Kanigoro.com – Pernahkah Anda datang terlambat solat Jumat? Lantas menempati shaf bagian depan dan melakukan solat sunat ketika khatib sudah di atas mimbar?

Fenomena seperti ini sering terjadi di banyak masjid, bahkan di masjid-masjid perkantoran dimana jamaahnya juga para petinggi di kantor tersebut dan secara khusus diberi tempat di shaf bagian depan.

Pegiat Manajemen Masjid Ustadz Ahmad Yani menceritakan kebiasaan seperti itu mestinya bisa dihindarkan, pengurus masjid bisa membuat aturan jika khutbah Jumat sudah dimulai maka tempat yang kosong di bagian depan bisa segera diisi jamaah yang sudah hadir terlebih dahulu.

Ia menegaskan, disamping secara syar’i malaikat sudah tidak mencatat kehadiran jamaah yang terlambat, pejabat tinggi yang solat sunat ketika khutbah sudah dimulai juga mengganggu konsentrasi khatib yang sedang berkhutbah.

“Bayangkan saja tidak enaknya saya berkhutbah, sementara seorang menteri berdiri solat sunat persis di depan saya. Mestinya ia tahu diri dan perlu dibuat aturan bila khatib naik mimbar, maka tempatnya ditempati jamaah lain, apalagi malaikat sudah tidak mencatat kehadirannya. Perlu keberanian pengurus masjid untuk menegaskan hal ini”, kata penulis buku “SARAN UNTUK PENGURUS DAN JAMAAH MASJID” ini.

Ahmad Yani juga memberi tips untuk ta’mir masjid perkantoran agar mengingatkan semua jamaah agar hadir lima menit sebelum waktu sholat Jumat. “Misalnya waktu sholat Jumat masuk pukul 11.45, harap hadir paling lambat 5 menit sebelumnya, itupun dengan catatan pahala paling kecil. Pengurus masjid perlu memiliki data no WA seluruh jamaah dan sampaikan hal ini dengan pesan siar (japri)”, sarannya.

Menurut Ahmad Yani, pejabat atau pimpinan yang datang terlambat lalu menempati shaf paling depan merupakan salah satu bentuk gangguan saat khutbah berlangsung. Demikian juga dengan kotak infak yang beredar.

“Pastikan kotak sudah selesai beredar sebelum khutbah dimulai, bukan malah baru beredar saat khutbah dimulai. Edarkan saja, meskipun jamaah belum banyak yang datang. Siapkan kotak besar di pintu-pintu masuk”, ujar wakil Ketua Umum PB KB PII yang aktif keliling menyelenggarakan pelatihan manajemen masjid ke berbagai tempat di Indonesia ini.

(th)*