FeaturedJalan Pinggir

Perlukah Ormas dan Orpol Melakukan Strategi Branding? (Millennial Proposal)

Oleh : Amir Faisal

Jawabannya perlu banget. Bahkan lebih perlu. Kenapa?
Alasannya :

• Dalam prespektif korporasi, Ormas sebenarnya termasuk “perusahaan” nirlaba yang memberikan jasa pelayanan sosial. So, nilai-nilai yang biasa dibangun di perusahaan-perusahaan jasa komersial itu juga perlu dibangun di ormas dan orpol, jika ingin diterima dan didukung secara luas oleh masyarakat.

• Di korporasi, begitu values & corporate culture sudah disepakati untuk dibangun, maka akan segera “dipaksakan” untuk ditanamkan pada seluruh jajaran perusahaan, melalui pendidikan dan pelatihan ataupun supervisi. Bagi karyawan yang tidak bisa menyesuaikan, bisa terancam terkena sanksi moral hingga administratif. Sedangkan dalam ormas tak semudah itu, karena semangat egalitarian dan kemandirian anggotanya sangat tinggi.

Branding adalah berbagai kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh sebuah perusahaan ataupun institusi dengan tujuan untuk membangun dan membesarkan sebuah merek.

Pengertian branding bisa juga merupakan upaya memperkuat kesan terhadap merek produk ataupun jasa. Kita semua mengetahui, bahwa fungsi dasar dari sebuah merek adalah sebagai pembeda antara yang satu dengan yang lainnya. Namun, dengan adanya dinamika di dalam derasnya kompetisi pasar, sebuah merek membutuhkan kekuatan dan pengelolaan. Unsur-unsur yang mempengaruhi kekuatan sebuah merek adalah, dari apa yang bisa dilihat (tangible), dan dari apa yang anda dengar dan yang dirasakan (intangible). Jadi jelas, branding bukan hanya masalah membuat merek atau logo perusahaan ataupun organisasi.

Terdapat tiga unsur pokok branding yaitu : Values & Culture, Competitive Advanted Service, Public Impression.

VALUES & CULTURE perusahaan atau institusi adalah nyawa atau energi dari sebuah produk atau layanan, yang ditanamkan secara terus menerus dan berulang-ulang sehingga menjadi corporate culture :

1. Semangat untuk berkolaborasi atau ukhuwah. Kolaborasi bahkan sudah menjadi brand mark masyarakat era milenial. Dalam era ini, tidak bisa tidak kita perlu membangun kolaborasi dan network yang seluas-luasnya. Jika ingin sukses bisnis di bidang retail misalnya, tidak usah membangun supermarket, gudang dan menyiapkan armada sendiri, tetapi tinggal membangun start up yang memungkinkan suplier, konsumen, distributor, bankers atau e-commers dan investor bisa saling berkolaborasi dan berinteraksi.
Anda tidak bisa berkolaborasi ataupun berukhuwah dengan masyarakat, jika ukhuwah internal Anda buruk. Mudah bersitegang hanya karena perbedaan pendapat. Bahkan tidak jarang yang akhirnya memisahkan diri dari organisasi induknya. Di era digital, konflik internal organisasi, dalam hitungan menit dengan mudah segera tersebar luas di publik.

2. Kultur Entrepreneurship. Entrepreneur bukan hanya profesi, melainkan mindset yang mengacu pada (1) sikap kemandirian, (2) memberikan sharing value added, (3) inovasi, (4) kreativitas dan (5) segala macam pola pikir yang bisa memberikan konversi gagasan untuk memajukan organisasi. Entrepreneurship ini juga perlu terus ditanamkan ke seluruh jajaran ormas dan orpol agar memiliki kelima mindset tersebut.

3. Cool & Smart Personalities. Jika ingin hidup bahagia resepnya mudah, yaitu jadilah orang yang disukai oleh semua orang. Orang yang punya kepribadian sejuk, tenang, humble dan apresiatif akan sangat disukai. Apalagi jika orangnya smart atau pinter mengempati orang lain. Walaupun sudah jelas rekannya salah, tidak mau serta merta menvonis, tetapi bisa mengajukan alternatif yang lebih tepat. Sebaliknya walaupun ia tahu gagasannya itu benar, ia berusaha membuat kiat supaya semua orang bisa menerimanya. Dalam kultur yang sangat egaliter, kepribadian pemimpin seperti ini biasanya sukses mengendalikan anak buah dengan berbagai karakter.

COMPETITIVE ADVANTAGE SERVICE. Untuk memberikan gambaran layanan yang advantage, perlu kita amati bersama sebuah layanan yang buruk sebagai perbandingan.
Ada sebuah ilustrasi kegiatan Pengobatan Gratis di satu kelurahan. Sebuah perusahaan swasta mensponsori kegiatan tersebut dengan menurunkan enam orang dokter, yang dibantu oleh sejumlah petugas medik pembantu serta membawa sejumlah obat-obatan. Ditargetkan minimal seribu orang bisa ditangani oleh para dokter. Padahal waktu persiapannya hanya dua minggu. Oleh karena itu segera diadakan rapat yang melibatkan Badan Musyawarah Desa, Ketua RW/RT dan juga anggota polisi.

Kemudian, semua orangpun bergerak. Pengumuman disiarkan melalui pengeras suara di Masjid-masjid, melalui Gereja, sekolah-sekolah serta memasang beberapa buah spanduk di tempat-tempat strategis. Supaya ketua RW dan RT tetangga mau ikut meramaikan dan mendorong warga agar ikut memeriksakan kesehatannya, panitia berusaha menghubungi Pak Lurah. Tetapi pak Lurah tidak ada di tempat dan susah dihubungi. Para pegawai kelurahan bahkan memandang panitia yang datang dengan penuh kecurigaan. Bahkan tidak ada yang beranjak untuk menyambut panitia. Terkesan tidak peduli, dan ketika ditanya, pak Lurah ada dimana, dengan cepat menjawab “tidak tahu.” Lainnya cuma asyik membaca koran, minum kopi dan merokok atau berbicara dengan sesamanya. (Dikutip dari Rhenald Kasali : 2007)
Mudah-mudahan peristiwa serupa sekarang ini tidak pernah terjadi lagi. Seandainya masih ada satu dua, masih bisa dimaklumi. Mungkin aparat yang bersangkutan belum diangkat sebagai ASN dan masih menerima honor yang jauh dari kecukupan. Layanan aparat itu mungkin hampir sama dengan ormas yang melakukan kegiatan tetapi tidak ada dana ataupun sponsornya. Atau parpol yang melakukan kegiatan, ketika habis usai pemilu dan mengalami kekalahan.

Keunggulan kompetitif atau keunggulan bersaing (competitive advantage) adalah kemampuan yang diperoleh melalui karakteristik dan sumber daya suatu perusahaan (atau organisasi) untuk memiliki kinerja yang lebih tinggi dibandingkan institusi lain pada industri atau pasar yang sama. (Michael Porter, Competitive Advantage :1985),
Kualitas layanan pada masyarakat sebuah ormas justru diuji dalam situasi dan kondisi sehari-hari, pada saat tidak ada even besar, masih bisakah mereka memberikan value added pada masyarakat? Contohnya hal yang kecil saja misalnya menyediakan mentor untuk membantu pendidikan, pencerahan atau penyuluhan sosial, atau hal-hal lain yang bermanfaat bagi masyarakat, tidak harus menunggu ada bencana alam.

Apalagi parpol, yang anggotanya bervisi ingin menjadi pemimpin bangsa. Bisakah kepemimpinan dalam masyarakat itu ditunjukkan bukan pada saat ingin mendapat dukungan suara? Dari sini akan nampak, apakah mereka bervisi ingin menjadi pejabat atau menjadi pemimpin masyarakat?

PUBLIC IMPRESSION. Bobbi DePorter mengatakan, bahwa impresi lebih cepat ditangkap ketimbang konten. Misalnya seorang pejabat berpidato mengajak masyarakat untuk hidup sederhana di era krisis. Tetapi life style isteri dan keluarganya berpenampilan mewah dan suka menggunakan produk-produk mahal bikinan luar negeri. Maka pidato pejabat itu menjadi hambar didengar oleh publik.

Misal, ada slogan sebuah ormas menyebutkan sebagai ormas milenial yang egalitarian, openend mind, moderat, anti mainstream, anti otoritarian, serta mengacu pada semangat kolaboratif, menjujung tinggi kompetensi dan keunggulan kompetitif, tetapi perilaku organisasi ataupun statemen pemimpinnya berlawanan dengan slogan yang dibuatnya sendiri, maka yang masuk di pikiran masyarakat adalah perilaku dan statemennya itu.
Public Impression bukanlah harapan masyarakat, melainkan kesan yang ditangkap oleh masyarakat dengan mata batinnya pada perilaku ormas dan orpol. Sebagian besar ilmu branding berfokus memanajemeni perilaku organisasi dan pemimpinnya, agar values, culture yang mengacu pada keunggulan kompetitif dapat terbaca dengan pas oleh publik, sesuai dengan yang diinginkan oleh institusi yang bersangkutan. Kayaknya memang diperlukan sebuah workshop tersendiri yang serius untuk membangun brand sebuah ormas ataupun orpol.

Sekian.

Selanjutnya

Artikel Terkait