Ratusan orang yang tergabung dalam PC GP Ansor dan Banser Kabupaten Cirebon yang berkumpul di markas GP Ansor Cirebon berencana mendatangi Markas FPI di kawasan Plered, Selasa (7/11/2017) malam berhasil diredam oleh Kepolisian Resort (Polres) Cirebon.

Gejolak ini dipicu Surat Edaran (SE) FPI Cirebon yang akan mengawal tablig akbar di Kabupaten Garut pada Sabtu, (18/11/2017) mendatang. Tablig akbar tersebut sebelumnya telah dilakukan penolakan oleh PCNU Kabupaten Garut.

Setelah beredar SMS seruan dari Ketua PC GP Ansor Kabupaten Cirebon, Ustad Ujang Bustomi untuk mengumpulkan semua anggota beserta Banser di Sekretariat PC GP Ansor, massa pun langsung berkumpul pukul 20.00 WIB. Namun, belum sempat bergerak, pihak Polres Cirebon langsung merapat dan meredam gejolak ratusan orang tersebut.

“Janganlah kita mudah terpancing, jangan mudah terpecah belah. Lebih baik kita gunakan tenaga kita untuk kebaikan. Saya di sini mewakili Pak Kapolres Cirebon,” kata Waka Polres Cirebon, Kompol Wadi Sa’bani, di depan massa yang berkumpul di Sekretariat PC GP Ansor Kabupaten Cirebon, Kecamatan Talun.

Ia melanjutkan, berkumpulnya para PC GP Ansor dan Banser harus dijadikan sebagai ajang silaturahmi. Ia juga mengajak massa agar pulang secara tertib dan pihak akan melakukan mediasi dengan pihak-pihak terkait dalam kisruh tersebut.

“Tadi Pak Kapolres menyampaikan, bahwa Polres Cirebon akan memediasi. Mempertemukan Ansor, Banser, FPI, PCNU juga. Karena kebetulan besok kita sudah mengagendakan ada kegiatan FKUB, di Mapolres pukul sembilan pagi,” kata Wadi.

Usai imbauan yang disampaikan Waka Polres Cirebon, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Cirebon, Ustad Ujang Bustomi pun langsung menginstruksikan massa untuk tidak bergerak melakukan aksi mendatangi Markas FPI.

“Saya minta agar jangan bergerak di luar komando. Kalau ada yang bergerak, kita tidak akan tanggung jawab,” kata Bustomi.

Kepada sejumlah wartawan, Bustomi menyampaikan, gejolak yang dilakukan pihaknya hingga menyerukan untuk berkumpul tak lain karena surat pernyataan keberatan bernada provokatif yang dikeluarkan Laskar Pembela Islam (LPI) Kabupaten Cirebon kepada PCNU Kabupaten Garut.

Makanya, pihaknya meminta agar LPI Kabupaten Cirebon tidak memperkeruh suasana dengan menyebut kemungkinan pertumpahan darah. “Pernyataan tersebut sangat provokatif dan terkesan menantang warga Nahdliyin,” ucap Ujang.

Pihaknya juga meminta kepada LPI Kabupaten Cirebon agar tidak ikut campur dalam urusan masyarakat Kabupaten Garut yang salah satu elemen warganya, yakni PCNU. PCNU Kabupaten Garut sendiri keberatan terhadap pengajian Ustad Bahtiar Nasir dan Shabri Lubis. Namun demikian, percayakan kepada aparat setempat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Pihaknya juga meminta agar LPI Kabupaten Cirebon mencabut surat pernyataan tersebut dan meminta maaf kepada warga NU di media cetak, elektronik, maupun di media sosial. Selanjutnya, mencermati pernyataan serupa juga dibuat oleh LPI daerah lain di Jawa Barat, ini berarti ada upaya sistematis dan struktural untuk memperluas area konflik guna memancing kalangan Nahdliyin di daerah lain.

“Oleh sebab itu, saya mengimbau kepada seluruh kader Ansor dan Banser, khususnya di Kabupaten Cirebon agar tidak terpancing dan tetap dalam satu komando,” pinta Ujang.

Hingga pukul 21.30 WIB, sebagian massa pun masih berkumpul di Sekretariat PC GP Ansor Kabupaten Cirebon dan sebagiannya lagi pulang dengan tertib.

Sementara itu, berdasarkan informasi, massa FPI Cirebon pun sudah siap siaga di markasnya sejak sore akibat adanya isu mengenai kedatangan massa Ansor dan Banser.

Menanggapi keberatan dari warga Ansor dan Banser, Ketua FPI Wilayah Cirebon, Habib Muhammad enggan berkomentar saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.