Banner IDwebhost
Dunia IslamFeatured

Menumbuhkan Waqfpreneur

Banner IDwebhost

Oleh: As’ad Nugroho (Wakil Ketua Umum PP KBPII)

Wakaf merupakan salah satu bentuk filantropi dalam Islam yang praktiknya sudah ada sejak masa Rasulullah dan terus berkembang hingga saat ini. Dalam sejarahnya praktik ini terbukti telah dapat menyejahterakan umat dan juga menegakkan pemerintahan dengan kemakmuran dan kemandirian ekonomi umat/bangsa. Hal ini tidak terlepas dari besarnya potensi wakaf dari masa ke masa.

Di Indonesia, berdasarkan data Badan Wakaf Indonesia (BWI) potensi aset wakaf per tahun mencapai Rp 2.000 triliun dengan luas tanah wakaf mencapai 420 ribu hektare. Sementara potensi wakaf uang bisa menembus kisaran Rp 188 triliun per tahun. Sedangkan potensi wakaf yang terealisasi baru Rp 400 miliar. Sementara data dari Kementerian Agama tercatat jumlah luas tanah wakaf mencapai 161.579 hektare yang tersebar di 366.595 lokasi (Republika, 30 September 2019).

Perwakafan di Indonesia telah terjadi percepatan signifikan sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Dengan UU Wakaf ini terjadi transformasi pengelolaan wakaf menjadi lebih terstruktur dan masif. Undang-undang ini termasuk mengamanahkan pembentukan Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai lembaga independen untuk pengembangan wakaf di Indonesia.

Untuk merealisasikan besarnya potensi wakaf ini maka perlu terobosan dalam pengelolaan wakaf di Indonesia, salah satunya dalam hal budaya berwakaf. Perlunya didorong perubahan budaya pengelolaan dan budaya berwakaf. Dengan demikian ada dua pihak yang harus didorong untuk melakukan transformasi budaya, yaitu pengelola (nazhir) dan wakif/potensial wakifnya. 

Baca juga: Wakaf sebagai Solusi Bencana

Dari sisi wakif, dalam hal ini dapat berlaku sebagai “investor” atau konsumen produk/proyek wakaf yang ditawarkan. Oleh karena itu, kita perlu mengedukasi wakif dan potensial wakif untuk memilih proyek yang bermanfaat bagi kalangan yang lebih luas dan berdurasi jangka panjang. Dengan demikian akumulasi manfaat yang didapatkan juga akan jauh lebih banyak.

Pada sisi nazhir juga perlu ada terobosan budaya. Di dalam UU Wakaf disebutkan bahwa nazhir dapat berupa perseorangan, organisasi, maupun badan hukum. Pada setiap jenis nazhir tersebut dengan sendirinya terdapat individu-individu yang menjalankan fungsi pengelolaan harta wakaf. Dari sisi nazhir perlu lebih mengedepankan inovasi dan mengadopsi pola-pola entrepreneurship dan intrapreneurship dalam menjalankan “bisnis” wakaf ini. Dengan kata lain para nazhir perlu berubah dan tumbuh menjadi waqfpreneur.

Untuk menjalankan fungsinya, nazhir perlu memupuk profesionalisme dan menjalankan urusannya secara lebih “business-like”, dengan tidak meninggalkan nuansa lillahi ta’ala. Keseimbangan akan dua rasa tersebut dalam menjalankan tugas sebagai nazhir ini perlu dijaga untuk kesuksesan mengemban amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia-akhirat ini.

Baca juga: Pondok Pesantren Alquraniy Azzadiy Laweyan akan Dirikan Bank Wakaf Mikro

Dalam urusan business-like, maka mengedepankan sustainability dalam setiap pengelolaan harta wakaf menjadi sangat penting. Nazhir harus bisa menampilkan “business plan” yang dapat meyakinkan “pasar”, sekaligus benar-benar dapat menjadi acuan dalam menjalankan pengelolaan harta wakaf dalam jangka panjang.

Agar menampilkan kinerja yang cemerlang, salah satunya harus memperbaiki performa profesi nazhir. Saat ini profesi nazhir belum begitu populer di Indonesia. Profesi ini belum sepopuler bankir syariah, pengacara muslim, entrepreneur, dan berbagai profesi lain yang lebih dulu digeluti. Padahal secara motif, semuanya hampir sama yaitu untuk menebar kebaikan sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi sesama dan bagi diri sendiri. 

Oleh karena itu menjadi tugas bersama untuk dapat menampilkan sosok profesi nazhir yang lebih “keren” dan dapat menghasilkan nilai ekonomi yang memadai. Tentu saja hal ini perlu dibarengi dengan kinerja nazhir yang sangat baik dan memberikan value yang besar untuk menggerakkan ekonomi umat dan bangsa dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Salah satu yang bisa dilakukan, berkaca pada berkembangnya entrepreneur di Indonesia dan dunia, diantaranya adalah dengan membuat prototype nazhir unggul. BWI, beserta institusi yang mendukung perkembangan wakaf di Indonesia perlu mencari talent di bidang nazhir dan mempromosikan keberadaanya secara positif dan berskala luas. 

Baca juga: Bank Wakaf sebagai Instrumen Pengentasan Kemiskinan

Dalam rangka mempromosikan profesi nazhir ini juga dapat dilakukan edukasi dan pendampingan untuk menciptakan champion-champion nazhir. Selain dari institusi besar, para champion ini dapat ditumbuhkan dari para milenial yang seringkali minat dan kemapuan untuk melakukan inovasinya sangat besar. 

Dengan tumbuhnya waqfpreneur dari kalangan milenial ini juga akan dapat mendekatkan wakaf kepada para milenial dan keluarga muda, yang potensi ekonominya terus berkembang. Diharapkan target-target pengembangan wakaf nasional dapat dikontribusikan dari pangsa ini. 

Dengan merangkul milenial ke dalam dunia perwakafan ini, maka akan dapat menumbuhkan kesadaran wakaf sejak awal dan booming wakaf di Indonesia akan dapat dirasakan tidak lama lagi. Salah satu tantangannya adalah membuat wakaf ini menarik dan menantang untuk dapat melibatkan mereka lebih awal, lebih dalam, dan dapat mengakomodir berbagai cara serta kebiasaan mereka tanpa meninggalkan hal yang bersifat syar’i. (Fn)

Artikel Terkait