Banner IDwebhost
Berita

Prof. Zainuddin Maliki: Dalam Politik Masih Ada Ekspektasi Modal Sosial dan Moral yang Bisa Dibangun

Banner IDwebhost

Kanigoro.com – “Pemilu tahun 2019 ternyata lebih pragmatis daripada Pemilu tahun 2014. Masyarakat, dalam berbagai lapisan sosial dan ormas keagamaan, menganggap bahwa money politics itu hal yang biasa dan seolah-olah halal. Money politics dianggap bisyarah atau sedekah politik,” demikian penjelasan Prof. Dr. Zainudin Maliki, ketika didaulat untuk memberikan testimoni selama proses kampanye menjadi caleg DPR RI nomor 2 dari PAN di Dapil Lamongan dan Gresik. Caleg yang berhasil terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2019-2024 ini, merupakan Ketua PW KBPII Jawa Timur dan hadir dalam acara buka bersama Jum’at (31/1) sore, di Kantor Sekretariat KBPII Jawa Timur, Jln. Gayung Sari Barat No 79, Surabaya.

Menurut Zainudin, dalam kondisi pragmatisme dan transaksionalisme politik seperti itu, maka siapapun yang menjadi caleg dalam Pemilu, yang punya modal uang atau dimodali orang lain, tentu akan mengikuti irama gendang politik masyarakat agar bisa meraup suara yang signifikan. Tetapi Zainuddin tidak mau mengikuti ekspektasi money politics masyarakat. “Saya tidak mau mengikuti ekspektasi money politics pada masyarakat, bagi saya caleg yang bisa meraup suara signifikan karena money politics hanya akan melahirkan petugas-petugas politik partai. Mereka nanti hanya menjadi kepanjangan tangan partai politik yang mengusungnya, atau mengikuti para broker yang membiayai kampanye mereka dengan memberikan imbalan proyek atau kebijakan UU yang pro mereka. Tidak akan ada agregasi politik dari masyarakat yang akan mereka perjuangkan jadi kebijakan politik pro rakyat,” tegasnya.

Selanjutnya Zainuddin mengatakan, bahwa modal politiknya adalah modal sosial dan moral spiritual politik dengan mengedepankan kepercayaan (trust). “Aspirasi kepentingan masyarakat akan saya artikulasikan ke parlemen dan partai politik yang mengusung saya untuk menjadi kebijakan pilitik yang pro rakyat,” tekadnya.

Kondisi pragmatisme politik masyarakat seperti itu oleh Zainuddin dilaporkan kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Laporan tersebut direspon positif dengan mengeluarkan instruksi jihad politik ke seluruh jajaran PDM-PDA, PCM-PCA, PRM-PRA se Jatim untuk mensukseskan calon DPD dan DPR RI dari kader Muhammadiyah.

Dampak dari kebijakan jihad politik PWM Jatim itu luar bisa. Selama kampanye di Lamongan dan Gresik itu Prof. Zainudin telah melakukan sosialisasi politik atau kampanye di 265 titik, yakni 173 titik di Lamongan dan 92 titik di Gresik. Semua biaya dan kendaraan disediakan oleh Pengurus Muhammadiyah dan Aisyiyah Kabupaten Lamongan dan Gresik baik tingkat daerah, cabang maupun ranting.

“Bahkan selesai kampanye di satu titik, saya sering dikasih oleh-oleh masyarakat baik berupa barang naupun uang. Oleh-oleh itu saya berikan ke timses saya,” kata Prof. Zainuddin yang juga mantan Rektor Univ. Muhammadiyah, Surabaya, dua periode. (SS)

Artikel Terkait

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker