ArtikelFeatured

Gagal Kudeta, Moeldoko di Tengah Fakta, “Sakit Hati dan Ambisius”

Banner IDwebhost

Oleh: Himawan Sutanto (Koordinator Jaringan Nusantara)

Ketika AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat melakukan jumpa pers di taman politik kantor DPP Partai Demokrat mengirim surat ke Jokowi sebagai Presiden menjadi isu bola liar di tengah wabah pandemi. Banyak yang mempertanyakan ada apa? Sebab Partai Demokrat selama ini tampak adem ayem dan tidak memiliki isu politik yang menarik selain kegiatan pembagian masker, alat APD dan membantu korban banjir di berbagai daerah.

Kudeta gagal

Pernyataan adanya kudeta atau pengambil alihan kekuasaan secara ilegal yang dimotori oleh Nazarudin, Jhoni Alen dan Moeldoko menyeruak bak bola panas ditujukan ke istana dan malamnya Moeldoko melakukan klarifikasi via online, setelah Andi Arief menyebutnya di twitternya bahwa Moeldoko orang dibalik rencana kudeta tersrbut.

Selang beberapa jam Moeldoko klarifikasi dibalas dengan twitnya Rachland Nasidik bahwa “Bohong pertemuan itu tidak dirumahnya, tapi di hotel Rasuna di kuningan” kemudian beredar foto-foto pertemuan yang dihadiri oleh Nazarudin, Jhoni Alen dan beberapa ketua DPC dari berbagai daerah.

Celakanya rencana itu bocor karena yang hadir menyampaikan ke DPP bahwa ada pertemuan yang menginginkan adanya KLB? Kemudian para kader dan pengurus DPC dari berbagai daerah di BAP di DPP dan memberikan keterangan secara lengkap adanya gerakan inskontisional ke Partai Demokrat. Hasil pertemuan baru diketahui bahwa Moeldoko secara licik menemui para kader Demokrat yang pernah dipecat, keluar dan aktif dari Partai Demokrat, memang mau melakukan kudeta Ketua Umum Partai Demokrat AHY.

Akan tetapi belum melakukan kegiatan sudah lebih dulu diserang sama kader Demokrat via sosial media dan rencana kudeta masih saja terus berlangsung dengan diadakan jumpa pers yang dipimpin Darmizal yang nota bene telah keluar partai lalu menjadi relawan Jokowi di Pilpres 2019 lalu. Jumpa pers tersebut mengatasnamakan senior dan pendiri partai. Yang sangat tidak masuk logika ketika sudah di luar menyatakan senior. Pertanyaannya adalah, apakah senior bisa mengatur kembali ketika sudah di luar partai?

Sakit hati dan ambisius

Kehadiran Nazarudin dalam pertemuan tersebut adalah bukti bahwa gerombolan sakit hati kepada partai nampak sekali. Sebab Nazarudin adalah terdakwa kasus korupsi di beberapa proyek Hambalang dan lainnya dan dihukum lebih dari 5 tahun dengan Anas Urbaningrum.

Nazarudin sepertinya memfalitasi pertemuan tersebut untuk mengambil kekuasaan di Partai Demokrat dengan memanfaatkan Moeldoko dari KSP sebagai orang yang memiliki ambisi jadi capres tahun 2024. Sementara Moeldoko seorang ambisius dengan latar belakang seorang jendral dan mantan panglima TNI merasa layak jadi Presiden. Tapi ambisi boleh, cuma caranya saja yang salah dan kurang tepat.

Barangkali Moeldoko harus belajar banyak dari seorang pensiunan Mayor AHY. Sebab kalau mau masuk politik harus menjadi anggota partai dulu dan mengabdi di partai. Bahwa Partai Demokrat adalah partai kader yang memiliki masa depan lebih bagus dan diisi para anak muda yang tentunya lebih cerdas dan kreatif. Moeldoko lupa bahwa dirinya sebagai Ketua KSP Jokowi selalu melekat di pundaknya di manapun dan kapanpun berada.

Saya jadi ingat sebuah negara Venezuela, pemimpin oposisi Juan Guaido berupaya membangun rasa keniscayaan untuk rencananya menyingkirkan sang presiden, Nicolas Maduro, namun dukungan militer yang dia harapkan tak pernah muncul.

Artikel Terkait

Back to top button