Banner IDwebhost
Jalan Pinggir

Dampak Covid-19: Keadilan Pendididkan Indonesia di Tengah tekanan Sistem Pembelajaran Daring

Banner IDwebhost

Oleh: Masykur, S.Si (Ketua Umum PW PII Papua Barat 2017-2019)

Penghujung tahun 2019 dunia dihebohkan dengan munculnya wabah Corona Virus disease 2019 (Covid-19) dan ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai pandemic global (allizan.co.id). Bermula dari negeri panda ini tepatnya di kota wuhan yang merupakan pusat penyebaran wabah covid-19 hingga ke seluruh penjuru dunia dari Barat hingga Timur tak luput dari penyebaran wabah ini, begitupun dengan Indonesia.

Indonesia yang merupakan negara dengan daerah tropis tak luput dari serang Covid-19 melalui interaksi social. Kita tahu bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang menjalin hubungan dagang dengan China, beberapa Investor asing yang membangun perusahaan-perusahaan terutama didaerah timur Indonesia mayoritas berasal dari china. Akses keluar-masuk para WNA dari China dan negara lainnya membuat Indonesia menjadi sasaran empuk bagi penyebaran Covid-19.

Masuknya Covid-19 di Indonesia sejak Februari 2020 bermula dari WNA asal Jepang yang bersentuhan langsung dengan WNI yang berprofesi sebagai guru dansa (Merdeka.com). Untuk memutus mata rantai virus tersebut Pemerintah mengambil kebijakan Sosial Distaancing dan Psikilan Distancing atau pembatasan ruang-ruang publik. Aktivitas-aktivitas yang melibatkan pertemuan banyak orang terpaksa harus diberhentikan, karyawan-karyawan ataupun staf-staf pemerintahan dengan terpaksa harus diliburkan dari aktivitas di kantor dan menggantinya dengan aktivitas di rumah menggunakan alternatif jaringan internet (Daring) begitupun dengan dunia pendidikan.

Dalam kondisi bagaimanpun yang sedang melanda negeri ini, kebutuhan akan pendidikan haruslah tetap terpenuhi. meskipun sekolah-sekolah dan Perguruan tinggi terpaksa diliburkan, proses belajar tetap berjalan dengan mengganti kelas-kelas belajar berada di rumah masing-masing.

Aktivitas belajar – mengajar yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka dikelas, kini semua berubah drastis dimana ativitas belajar-mengajar melalui system dalam jaringan(Daring). Inilah salah satu alternative yang bisa dilakukan pada masa pandemic saat ini, dimana aktivitas diluar sangat dilarang dan mengharuskan stay at home. Ternyata menggantikan pembelajaran di rumah dengan system daring menuai banyak persoalan, mulai dari tugas-tugas yang diberikan, keluhan orang tua yang sulit mengajarkan anak-anaknya, sampai pada persoalan jaringan internet yang digunakan untu pembelajaran sistem daring.

Belum meratanya akses internet diseluruh daerah dinegeri ini, perlu menjadi perhatian penuh bagi pemerintah terutama menteri pendidikan dalam memberikan kebijakan pembelajaran dengan system daring. Mengakses pendidikan adalah hak setiap anak bangsa Indonesia, maka tidak ada masa libur belajar meskipun dalam kondisi pandemic sekaligus. Dengan melihat situasi saat ini seakan-akan kita mundur kembali 100 tahun kebelakang, dimana aktivitas manusia sulit untuk berkembang.

Momentum Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) pada tanggal 2 mei 2020 tahun ini tentu sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak adalagi peringatan-peringatan hardiknas dengan upacara bendera ataupun perlombaan-perlombaan di sekolah-sekolah, semua masih dalam situasi yang sama. Maka ini menjadi refleksi bagi kita bersama sudah sejauh mana pendidikan kita melangkah, terutama di masapandemik ini. Dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian ini menuntuk kita untuk berfikir cepat mencari solusi alternatif untuk tetap meningkatkan pendidikan kita. Masih banyak daerah-daerah tertinggal yang belum merasakan akses pendidikan secara merata, persoalan inipun harus menjadi pemikiran kita bersama.

Dalam menangani persoalan ini, pemerintah melalui kementerian pendidikan tidak dapat bekerja sendiri. Pemerintah harus menggandeng lembaga-lembaga yang peduli pada persoalan pendidikan untuk menanganinya bersama-sama.

Dalam momentum Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (HARBA PII) Ke-73 ini, PII merupakan salah satu organisasi yang bergerak pada pembinaan pelajar selayaknya menjadi mitra strategis bersama pemerintah dan lembaga pendidikan lainnya bersama-sama mencari solusi bersama untuk menuntaskan persoalan yang sedang kita hadapi ini.

Solusi alternatif yang memungkinkan saat ini dilaksankan adalah melakukan Pemetaan Daerah dan Pemetaan Anggaran dengan penjelasan sebagai berikut:
Pertama, pemerintah telah menentukan daerah-daerah yang masuk pada kategori zona merah, kuning dan hijau. Pemetaan daerah disini yaitu memetakan daerah-daerah yang berdampak Covid-19 berdasarkan Zonasi Daerah. Daerah-daerah yang dianggap sebagai zona aman (Zona Hijau), sebaiknya proses pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dikelas namun tetap menjaga prokoler kesehatan seperti memberikan batasan jumlah dalam kelas, membaginya dan mengatur jarak tempat duduk siswa/mahasiswa sebagaimana yang coba diterapkan dibeberapa negara. Selanjutnya menutup akses masyarakat yang datang dari zona merah.

Kedua, pemetaan anggaran yaitu pengalokasian dana pendidikan untuk system daring, hal ini diprioritaskan bagi daerah-daerah yang dikategorikan sebagai daerah zona merah. Dana tersebut bisa saja digunakan untuk pembelian dan pemasangan fasilitas internet/jaringan bagi siswa/mahasiswa dan guru/dosen hal ini sesuai dengan penetapan peraturan pemerintah.

Setelah semua ini berjalan, tugas selanjutnya yaitu bersama-sama kita kawal perkembangan pendidikan kita dan mengawal dana pendidikan agar tepat sasaran dan tepat guna.

Langkah-langkah kecil yang kita lakukan hari sangatlah dibutuhkan dalam kondisi yang penuh dengan ketidak pastian ini. Dengat semangat positif, kita yakin semua peristiwa ini dapat kita lalui bersama, disertai panjatan doa-doa dibulan suci Ramadan ini kita mampu melewatinya dengan kemenanagan. Wallahu’alam. (Fn)

Artikel Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker