Oleh Jusman Syafii Djamal

Kadangkala saya sering ditanya sahabat apakah saya masih bermain dengan model matematika seperti ketika tahun 1996 saya diminta melakukan analisa tentang model ekonomi oleh Pak Habibie. Saya jawab wah tidak lagi. Sudah banyak kemajuan dalam ekonometric saat ini.

Lagi pula kini pemenang hadiah nobel banyak muncul dari “behaviour economics” jarang yang menempatkan model matematika sebagai pondasinya. Kecuali Game theory, decision theory dan advance statistic.

Ketika tahun 1996-1998 itu, sebagai salah seorang asisten atau “number crunching” beliau, salah satu yang menjadi pikiran saya dalam melaksanakan tugas yang diberikan beliau adalah mencoba menggunakan pengetahuan saya tentang tingkah laku pesawat terbang.

Dan mencoba mengkaitkan pertumbuhan ekonomi dengan fenomena gerak tinggal landas serta “climb gradient” yang diperlukan oleh satu jenis pesawat untuk mencapai ketinggian jelajahnya. Berapa besar gaya angkat pesawat terbang dan daya dorong yang diperlukan dalam setiap manuver yang diperlukan misalnya.

Tingkah laku pesawat terbang komersial selalu ditentukan oleh perancangan sayap pesawat penghasil gaya angkat yang disinergikan dengan pilihan jenis propulsi atau gaya dorong. Thrust over Weight atau rasio kekuatan pendorong yang ditimbulkan engine penggerak dibanding gaya gravitasi akibat beban yang diangkut, serta luas sayap dan jenis airfoil menentukan optimalisasi rancang bangun pesawat terbang.

Dari proses simulasi tersebut saya membayangkan data tentang investasi, beban hutang, suku bunga, pertumbuhan ekonomi dan inflasi dari satu negara seolah seperti perancang pesawat terbang membayangkan beban yang diangkut oleh pesawat terbang, gaya dorong yang ditimbulkan oleh engine penggerak propulsi, luas sayap baik ketika tinggal landas maupun ketika terbang jelajah.

Beban hutang suatu negara yang dibayangkan sebagai gaya gravitasi yang akan membawa pesawat terbang untuk tidak mencapai ketinggian jelajahnya.

Baru setelah saya membaca buku Ruchir Sharma berjudul “The Rise and Fall of Nations.” terutama ketika ikuti cerita bab berjudul :”“THE KISS OF DEBT,  is debt growing faster or slower than the economy?” sambil duduk di pinggiran danau kawaguchiko saya sedikit tergugah membuat catatan.

Entah karena hawa dinginnya atau keindahan gunung Fuji yang terlihat nyata, atau terkenang dengan Danau Toba yang tak kalah indah dari danau di depan mata ini.

Ternyata apa yang dulu saya analogikan dengan fenoma ekonomi seperti gerak tingkah laku pesawat terbang, dalam beberapa “domain masalah” dapat diterapkan. Buku ini juga menarik dibaca karena banyak “lesson learned” yang ditampilkan. Hanya tebalnya lumayan 895 halaman. Ngga bisa ditenteng kemana-mana, kecuali seperti saya yang disimpan dalam ipad yang selalu menyertai saya kemana Saja.

Dalam buku itu dikatakan, bahwa setiap krisis ekonomi melahirkan penjelasan baru. Analisa Postmortem setelah “krisis tequila” Meksiko pada pertengahan tahun 1990an menjelaskan bahaya hutang jangka pendek, karena obligasi jangka pendek jadi biang krisis pada saat itu.

Setelah krisis keuangan Asia 1997-1998, semua bicara tentang bahaya meminjam banyak uang dari bank Asing meski berbunga rendah. Karena bank asing tiba-tiba bisa saja meninggalkan arena investasi.

Bank Asing dapat saja menarik pinjaman uangnya untuk dibawa ke arena investasi di tempat lain. Berbagai penjelasan yang ditulis dalam buku ini memperlihatkan mengapa para ahli sering mengalami kegagalan untuk melihat tanda tanda krisis ekonomi yang muncul dari soal hutang piutang dan kredit global, sebelum tahun 2008.

Salah satu benang merah penelitian yang dilakukan para ahli ekonomi di masa kini telah mencoba mengkaitkan krisis ekonomi dengan sejarah kegagalan pembayaran hutang di masa Depresi Besar tahun 1930an dan dalam beberapa kasus lainnya bahkan sampai krisis ekonomi yang dikenal sebagai fenomena “tulip mania” yang terjadi di Belanda tahun 1600-an.

Para ahli ekonomi juga mendapatkan kesimpulan lain yang menarik: ”Meskipun ukuran total hutang suatu negara – yang berarti total hutang pemerintah dan sektor swasta – penting bagi upaya untuk menilai prospek ekonomi suatu negara, akan tetapi sinyal paling jelas dari masalah keuangan sering datang jika kita tidak cermat dalam memantau laju kenaikan hutang. Jadi bukan volume hutang yang utama, yang jadi soal adalah laju pertumbuhan hutang yang harus dikelola dengan baik. Ukuran besarnya hutang juga penting untuk diamati. Akan tetapi kecepatan pertumbuhan hutang ternyata lebih penting.

Dengan kata lain di dalam kasus pesawat terbang, yang lebih utama adalah bukan berapa besar tonase beban yang diangkut melainkan berapa kecepatan pertumbuhan beban yang muncul di tiap fase ketinggian terbangnya. Berapa besar daya dorong engine dan gaya angkat yang dihasilkan oleh kombinasi sayap, badan dan jenis propulsinya.

Thailand pada tahun 1997, hutang swasta mencapai 165 persen dari PDB, namun beban hutang sebesar itu tidak akan selalu melahirkan sebuah krisis jika hutang tersebut , tidak juga tumbuh secara signifikan lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi yang secara berkelanjutan dialami oleh negara tersebut. Utang Thailand telah berkembang dari sejak tahun 1980an, namun kemudian pertumbuhan ekonominya yang berkelanjutan telah menyebabkan Thailan mampu lepas landas setelah tahun 1990.

Dalam lima tahun sebelum 1997, ekonomi Thailand tumbuh setiap tahunnya pada tingkat sekitar 10 persen. Pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan ini menyebabkan semua orang terlena dan membiarkan hutang swasta tumbuh pada tingkat sekitar 25 persen.

Robert Zielinski, seorang analis bank telah melihat tanda-tanda bahwa krisis itu akan datang. Pada awal 1995, dia menulis sebuah makalah singkat yang memperingatkan bahwa banyak krisis keuangan di dunia berkembang sebelumnya telah didahului oleh kehadiran hutang yang tumbuh lebih dari 20 persen per tahun, secara berturut turut dalam priode lima tahun. Dan Thailand ketika itu telah berada di tengah-tengah pesta kredit semacam itu

Menurut Zielinski ini menunjukkan bahwa pelajaran krisis yang dipicu oleh beban utang Thailand pada tahun 1997/98 , bukan karena besarnya yang semakin meningkat, melainkan karena kecepatan tumbuhnya hutang secara berturut turut dalam lima tahun telah memicu krisis. Jadi sinyal paling jelas dari krisis ekonomi Thailand bukanlah bahwa hutang swasta mencapai 165 persen dari PDB pada tahun 1997, namun kenaikannya yang meningkat tajam sebesar 67 persen selama lima tahun berturut turut.

Penelitian Ruchir Sharma setelah kejutan krisis finansial global tahun 2008 memperbaiki penemuan Zelinsky ini dengan melihat catatan yang tersedia sejak tahun 1960 untuk 150 negara, ia dan timnya mencoba mengisolasi 30 peristiwa yang terjadi akibat hutang . Dalam lima tahun antara 2004 dan 2009, kredit swasta di Irlandia, meningkat dengan jumlah yang mengejutkan sebesar 160 % PDB.

Juga diamati kisah negara maju, mencakup Jepang akhir 1980an dan lima negara untuk melihat lonjakan utang sebelum krisis keuangan global, termasuk Yunani, Australia, Swedia, dan Norwegia. Di antara negara-negara berkembang, daftar paling ekstrim meliputi Uruguay dan Chile pada 1980-an, Thailand dan Malaysia pada akhir 1990-an, dan China pada belakangan ini.

Untuk ketiga puluh kasus ini, kredit swasta meningkat secara signifikan lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi selama lima tahun. Kredit swasta secara total meningkat sebagai bagian dari PDB sekurang-kurangnya 40%.

Dalam semua kasus ini, apa yang ia temui adalah proses bergiliran yang konsisten untuk terjadinya keadaan buruk setelah tahun kelima, tiap siklus tersebut. Dan itu mulai muncul ketika kenaikan kredit swasta telah mencapai ambang batas 40 persen.

Begitu melewati garis itu, delapan belas dari tiga puluh negara yang diamati mengalami krisis finansial dalam lima tahun setelahnya. Krisis yang diamati penelitian ini melanda negara-negara mulai dari Yunani, di mana masalah dimulai hampir segera setelah kredit swasta mencapai ambang batas 40 persen pada tahun 2008. Thailand, yang pertama kali melewati ambang batas pada tahun 1993 dan mengalami krisis keuangan empat tahun kemudian.

Dampak negatif dari pesta kredit yang ekstrem juga akan berdampak pada tingkat pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Dalam ketiga puluh kasus tersebut, termasuk yang tidak menimbulkan krisis keuangan, ekonomi mengalami perlambatan tajam pada beberapa titik setelah kenaikan kredit melampaui ambang batas 40 persen.

Rata-rata untuk tiga puluh kasus, tingkat pertumbuhan PDB turun lebih dari setengah dalam lima tahun setelah ambang batas dilewati. Di Yunani, misalnya, utang swasta naik dari 69 persen PDB pada tahun 2003 menjadi 114 persen di tahun 2008, dengan kenaikan dalam lima tahun sebesar 45 persen. Selama lima tahun setalah ambang batas terlewati, tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan GDP Yunani runtuh menjadi negatif 5 persen, turun dari 3 persen sebelum 2008.

Perlambatan ini terjadi ketika periode optimisme muncul setelah peminjam dan kreditor mengalami kenaikan pertumbuhan dan booming akibat investasi yang muncul dari pinjaman hingga pada batas gerak majunya.

Kemudian mengalami “phase declining” dan menghadapi periode menyakitkan mengumpulkan uang satu sen demi satu sen untuk mengatasi hutang dan pinjaman tersebut.

Hasil riset Ruchir Sarma yang dikenal dengan istilah “thirty for thirty”, ini sangat jelas dan konsisten dan mengisyaratkan adanya hukum gravitasi ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi suatu bangsa akan terseret jatuh oleh gaya gravitasi yang ditimbulkan oleh hutang yang muncul dengan kecepatan terlalu tinggi. Setidaknya hukum gravitasi ekonomi ini lahir berdasarkan kajian pada pola ekonomi global lima puluh tahun terakhir dari tiga puluh negara.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa laju pertumbuhan kredit swasta merupakan indikator penting di ujung siklus ekonomi. Jika kredit swasta tumbuh secara signifikan lebih lambat dari pertumbuhan PDB selama lima tahun, maka investasi yang dilahirkan dapat menciptakan kondisi bagi ekonomi untuk tumbuh dengan kuat.

Bank akan memiliki kemampuan membangun kembali simpanan deposito dan akan merasa nyaman untuk meminjamkan kembali. Peminjam, setelah mengurangi beban hutang mereka, akan merasa nyaman meminjam lagi.

Pertanyaan kritis untuk ditanyakan tentang hutang suatu negara karena itu bukan seberapa besar hutangnya tetapi apakah hutang swasta tumbuh lebih cepat atau lebih lambat daripada pertumbuhan ekonomi selama lima tahun berturut turut dan melewati ambang laju pertumbuhan 40% PDB , pada periode berkelanjutan?

Sebuah negara di mana kredit swasta telah tumbuh jauh lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi selama lima tahun harus ditempatkan pada pengawasan untuk dikelola secara hati-hati. Sebab mungkin saja akan lahir perlambatan tajam dalam tingkat pertumbuhan ekonomi dan mungkin juga untuk krisis keuangan, karena akan muncul pinjaman macet.

Krisis ekonomi Asia yang diawali Thailand tahun 1997/98, menggambarkan hal itu. Setelah kenaikan lima tahun kredit ke PDB mencapai ambang batas 40 % pada tahun 1993, tingkat pertumbuhan PDB tahunan rata-rata Thailand runtuh dari 11 persen dalam lima tahun sebelum 1993 menjadi hanya 2,3 persen selama lima tahun setelah itu. Meskipun demikian, kenaikan kredit terus berlanjut sampai krisis terjadi pada tahun 1997.

Kemudian bankir dan peminjam mundur. Seperti harimau yang kalah bertarung, mereka memerlukan waktu untuk menjilati luka-luka yang ditimbulkan oleh cakaran krisis yang terjadi. Volume dan kecepatan pertumbuhan kredit turun sebagai bagian dari PDB selama lima tahun, sampai tahun 2001. Baru setelah pemulihan ekonomi yang terjadi, kemudian Thailand mulai mendapat momentum ekonominya kembali.

Saya share tulisan ini yang merupakan ringkasan bacaan saya di musim libur ini. Dengan harapan mudah-mudahan harapan kita semua agar Indonesia mengalami masa keemasan setelah pernah dilanda krisis ekonomi tahun 1997/98 dan reformasi akan terwujud tidak terlalu lama lagi. Apalagi jika pembangunan infrastruktur ekonomi yang dilaksanakan selama kurun waktu 20 tahun reformasi, dan dipercepat di masa kini berjalan tanpa kendala.