Banner IDwebhost
Artikel

Tak Ada Krisis Tahun Ini? Semoga!

Banner IDwebhost

Oleh: Faldo Maldini – (Wasekjen PAN)

Dugaan persekusi #2019GantiPresiden dan Asian Games membuat masyarakat kehabisan tenaga mengikuti isu-isu yang lebih fundamental. Saya apresiasi kemahiran Istana. Medan merdeka berpesta, rupiah makin menderita. Semoga #TakAdaKrisisTahunIni

Ekonom ketakutan untuk kasih pendapat. Kalau bilang ekonomi kacau, pelaku usaha panik, terus analis-analis itu pasti di-bully pendukung pemerintah. Kalau tidak bilang buruk, semuanya sudah terasa semakin sulit. Dilematis!

Setelah momen Asian Games 2018 semoga semuanya baik-baik saja, jangan sampai kayak Yunani setelah menjadi tuan rumah Olimpiade. Negaranya bangkrut, tak kuasa menghadang krisis yang datang seperti ajal.

Rupiah makin tidak berdaya, mata uang terlemah di Asia Tenggara. Peso Filipina pun lebih perkasa. Kita tidak usah bicara dulu soal Ringgit Malaysia atau SinD yang nilainya jauh lebih baik. Apa kita harus percaya begitu saja semua baik tidak ada apa-apa?

Apa dampaknya rupiah melemah? Industri lokal yang andalkan bahan baku impor pasti akan tumbang. Mereka harus beli kebutuhan produksi dengan harga selangit, apalagi kalau bergantung pada penjualan di pasar dalam negeri, pastinya aktivitas ekonomi semakin lesu.

Tidak hanya swasta, perusahaan-perusahaan plat merah juga jadi korban. Belum koar-koar soal 35000MW tercapai, PLN sudah terlilit utang akibat selisih kurs. Rugi bersih 5.35T harus ditanggung selama semester I, dibanding tahun sebelumnya 2.03T. Naiknya lebih dari 2X.

Pinjaman negara dan swasta pun akan dialokasikan untuk bayar utang. Semakin melemahnya rupiah, utang juga makin mencekik. Belum pernah rupiah mencapai angka ini sejak krisis ekonomi 1998.

Defisit transaksi berjalan Indonesia juga sudah mencapai angka $8M yang mana tahun sebelumnya $5.7M. Kita sangat tergantung pada modal asing untuk impor. Kalau angka ini di akhir tahun tembus $25M, rupiah tidak akan terselamatkan. Tetap di Rp 15000/$ sudah mujur.

Beda dengan negara seperti Malaysia, Korsel, atau Jepang. Mereka punya utang besar kepada rakyatnya sendiri. Jika bunga obligasi naik, uangnya tetap beredar di rakyat sendiri. Sementara, obligasi kita dikuasai asing sebanyak 40%. Ini yang terburuk di Asia.

Pembangunan yang dilakukan oleh Indonesia ditutupi oleh surat-surat utang yang dikuasai asing. Ini adalah rezim yang sangat neolib dalam kebijakan, namun punya perangkat PR yang sangat populis. Bayangkan, berapa bunga obligasi yang harus dibayarkan pemerintah.

Walaupun masih dalam batas wajar, devisa kita terus menukik. Sejak awal tahun, sudah terpakai $14M. Kebijakan pembatasan impor pun sudah terlambat dan tidak strategis. Indonesia butuh menaikan devisa tahun ini di atas $25M, agar rupiah tidak makin jatuh. Ini berat.

Pelemahan ini adalah bukti infrastruktur yang dibanggakan selama ini tidak berpengaruh terhadap penguatan fundamental ekonomi atau peningkatan devisa. Jadi siapa yang paling diuntungkan oleh pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah?

Jelas bukan saya, karena saya tidak punya tanah ratusan hektar di sekitar jalan Tol atau jalur-jalur yang sudah dibangun. Supir truk logistik juga tidak mau lewat jalan Tol karena biayanya mahal. Gejala ini juga dijelaskan dalam buku Uda Andrinof Chaniago.

Jadi siapa yang paling menangguk untung dari melemahnya rupiah ini? Tentunya, yang barangnya lebih mudah terjual dengan rupiah yang melemah. Orang yang bisa produksi semuanya pakai rupiah dan jualnya pakai dollar. Saya yakin makhluk tipe ini banyak di lingkar kuasa.

Industri gagal total berkembang. Yang ada, mereka angkat kaki karena fundamental ekonomi dan devisa kita tidak meyakinkan. Saatnya, pemerintah berpikir sesuatu yang bisa mengurangi rasa sakit negara ini, bukan hanya soal gimmick elektabilitas.

Defisit berbagai bidang harus ditekan. Pemerintah yang berani siap kehilangan dukungan untuk dampak jangka panjang. Negara butuh naikan tarif listrik, bbm, dsb. Agar tidak semakin banyak rugi yang ditanggung oleh generasi penerus.

Tetapi kalau orientasinya hanya kekuasaan, tetap lah bikin rakyat dalam ilusi, pasti penguasa akan terpilih lagi. Kesalahan managemen negara dari awal, berdampak kebijakan tidak populer lebih dibutuhkan. Kalau tidak, devisa akan jeblok, hutang makin banyak, dan rupiah lemah.

Sebagai pemimpin yang dicintai rakyat, ini adalah saatnya Pak Jokowi menguji kecintaan pendukungnya. Apakah mereka benar-benar secinta itu? Kalau tarif dinaikan demi kepentingan yang besar, harusnya mereka paham kondisi Bapak. Kalau tidak terpilih lagi, ya anggap saja garis tangan.

Semoga Tak ada krisis tahun ini, apakah netizen mau iuran untuk bantu pemerintah.

 

Via
Faldo Maldini

Artikel Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker