Banner IDwebhost
Jalan Pinggir

Kerancuan dalam Berorganisasi

Banner IDwebhost


Oleh : Agung Hidayat (Mahasiswa S1 Jurusan Filsafat Universitas Paramadina Jakarta dan Koorwil Brigade PII Jakarta)

Dalam Falsafah Gerakan dan Khittah Perjuangan telah ditegaskan bahwa PII adalah organisasi yang bertujuan, “kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam …”, selain itu juga bercita-cita menegakkan kejayaan Islam bagi umat Islam. Artinya, PII berlabuh jelas muaranya. Tetapi, apakah kejelasan muara itu berbanding lurus dengan kejelasan pergerakannya?

Hal ini berkaitan erat dengan kerapian sebuah organisasi. Tujuan organisasi, biarpun baik maupun buruk, dengan pengorganisasian yang rapi akan dapat mencapai tujuannya. Tujuan baik maka akan mendapatkan kemuliaan, sebaliknya tujuan buruk dapat mencelekai orang lain. Sebaliknya, tujuan baik apabila tidak memiliki kerapian dapat membuat tuan tidak tercapai. Maka, tugas kita dalam situasi sekarang ini adalah untuk menguatkan kembali pondasi organisasi, memperjelas arah gerakan ke depan, memperjelas batas antara hak dan kewajiban pengurus organisasi.

Perlu disampaikan bahwa kerancuan-kerancuan di dalam pergerakan mendekatkan kita kepada nilai keserampangan. Kalau tidak ada aturan main dalam berlembaga atau katakanlah ada aturan mainnya tapi tidak dilaksanakan. Maka hal itu membuat PII terlihat seperti ‘organisasi yang ugal-ugalan’.

Perihal Marwah dan Wibawa serta Kerancuan dalam Berorganisasi
Perihal marwah dan wibawa akan ditolak mentah-mentah oleh pihak yang mengatasnamakan dirinya ‘egaliter dan bebas’ tidak perlu dirisaukan. Marwah kelembagaan tetap mesti kita bangkitkan serta menjaganya baik-baik dengan tidak merendahkan aturan main. Seseorang yang mengalami krisis kewibawaan bukan hanya tidak akan dipertimbangkan oleh dunia luar, tetapi juga oleh internalnya sendiri.

Permisalannya, kita sadari bahwa semua manusia memiliki potensi untuk menjadi mahluk berkualitas. Allah SWT telah menanamkan potensi itu dan menetapkan aturan main dalam berkehidupan. Tetapi sebagian memilih menjadi ‘manusia sampah’ karena ketidakberaniannya menjalankan aturan main serta tak-siap atas konsekuensinya.

Kini, berbagai gagasan muncul ke muka demi menjawab tantangan PII. Saya katakan bahwa dari berbagai gagasan itu ada yang brilian dan canggih, tetapi ada pula yang rancu. Misalnya, sebagian mengatakan bahwa ‘berdata’ menjadi hal penting saat ini guna menjalankan asas ‘velox et excatus’ (kecepatan dan ketepatan) dalam mengambil keputusan dalam merespon kondisi eksternal. Sementara itu, sebagian organisatoris yang berpikir amat serampangan berpendapat PII harus lihai bermain dengan penguasa guna menyerap kekuatannya.

Pendapat pertama benar, terlebih bila dikaitkan dengan kondisi saat ini yang serba digital dan serba cepat. Saya melihat gagasan pertama yang mengemuka itu merupakan bentuk kekhawatiran, antara PII yang konvensional dan dunia yang sangat dinamis. Anthony Giddens, pemikir asal Inggris, mengatakan, bahwa dunia kita adalah dunia yang tunggang langgang atau “runaway world”. Siapa yang tak siap ikut berlari, pasti akan tertinggal.

Apakah gagasan yang muncul itu benar-benar di gali dari hakikat persolan PII? atau justru kita hanya tenggelam dalam samudera dialektika dan perdebatan tentang seputar metode untuk mengatasi persoalan PII yang sebenarnya malah menjauhkan kita dari mengkaji hakikat persoalan? Sementara ‘berdata’ tidak berarti apa-apa jika pihak organisatoris bergerak serampangan dan tidak menghormati aturan main.

PII bangkit dan tumbuh dalam waktu. Jangan sampai waktu sendiri yang menikamnya. (Fn)

Artikel Terkait

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker