BeritaFeatured

Regulasi Pelarangan Ekspor Nikel Indonesia: Pro Elit atau Pro Rakyat?

Kanigoro.com – Koodinator Pusat Brigade Pelajar Islam Indonesia ( KORPUS BRIGADE PII) adakan diskusi publik terkait tambang nikel, dengan tema “ Mengungkap Kejanggalan Kebijakan Pemerintah dalam penerapan regulasi pelarangan ekspor nikel untuk pengusaha tambang lokal”.

Ketua Umum Pengurus Pusat GPII Masri Ikoni beserta jajarannya, Pengurus Pusat GPII Pusat, ketua Bidang PTKP PB HMI Akmal Fahmi dan PW PII Jakarta Raya.

Ketua Panitia Furqan Raka mengatakan target dari diskusi ini adalah mengungkapkan kebijakan pemerintah sejauh mana keseriusan dalam persoalan tambang nikel ini.

“Apakah Pemerintah Pro Rakyat atau Pro Mafia yang berlindung di balik elit-elit yang berkuasa saat ini? Pemerintah harus serius dalam persoalan tambang nikel ini.” kata Furqan.

Diskusi berlangsung di Aula M Natsir, sekretariat PP GPII, di Jakarta, Rabu (27/11). Hadir pemateri dari pengamat tambang Hanif Sutrisna, Komandan Pusat Brigade PII Sureza Sulaiman, dan dimoderatori oleh Ronie Asra.

“Selama ini sangat minim info terkait tambang di kalangan pemuda dan mahasiswa. Seolah-olah tambang ini hanya boleh dibicarakan tingkat elit negara saja. Dengan adanya diskusi ini semua akan tercerahkan minimal sekali kita para ormas Islam atau pemuda paham persoalan tambang di negra yang kita cintai demi hasrat hidup masyarakat banyak.” imbuh Furqan.

Hanif Sutrisna menyampaikan persoalan tambang ini apabila diperjualbelikan tidak sesuai dengan harga yang sudah di terapkan oleh pemerintah.

“Maka ini diduga atau di khawtirkan akan berdampak kerugian negara yang sangat besar, karena apa yang sudah pemerintah terapkan telah menjadi kekuatan hukum yang harus ditaati. Hal ini wajib kita kawal bersama demi perbaikan ke arah yang lebih baik.” kata Hanif.

Sureza yang turut menjadi pemateri menyampaikan isu tambang nikel perlu diadvokasi terus demi kepentingan masyarakat Indonesia.

“Kita jangan sampai di adu domba, karena menurut data yang kita temui nikel ini sangat banyak bahannya di Indonesia. Melihat kondisi sekarang, hampir belasan ribu pekerja lokal tambang hilang pekerjaan, saya berharap agar kita kawal bersama.” pungkas Sureza. (Fn)

Selanjutnya

Artikel Terkait