Oleh: Ir. Eddy Praptono, MM.

Saya ikut training Kepemimpinan PII tergolong sudah terlambat, lha wong sudah mahasiswa kok ikut training pelajar. Training diselenggarakan bersamaan waktu libur pelajar SMP/SMA karena memang sasaran peserta training adalah para pelajar dari berbagai daerah di wilayah Yogyakarta Besar (PW PII Yogbes), ada dari Kebumen, Wonosobo, Banjarnegara, Magelang, Bantul Sleman, Cilacap, Jogja, Gunungkidul dan lain-lain. Seingat saya waktu training itu hanya ada 2 mahasiswa, salah satunya saya, lainnya pelajar SMP dan SMA.

Training LBT (Leadership Basic Training) PII (Pelajar Islam Indonesia) pada liburan Desember 1984 di Kecamatam Srumbung, Magelang yang saya ikuti saat itu kalau tidak salah ada 6 kelas, satu kelas pesertanya 20 orang, klasnya biasa dibuat model U atau setengah lingkaran, laki laki disisi kanan perempuan disisi kiri atau sebaliknya. Suasana diskusi menjadi lebih hidup, disamping karena peserta yang campuran juga karena instruktur lihai dalam mengeksplorasi semua peserta menggunakan metoda Andragogi.

Materi LBT PII yang paling menarik dan hingga kini masih mengesan adalah materi soal Respon. Soal respon ini soal teknik berkomunikasi biasa saja, tapi kalau respon bisa seperti yang diharapkan, bisa pas, bisa dimengerti dan dipahami maka semuanya akan menjadi lancar, bisa makin akrab, dalam rumah tangga bisa makin mesra.

Inti pokok masalah respon adalah soal pesan dan tanggapan komunikasi 2 arah atau lebih. Tanggapan atau respon yang bisa diberikan ada 2 kemungkinan:
1. Respon to topic
2. Respon to feeling

Pesan bisa verbal bisa pula simbolik. Nah responnya bisa pada topik verbal itu atau ada pesan tersembunyi yang bisa dilakukan/dilaksanakan. Makin dewasa seseorang dan makin sering berkomunikasi akan makin mudah memahami pesan yang mestinya direspon feeling. Kadang dalam hal-hal yang rumit tidak hanya kedewasaan yang bisa merespon dengan baik tapi juga diperlukan kecerdasan baik IQ maupun SQ.

Kadang juga ketulusan dan kerendahan hati, pesan verbal murni direspon dengan feeling

Pejabat : “Waah Alhamdulillah hasil panen kali ini bagus-bagus yaa”
Petani : “itu pak .. nanti anak-anak biar yang bawa hasil panen ke bagasi mobil bapak”

Dalam hal-hal sederhana maupun yang rumit-rumit kemampuan respon feeling sangat diperlukan dalam kehidupan sehari hari..

“Maaaa .. dah isya??”
“Sebentar .. anak-anak belum tidur”

Teruskan sendiri-sendiri contohnya. Sahabat-sahabatku pasti punya contoh sendiri-sendiri yang lebih seru. (Sudono Syueb)

*Mantan Aktivis PII, sekarang Kepala Dinas PU Kab Gunungkidul