Resensi buku:

Judul      :  Di Langit Masih Ada Bintang
Penulis   :  Endang Basri Ananda (EBA)
Penerbit :  Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera (BMS Foundation), Jakarta
Cetakan  : ke-2, 2017, vii + 98 hal

Endang Basri Ananda (EBA) merupakan penulis tetap di Harian Abadi edisi Ahad pada rubrik “Remaja Agama”. Selama kurun waktu 1970-1973 kemudian tulisan tersebut dikumpulkan menjadi 3 (tiga) buku yang diterbitkan N.V. Bulan Bintang Jakarta tahun 1975, salah satunya adalah buku ini yang diberi judul “Di Langit Masih Ada Bintang”. Seperti halnya kumpulan tulisan yang lain, maka topik-topik yang diangkat pada 23 tulisan dalam buku ini juga beragam walaupun muaranya dimaksudkan pada masalah Iman.

Meski pesan-pesan keagamaan dalam buku ini diperuntukkan buat remaja di era 1970-an, ternyata masih cukup relevan untuk masa sekarang ini. Mungkin itu salah satu alasan diterbitkannya cetakan ke-2, setelah cetakan perdananya terbit 42 tahun yang lalu.

Tulisan pertama “You Are What You Are” terasa menjadi aktual karena mencuatnya peristiwa Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin disuguhi minuman arak saat meresmikan Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak di Jalan Parit H Mukhsin, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis (6/4) lalu. Peristiwa empat bulan lalu kembali menghangat hari-hari terakhir ini karena munculnya rumor Menteri Agama meminum arak yang disuguhkan tersebut. Meski rumor tersebut sudah dibantah secara resmi oleh Menteri Agama, di media sosial masih ramai menjadi pembicaraan.

Dalam tulisan pembuka itu EBA menceriterakan pengalaman mahasiswa Indonesia yang belajar di Selandia Baru, tinggal di lingkungan masyarakat yang mayoritas non muslim. Sudah tentu banyak di antara mereka yang tidak memahami aturan makanan dan minuman yang diharamkan dalam Islam. Dijelaskan dalam tulisan tersebut, bahwa sikap orang lain akan tergantung pada sikap muslim itu sendiri, kalau tegas bersikap maka orang lain pun akan respek. Sehingga meski sudah menjadi “adat istiadat” di negara lain untuk menyantap hidangan yang disuguhkan, jika memang itu diharamkan dalam Islam, dan kita tegas bersikap, maka hal itu tidak akan menciptakan ketersinggungan.

Ketertarikan seorang pengusaha muda Jepang pada kepribadian seorang pengusaha Indonesia yang merupakan teman bisnisnya, akhirnya telah mendorongnya untuk masuk Islam. Peristiwa ini diulas EBA melalui tulisan yang diberi judul “Bagai Seekor Lebah”. Menjelaskan bagaimana semestinya seorang beriman mampu memancarkan keimanannya yang mampu mendorong orang non muslim kemudian tertarik mempelajari dan akhirnya memeluk Islam.

Tulisan-tulisan lainnya beragam, ada yang merupakan pengalaman beberapa kenalan EBA untuk kemudian pembaca diajak menemukan hikmah di balik peristiwa itu. “Apa Guna Keluh Kesah” menanggapi keluhan orang-orang kaya, khususnya istri para pembesar, yang kemudian diulas menjadi nasehat untuk tidak mengeluh, atau dalam istilah sekarang jangan gampang curhat. “Kembalinya Si Anak Hilang” mengulas pengalaman seorang yang “kembali” setelah hampir 12 tahun meninggalkan shalat. Sementara “Terdampar di Ibu Kota” membahas seorang yang alim dan saleh berubah drastis ketika kemudian berdomisili di Jakarta.

Walaupun berawal dari tulisan-tulisan pada rubrik “Remaja dan Agama”, tampaknya isi dan gaya tulisannya akan dinilai serius oleh remaja sekarang. Namun ada baiknya juga jika para remaja sekarang mau meluangkan waktu membaca buku ini. Setidaknya agar mempunyai perbandingan dan mempunyai gambaran tentang kehidupan remaja di masa lalu. Bagi orang-orang tua yang kurang mampu memberikan bimbingan langsung kepada anak-anaknya, bisa menjadikan buku ini sebagai hadiah sekaligus nasihat buat anak-anaknya yang sudah remaja.

Kang Jukipenulis novel “Pil Anti Bohong” dan “Silang Selimpat.