Ray Kurzweil, direktur teknik di Google, memprediksi bahwa pada tahun 2045 kita akan mencapai keistimewaan teknologi.

Pada tahun 2045 ketika Indonesia tepat berusia seratus tahun, kita akan menyaksikan bagaimana komputer berhasil secara teknologis direkayasa dan rancang bangun oleh para ahli di negara maju menjadi superintelligent dan kecerdasan mereka – pemahaman dan independensi intelektual mereka – akan terus tumbuh secara eksponensial, jauh melebihi apa yang pernah dibayangkan oleh kita, di masa kini.

Filsuf Swedia Nick Bostrom telah menulis sebuah buku berjudul Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies, Superintelligence: Jalan Terbuka, Bahaya, Strategi, yang bercerita tentang bagaimana menghadapi kemungkinan bahwa kita dapat kehilangan kendali atas teknologi yang kita ciptakan.

Begitu juga diulas Andrew Smart dalam bukunya “Beyond Zero and One: Machines, Psychedelics, and Consciousness”

Beberapa bulan terakhir ini kita menyaksikan bagaimana “online business” diduga oleh banyak kalangan telah memporak-porandakan bisnis tradisional, mall dan toko-toko kelontong. Sebagian dari kita gembira dan menyatakan “wes wayahe“, Sudah saatnya yang selalu dalam zona nyaman tenggelam dilanda gelombang perubahan.

Masalahnya yang dalam zona nyaman mayoritas adalah tamatan SMP dan SLTA tenaga kerja yang tak punya keahlian untuk cepat memiliki daya adaptasi. Pilihan pekerjaan untuk dipaksa “Shifting” ikut perubahan zaman mungkin kecil.

Yang menganggur mengatakan: “Kok bisa begini jadinya kemajuan teknologi?” Teknologi harusnya jadi armlength, perpanjangan tangan dan bicycle of the mind untuk membuat kita sebagai bangsa jauh lebih produktif dan efisien, kok punya drawback negatif berupa kelesuan bisnis retail toko kelontong dan traditional?”

Tiap hari kita kini disibukkan dengan artikel tentang bahayanya disrupsi teknologi yang mengancam sendi-sendi semua model bisnis yang selama ini ditekuni. Kita sudah berada di ambang pintu perubahan akibat percepatan kemajuan teknologi.

Yang menghasilkan peningkatan wacana populer tentang arti singularity. Menggambarkan bagian ujung dari dampak peristiwa yang muncul akibat pengembangan teknologi di belahan dunia lain. Di masa depan kita mungkin akan terperangkap dalam fenomena kecerdasan buatan dari mesin atau computer canggih yang mampu menggantikan sebagian besar peranan aktivitas manusia.

Komputer menjadi superinteligen

Kecerdasan buatan dari mesin canggih bernama robot online ini akan memiliki kemampuan belajar untuk memperbaiki diri secara mandiri.

Pertanyaannya kini dimana peran Manusia Bersumber Daya Iptek Indonesia di masa kini dan masa depan untuk melakukan antisipasi agar SDM kita tidak mengalami pengangguran massal?

Buku terbaru tentang Superintelligence seperti karya Kurzweil: “How to Create a Mind: The Secret of Human Thought Revealed and The Singularity Is Near, When Humans Transcend Biology”, dan karya Martine Rothblatt’s Virtually Human: The Promise—and the Peril—of Digital Immortality menggambarkan prediksi tentang fenomena yang mungkin muncul.

Selain antusiasme kita menghadapi kemungkinan abad digital akibat kemajuan teknologi yang dipercepat mungkin perlu kita sejak dini mulai memperhitungkan ancaman yang lebih cepat dan praktis akibat Artificial Inteligence yang secara drastis akan merubah peta dan fondasi ekonomi Indonesia di masa depan.

Ada kekhawatiran robot akan menyebabkan pengangguran meluas. Martin Ford dalam bukunya Rise of the Robots memprediksi bahwa pekerjaan profesional di bidang hukum, rekayasa perangkat lunak, dan perawatan kesehatan pun akan segera dimakan oleh perangkat lunak. Jika kita terlalu antusias tanpa persiapan.

Apa benar begitu? Wake up call berbunyi jauh lebih cepat dari yang diprediksi. Kemana kita hendak melangkah. Salam

(Jusman Sjafii Djamal/FB)*