Banner IDwebhost
Artikel

Paradoks Era Multi Partai

Banner IDwebhost

Oleh Nu’man Iskandar 

Hiruk pikuk pilpres saat ini semakin menunjukkan adanya paradoks dalam sistem politik kepartaian kita. Setiap partai politik tidak memiliki kekuasaan secara mandiri untuk menentukan siapa calon presiden/wakil presiden yang diusungnya.

Syarat 20% PT untuk dukungan pengajuan capres/cawapres adalah sandera baru partai setelah pelaksanaannya pileg dan pilpres disatukan dalam satu waktu.

Kita tentu saja harus menghormati putusan MK yang menguatkan syarat tersebut, hanya saja kalau melihat masalah ini secara utuh, maka putusan MK tersebut bisa kita lihat sebagai putusan rabun. Filosofi multipartai tidak menjadi pertimbangan, apalagi dengan kenyataan bahwa tiket PT yang telah digunakan pada tahun 2014 lalu, digunakan lagi dalam pilpres 2019 ini.

Era multi partai, tetapi pada kenyataannya partai politik kesulitan menentukan calon yang diusungnya. Namun jika mau jujur, paradoks yang terjadi saat ini sesungguhnya by setting. Dan salah satunya dilakukan oleh partai politik di parlemen. Sehingga proses menuju paradoks, semua terjadi seolah alami dan wajar.

Era multi partai ini harusnya menampilkan wajah keberbagaian kekuatan politik, tetapi kenyaan politik saat ini hanya menampilkan dua wajah; blok pemerintah dan blok non pemerintah. Jarak keberadaan antar blok juga sangat tipis. Blok pemerintah pun, bisa jadi berubah menjadi blok non pemerintah. Demikian juga sebaliknya.

Era paradoks ini, tentu saja ada yang diuntungkan. Siapa? Secara teoeretik, adalah mereka yang memiliki dan memegang kekuasaan. Dengan kekuasaan tersebut, hal ini menjadi kohesi politiknya. Ini menjadi cara untuk mempertahankan kekuasaan dan Pemilu hanya sebuah proses legalisasi.

Paradoks ini harus segera diakhiri. Jika tidak, regenerasi politik akan mati. Paradoks ini adalah tanda alarm demokrasi. Hingga 20 tahun reformasi, politik kita masih didominasi oleh politisi “tua”. Politisi muda hampir tidak muncul ke tengah, hanya berada dalam pusaran satelit politik.

Kekuatan besar perubahan ada pada civil society: baik itu Ormas, Perguruan Tinggi, dan elemen lainnya. Tapi jika juga civil society ini mandul karena terlalu dekat dengan kekuasaan, barangkali pada saatnya akan ada lahir people power baru yang akan merubahnya, entah darimana. Tapi perubahan itu niscaya, ia akan lahir. ()

Artikel Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker