Banner IDwebhost
ArtikelFeatured

Eksodus Kalajengking

Rangkuman
  • Pidato Presiden ini juga rupanya menggemparkan populasi Kalajengking. Saya tidak bisa bayangkan, bagaimana nasib rakyat Kalajengking jika terjadi perburuan besar-besaran terhadap mereka. Kalau ada film judulnya “Pocong juga Pocong”, maka disini ada juga “Kalajengking juga Kalajengking”. Cobalah untuk sedikit memiliki peri-kekalajengkingan. Mereka juga ingin hidup damai sebagai penyeimbang ekosistem.
Banner IDwebhost

Oleh: Ikhsan Kurnia
(Penulis Indonesia Palugada Club)

Dalam hitungan jam, pidato Presiden yang berisi trik cepat kaya dengan menjual racun Kalajengking telah membuat “gempa bumi” baik di dunia manusia maupun dunia hewan. Seorang teman Facebook saya menulis di statusnya, menceritakan bahwa anak laki-lakinya sampai lupa makan dan lupa segalanya, terobsesi untuk menjadi seorang Milyarder dengan beternak Kalajengking. Bosan hidup melarat, katanya. Saya tidak tahu persis berapa manusia Indonesia yang memiliki “obsesi dadakan” yang serupa. Bagaimana tidak? Harga racun Kalajengking ditaksir mencapai 145 milyar per liter. Siapa yang tidak ngiler?

Terus terang saya juga sempat kepikiran untuk membuat perusahaan bernama PT Buru Kalajengking Indonesia. Dengan begitu, selain saya bisa kaya, saya juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi 5,5% rakyat Indonesia yang masih menganggur, dimana angka tersebut merupakan titik terendah sepanjang sejarah reformasi (Baca: Tingkat Pengangguran Indonesia). Itu pun pengangguran menurut ukuran BPS. Jika kita mempertimbangkan pendapat Rizal Ramli misalnya, maka jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 30 persen dari seluruh angkatan kerja yang ada. Rizal sendiri menggunakan standar internasional yang mendefinisikan pekerja sebagai orang yang bekerja minimal 35 jam seminggu. Itu baru jumlah pengangguran. Kita belum berbicara angka kemiskinan.

Jika ada “tawaran surga” dimana orang bisa menjadi Milyarder dengan menjadi pemburu atau peternak Kalajengking, apalagi itu disarankan oleh seorang Presiden, maka ada potensi orang-orang nganggur dan miskin di Republik ini beralih profesi menjadi peternak Kalajengking. Tapi, jangan senang dulu. Jangan mimpi menjadi seorang Milyarder. Jangan-jangan tenaga kerja Indonesia akan dianggap tidak capable sebagai hunter ataupun farmer Kalajengking. Mengapa? Karena SDM mereka dianggap rendah, tidak memiliki resource, capital, high technology dan tidak didukung pengetahuan manajemen bisnis modern. Maka boleh jadi impor TKA kembali dilakukan: Dibutuhkan segera, “Scorpion Skilled Hunter” (Pemburu Kalajengking Ahli).

Kalaupun tidak impor, maka nasib para calon pemburu dan peternak Kalajengking itu akan sama nasibnya dengan peternak Indonesia pada umumnya. Mereka hanya bisa bermain di size yang sangat kecil (gurem). Kerena the big play (permainan besarnya) akan dimainkan oleh para korporasi besar. Alhasil, ujung-ujungnya mereka jadi pekerja juga. Miskin juga. Jadi Milyarder? Fiksi.

Pidato Presiden ini juga rupanya menggemparkan populasi Kalajengking. Saya tidak bisa bayangkan, bagaimana nasib rakyat Kalajengking jika terjadi perburuan besar-besaran terhadap mereka. Kalau ada film judulnya “Pocong juga Pocong”, maka disini ada juga “Kalajengking juga Kalajengking”. Cobalah untuk sedikit memiliki peri-kekalajengkingan. Mereka juga ingin hidup damai sebagai penyeimbang ekosistem.

Jika mereka terus terancam oleh para pemburu yang terobsesi menjadi Milyarder, maka kaum spesies Kalajengking se-nusantara akan melakukan eksodus besar-besaran meninggalkan bumi pertiwi. Kalau sudah begini siapa yang salah?

Artikel Terkait