lakukan, maka minimal jangan sampai yang wajib, yakni puasa itu sendiri, kita tinggalkan. Jika hanya itu yang bisa kita lakukan, mau bilang apa lagi. Nabi mengajarkan, ittaqu Allah ma istatha’tum, “bertakwahlah kepada Allah sesuai dengan kadar kemampuan kalian masing-masing.”
Namun, dengan amalan-amalan semampu dan sekuat kita itu (bukan berarti seadarnya), syukur yang sunnah atau minimal yang wajib (baca: puasa), kita memiliki modal dan berhak meraih derajat al-muttaqun (orang-orang yang bertakwa).

Ketujuh, yang terakhir, metafor “sangu”, atau bekal. Inilah inti dan terakhir dari pesan dalam nyanyian tersebut, di mana Kanjeng Sunan ingin mensingkronkan antara QS Albaqarah: 183 dan Albaqarah: 197. Nyanyian itu mengingatkan kita, agar setiap datang bulan Ramadan, kita bisa mengambil bekal, yakni (setidaknya) puasa. Puasa adalah salah satu ibadah yang akan mengantar kita untuk gapai derajat al-muttaqun, orang-orang yang bertakwa (QS Albaqarah: 183). Takwa itulah yang akan menjadi bekal kita menghadap Allah, sebab takwa adalah sebaik-baik bekal: watazawwadu fa-inna khaira al-zad al-taqwa, “… persiapkanlah bekal, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (QS Albaqarah: 197). Wallahu a’lam.(*)

*) Penulis adalah alumnus PPs UIN Sunan Kalijaga dan Eksponen PII Yogyakarta

Artikel Terkait

Back to top button