ArtikelFeatured

Review Tauhid Sosial : Upaya Menggempur Kesenjangan

Membedah Pemikiran M. Amien Rais

Oleh : Fadli Isna (Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar PB PII)

​Perubahan zaman bergerak maju dengan sangat cepat, tak pernah berkompromi pada apapun dan siapapun. Umat manusia banyak yang tercengang pada fenomena disrupsi ini. Bahkan ada yang tak sempat bergerak sama sekali, terdiam terpaku sementara zaman tak pernah mau menunggu. Ada juga yang terkejut sambil kebingungan mencari arti perubahan besar dan cepat ini. Diantara umat manusia yang kebingungan itu adalah umat Islam. Sebagai seorang muslim pastinya mencari dalih atas fenomena yang ada dengan melihat sumber utama ajaran agama dan melihat perjalanannya dalam jurisprudensi.

​Dalam ajaran Islam, hakikat kehadiran manusia di dunia adalah tauhid. Akan tetapi interprestasi terhadap tauhid mengalami irrelevansi dengan kondisi saat ini. Di Indonesia, M. Amien Rais melakukan reinterpretasi terhadap tauhid dengan mengusung gagasan “tauhid sosial” sebagai upaya Islam untuk relevansi. Karena Islam bukan hanya ide-ide tentang gambaran kehidupan pasca dunia (akhirat), tetapi juga menjadi tuntunan agar manusia selamat dalam menjalani kehidupan di dunia. Ia menuliskan gagasannya tersebut dalam sebuah buku yang berjudul “Tauhid Sosial: Upaya menggempur Kesenjangan” yang akan kita bedah pemikirannya dalam tulisan ini.

​Dalam buku tersebut Amin Rais mengemukakan bahwa ada tiga hal yang mendasari pembahasan buku tersebut yaitu; dampak perkembangan teknologi, adanya kelas-kelas sosial, dan upaya pemberdayaan Masyarakat. Ketiga hal itulah yang menjadi dasar analisanya dan akan dibahas dalam uraian secara sistematis.

Ada dua hal sebagai dampak perkembangan teknologi yaitu; Peluang bagi hubungan manusia yang lebih luas dan Menyempitnya kesempatan bagi mereka yang tidak punya prasarana komunikasi tersebut. Maka, kelanjutan dari dampak perkembangan teknologi tersebut adalah terbelahnya masyarakat menjadi kelas-kelas sosial yaitu; Kelompok masyarakat yang memiliki dengan begitu punya akses ke pusat-pusat informasi dan Kelompok masyarakat yang “tidak memiliki”,dan tetap terpuruk dalam ketertinggalannya.

Selanjutnya Amin Rais mengungkapkan bahwa perlu dilakukan upaya pemberdayaan masyarakat dengan memberikan dua amunisi sebagai bekal yaitu kesadaran dan kemampuan. Dalam hal kesadaran perlu diupayakan agar masyarakat sadar nilai dan sadar masalah. Lalu masyarakat diberikan kemampuan hidup berdasarkan nilai dan kemampuan memecahkan masalah.

Tujuan Amin Rais menulis buku ini adalah sebagai langkah strategis untuk upaya pemberdayaan masyarakat. Maka ia memuat tiga pertanyaan sebagai rumusan masalah :

  • Bagaimana kerangka sistem sosial yang ideal
  • Bagaimana kondisi riil kehidupan sosial?
  • Upaya strategis apa yang dapat dilakukan untuk memberdayakan masyarakat?

Kemudian ia merumuskan empat kerangka pemikiranuntuk menjawab rumusan masalah diatas:

  • Formulasi Islam tentang hidup.
  • Hubungan sesama manusia dalam Islam.
  • Ancaman terhadap dunia islam.
  • Permasalahan domestik.

Formulasi Islami Tentang Hidup

Formulasi pertama tentang hidup adalah Tauhid yang merupakan dasar kehidupan bagi seorang muslim. Yang penting dari Tauhid adalah bagaimana konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari. Amin Rais menyebutkan setidaknya ada lima konsekuensi Tauhid dan konsekuensinya dalam kehidupan, yaitu:

  • Seorang Muslim harus berani mengatakan tidak pada kebathilan dan ketidakbenaran.
  • Meniadakan apa-apa selain Allah.
  • Mempunyai deklarasi kehidupan (solatku, ibadahku,hidupku dan matiku hanya karena Allah).
  • Menerjemahkan keyakinan menjadi konkret (budaya Amal Shaleh). 
  • Mengambil kriteria baik buruk kepada tuntunan Ilahi.

Formulasi kedua dalam hidup adalah Takwa. Takwa yang bukan hanya dalam ide, tetapi takwa yang mewujud dalam aktualisasi riil seorang muslim. Amin Rais menyebutkan ada empat wujud takwa seorang muslim, yaitu:

  • Berinfak  (dalam keadaan apapun).
  • Tidak mudah marah.
  • Pemaaf.
  • Jika salah lekas bertaubat.

Formulasi ketiga dalam hidup adalah cara baru memahami Islam. Ditengah pendapat yang menganggap Islam mengalami krisis relevansi, pembaruan cara pandang dalam memahami Islam kiranya dapat memberikan jalan keluar bagi problem ini. Reinterpretasi terhadap Islam bukan berarti membawa Islam keluar dari kemurniannya melainkan upaya pembuktian Islam pemberi rahmat bagi seluruh alam kapan pun dan dimanapun. Menurut Amin Rais ada lima hal yang perlu di reinterpretasi yaitu:

  • Pembaruan aqidah
  • Pembaruan teologi Islam (sudut pandang).
  • Pembaruan IPTEK.
  • Pembaruan manajemen dan pengorganisasian.
  • Pembaruan atau peningkatan etos kerja.

Formulasi hidup yang Islami diharapkan mampu membawa manusia keluar dari kondisi riil akhir-akhir ini yang menjerumuskan kita pada  krisis kemanusiaan. Degradasi moral yang meluas, ketimpangan penghasilan (dalam skala makro, negara adidaya versus negara berkembang), ketimpangan pendidikan (teknologi pendidikan), kehidupan global yang Hobbessian (hukum rimba), dan Destruksi ekologis jelas terlihat dan dirasakan oleh umat manusia.

Hubungan Sesama Manusia dalam Islam

Amin Rais menyatakan ada dua cara melihat bentuk hubungan sesama manusia yaitu hubungan ekonomi dan hubungan sosial. Keadilan ekonomi melahirkan pertentangan kelas. Maka Islam hadir untuk memperjuangkan keadilan ekonomi dimana terhapusnya kelas-kelas dalam masyarakat. Kemudian dalam hubungan sosial masyarakat masih ada yang mempersoalkan rasialisme, maka Islam hadir untuk memperjuangkan keadilan sosial (anti rasialisme) bagi seluruh manusia.

Ancaman Terhadap Dunia Islam

Globalisasi dipandang memiliki ancaman terhadap dunia Islam, disamping peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan. Ancaman tersebut berupa hegemoni budaya skala Internasional dan ancaman terhadap moralitas. Selanjutnya ancaman lainnya adalah berupa krisis kemanusiaan. Faktor-faktornya meliputi ledakan informasi tanpa batas, Semakin longgarnya nilai-nilai moral bagi masyarakat, Semakin tumpulnya perikemanusiaan, dan terlalu mengagungkan IPTEK. Disisi lain Neo Imperialism yang semakin menguat menjadi ancaman lainnya.

Permasalahan Domestik

​Amin Rais menyebutkan ada lima permasalahan yang sedang dihadapi manusia dalam skala domestik, yaitu; krisis sosial (kesenjangan), krisis ekonomi (hutang luar negeri), krisis politik (kecurangan politik), krisis kemanusiaan (kerusuhan sosial), krisis kepercayaan (rakyat kepada pemerintah). Kelima permasalahan tersebut perlu disikapi oleh umat Islam. Amin Rais meyakini melalui Tauhid sosial lah permasalahan-permasalah tersebut dapat diupayakan jalan keluarnya. Tauhid yang tidak hanya sebagai keyakinan individu diharapkan dapat menggempur kesenjangan yang saat ini terjadi, kesenjangan antar manusia maupun kesenjangan antara Islam dan realitas.

Tags
Selanjutnya