Banner IDwebhost
FeaturedJalan Pinggir

Gold; Indonesia dan Hoax Terbesar Tambang Emas Abad ke-20

Banner IDwebhost

Oleh: Delianur

Michael de Guzman adalah Geolog Filipina. Lahir di Manila pada 14 Februari 1956, Guzman merupakan anak kelima dari 12 bersaudara dari ayah seorang insinyur Geodesi. Selepas lulus dari Universitas Adamson tahun 1977, Guzman bekerja di tambang emas milik Benguet Corporation. Temannya adalah John Felderhof. Geolog kelahiran Belanda berkebangsaan Kanada. Ketika mereka melakukan sebuah permufakatan pada tahun 1993, Felderhof sedang dirumahkan. Karena perusahaan tempat dia bekerja sedang menghentikan operasi tambangnya.

Suatu hari de Guzman mengajak sekondannya itu ngobrol-ngobrol di Jakarta. Guzman mengatakan kepada Felderhof bahwa dia sudah menemukan cadangan emas dalam jumlah sangat besar di Busang, Kalimantan Timur. Guzman meyakinkan Felderhof untuk mencari uang agar keduanya bisa mengeksplorasi cadangan emas tersebut.
Sementara pada saat bersamaan, di Kanada ada David Walsh. Seorang promotor saham sekaligus pendiri perusahaan pertambangan Bre-X Mineral Ltd. Walsh kala itu sedang terlilit banyak hutang. Uang di rekeningnya hanya tinggal 10 ribu dollar Kanada saja. Dalam kondisi sulit itu Walsh tiba-tiba teringat nama John Felderhof. Kenalan yang pernah bertemu di Australia tahun 1983. Ketika itu Felderhof sempat membicarakan tentang potensi tambang di Indonesia. Walsh pun berangkat ke Jakarta mencari Felderhof dengan uang seadanya.

Singkat kata, bertemulah Walsh, Fedelhorf dan Guzman di sebuah restauran di Jakarta untuk makan malam. Fedelhorf dan Guzman berhasil meyakinkan Walsh tentang potensi cadangan emas yang bisa mereka keruk di Busang. Hanya berselang beberapa hari setelah jamuan makan malam itu, Walsh dan Felderhof sudah keluar masuk belantara hutan Kalimantan selama 12 hari. Lalu ketiganya bersepakat akan bekerjasama untuk mengangkat emas yang ada dibawah bumi Kalimantan itu.

Selepas kesepakatan itu, Guzman berangkat ke Kalimantan membawa tim khusus. Sementara Walsh kembali ke Kanada untuk mencari sumber pembiayaan. Meski uangnya hampir habis, tapi Walsh adalah seorang pialang saham handal. Pulang ke Kanada, Walsh meminta persetujuan Alberta Stock Exchange, pasar saham tempat Bre-X didaftarkan, untuk menaikan harga saham Bre-X dari 10 sen menjadi 40 sen dollar Kanada. Upaya Walsh berhasil. Meski hanya bermodal potongan surat kabar berisi potensi emas di Kalimantan yang sedang disasar Bre-X. Kenaikan saham ini berhasil mengumpulkan dana sebesar 200 ribu dollar Kanada atau setara Rp 2,1 Milyar. Cukup untuk pembiayaan tahap awal proses eksplorasi.

Sampai menjelang akhir 1993, Guzman dan timnya sempat putus asa karena tidak kunjung menemukan emas yang dicari. Namun pada Desember 1993, Guzman menemukan emas. Semula Guzman menaksir bahwa kandungan emas di Busang ada 1 Juta ounce atau 28,3 ton. Namun seiring waktu, taksiran Guzman terus berubah menjadi lebih besar. Pada Januari 1996, David Walsh mengumumkan ada potensi emas sebesar 30 Juta ounce atau 850,5 ton di tambang yang sedang kelola.

Namun beberapa bulan kemudian, angka itu berubah lebih tinggi lagi menjadi 200 Juta ounce atau 5,670 ton emas. Angka ini tidak hanya melampui kandungan emas di Gresberg Papua yang dikuasai Freeport McMoran, tetapi juga menjadikan Busang sebagai tambang emas terbesar di dunia. Bre-X memiliki 8% cadangan emas dunia. Guzman dan Fedelhorf menjadi selebritis di dunia pertambangan. Sampai diberi penghargaan sebagai “Pencari Tahun Ini” pada tahun 1996.

Temuan ini pastinya menggelembungkan nilai saham Bre-X. Saham yang semula hanya berharga 40 sen Kanada perlembar menggelembung menjadi 170 dollar Kanada atau Rp 1,7 Juta per lembar. Masyarakat dan perusahaan pengelola keuangan berbondong membeli saham Bre-X. Diantaranya adalah tiga lembaga publik Kanada; The Ontario Municipal Employee Retirement Board menginvestasikan dananya sebesar $45 Juta. The Quebec Public Sector Pension Fund menginvetasikan sebesar $70 Juta. Sementara The Ontario Teachers Pension Plan sebesar $100 Juta.

Perusahaan besar tambang dunia pun juga tidak ingin ketinggalan. Mereka mengeluarkan segala daya dan upaya untuk mendapat keuntungan dari emas Busang. Barrick Gold Corporation misalnya. Salah satu raksasa tambang ini, bernegosiasi dengan Walsh untuk menjadi pemegang saham mayoritas Bre-X. Namun tawaran itu ditolak Walsh.

Ditolak Walsh, Peter Munk Chairman Barrick, melakukan gerilya lobby politik ke pemerintah Indonesia. Melalui Brian Mulroney, mantan Perdana Menteri Kanada yang mempunyai 500 ribu saham di Barrick, Peter Munk berhasil merangkul Menteri Pertambangan dan Energi. Tidak cukup sampai di tingkat menteri, Peter Munk juga mengajak anak pertama Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana, untuk terlibat dalam proyek Busang dengan Hotel Grand Hyatt sebagai kantornya.

Lobby politik Barrick jelas membuat Bre-X terpojok. Surat Izin Penelitian Pendahuluan (SIPP) Bre-X pun dicabut pemerintah Indonesia.

Namun Bre-X ternyata tidak putus asa. Felderhof pun bergerak menggandeng putra Presiden Soeharto yang lain, Sigit Harjojudanto, untuk mengelola Busang. Berkantor di Hotel Shangri-La, mereka pun bekerjasama. Kompensasinya adalah saham 10% serta $ 1 Juta setiap bulan selama 40 bulan untuk jasa konsultasi tekhnis dan administratif.

Menghadapi manuver Bre-X, Barrick akhirnya mengeluarkan kartu truf. Barrick menghubungi mantan Presiden Amerika, George Bush, untuk melobby Soeharto. Bush pun mengeluarkan surat kepada Presiden Soeharto supaya Barrick dilibatkan dalam proyek Busang. Tak ayal Presiden Soeharto pun mengeluarkan petunjuk yang sangat jelas kepada anak buahnya supaya Barrick dilibatkan dalam pengelolaan Busang.

Namun dalam situasi yang rumit ini, Bob Hasan pun masuk arena lobby Busang. Menggandeng Freeport, Bob Hasan ingin menyingkirkan Barrick dalam pengelolaan Busang. Pada akhirnya semua terlibat dan mendapat bagian. Bukan hanya Barrick yang menjadi pengelola Busang, tetapi juga Freeport yang ditunjuk sebagai operator tambang.

Namun ketika proyek eksplorasi Busang ini akan berjalan, terkuaklah kebohongan emas Busang. Manakala Freeport mulai mengebor sejumlah titik untuk melakukan uji sample, hasilnya mengejutkan. Busang tidak mengandung emas. Lalu Freeport pun meminta data-data eksplorasi Bre-X. Tapi gudang penyimpanannya hangus terbakar. Manajemen Bre-X akhirnya mengutus Michael de Guzman untuk menjelaskan kondisinya kepada Freeport secara langsung. Namun Guzman pun tidak pernah sampai ke tujuan. Guzman disebut lompat bunuh diri dari Helikopter yang mengangkutnya untuk bertemu Freeport.

Itulah sekelumit kisah hoax terbesar abad ke-20 tentang tambang emas di Indonesia. Skandal emas ini lebih banyak dibicarakan di luar negeri ketimbang dibicarakan di Indonesia. Cerita hoax di atas ini juga yang diangkat dalam film Gold. Film arahan Stephen Gaghan dengan pemeran utamanya Matthew McConaughey. Salah satu aktor terbaik pemenang Academy Award dan Golden Globe.

Pada film yang dibuat pada 2016 ini, nama Indonesia, nama Kalimantan, nama suku Dayak, seragam ABRI, juga nama Presiden Soeharto disebut dengan jelas. Sejelas dipampangkannya foto Presiden Soeharto beserta Ibu Tien.

Tetapi sepertinya karena disebutkan bahwa film ini “inspired by true event”, atau hanya terinspirasi, jadinya banyak nama-nama yang disamarkan. Dalam film ini misalnya disebutkan bahwa putra Soeharto yang terlibat adalah seorang lelaki yang suka main wanita bernama Bobby. Tidak ada Tutut juga tidak ada Menteri Pertambangan. Begitu juga dengan nama Bre-X yang menjadi Washoe Mining Corporation atau de Guzman yang menjadi Michael Acosta. Bahkan syutingnya pun bukan di Indonesia, tetapi di Mexico dan Thailand.

Karenanya di akhir cerita, Gold tidak menceritakan bagaimana akhir hidup orang-orang yang terlibat dalam skandal ini. Guzman hanya diperlihatkan sedang berada di helikopter dan disuruh terjun ke bawah. Padahal dalam kenyataan, banyak petunjuk yang mengindikasikan Guzman dianggap masih hidup dan sedang menikmati uang hasil penipuannya. Tidak mati bunuh diri seperti yang dirilis pemerintah Indonesia.

Artikel Terkait

Check Also
Close