FeaturedJalan Pinggir

50% Anak Muda Pilih Jelek Tapi Kaya Daripada Kaya Tapi Miskin

Kanigoro.com – Kutipan di atas adalah judul buku yang baru-baru ini diluncurkan mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI. Bertepatan dengan Hari Pers Nasional 9 Februari 2020, buku ini berpesan agar masyarakat dan para politisi untuk bicara pakai data, bukan asal cerita. Sekitar 90 mahasiswa peserta mata kuliah Jurnalistik melakukan liputan berbasis data dan menuliskan menjadi berita di bawah arahan dosen Syarifudin Yunus, M.Pd.

“Buku 50% Anak Mudah Pilih Jelek Tapi Kaya ini sebagai cara mahasiswa Unindra melawan hoaks. Bicara harus pakai data, jangan asal cerita. Di samping membiasakan tradisi menulis mahasiswa pun menyajikan analisis data dan memahami konteks berita. Ini bagian dari data science” ujar Syarifudin Yunus saat peluncuran buku hari ini (9/02).

Peluncuran buku jurnalisme data ini pun dilakukan dengan cara beda. Bertempat di Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor, 90-an mahasiswa pun melakukan bakti sosial ke 50 anak-anak pembaca aktif dari keluarga prasejahtera. Bertajuk “Di Kampus Bernyali, Di Kampung Peduli” mahasiswa Semester 5 Pendidikan Bahasa Indonesia Unindra pun berdialog sambil memberi motivasi anak-anak kampung untuk rajin membaca. Hal ini sebagai bukti pengabdian masyarakat mahasiswa sebagai insan akademis yang peduli sosial.

“Selain meluncurkan buku jurnalisme data sebagai bukti kami menulis saat kuliah, aksi peduli social ini pun jadi cermin tanggung jawab sosial kami sebagai mahasiswa. Karena ilmu yang kami miliki pada akhirnya harus disumbangkan kepada masyarakat. Ilmu yang bermanfaat untuk orang lain” kata Rahmat, mahasiswa Unindra yang hadir.

Buku jurnalisme data ini menyajikan 122 hasil liputan berbasiswa data. Sebagai reaksi atas banyaknya komentar dan argumen yang disajikan tanpa fakta di tengah masyarakat. Adalah salah bila teori diciptakan tanpa memiliki data.

Selama kuliah Jurnalistik, mahasiswa belajar data harus dicari, lalu diolah dan dijadikan berita. Data yang ada disaring untuk ditulis jadi berita. Karena data hakikatnya telah menjadi bagian dari keterbukaan informasi di era digital. Tidak ada data yang bisa disembunyikan. Melalui jurnalisme data, mahasiswa berproses untuk mengumpulkan, membersihkan, menganalisis, dan memvisualisasikan data menjadi karya jurnalistik.

Data adalah fakta. Mahasiswa Unindra dilatih untuk kenal cara kerja jurnalistik. Belajar jurnalistik sambil menuliskan dan mempublikasikan beritanya melalui data yang diperoleh saat liputan. Ternyata, 50% anak muda memilih jelek tapi kaya daripada cakap tapi miskin. Bahkan ada data tentang perilaku berkunjung ke perpustakaan, jajanan di kampus, dan gaya hidup mahasiswa di era digital. Buku jurnalisme data ini menegaskan bahwa siapapun bisa menggunakan data untuk memberitakan atau mengambil keputusan.

“Buku jurnalisme data mahasiswa Unindra ini luar biasa. Ada banyak data yang disajikan sebagai bukti nyata mahasiswa bisa menulis jurnalistik, dengan mengandalkan perilaku konkret dan sikap kritis dalam reportase” tambah Syarifudin Yunus, Dosen Unindra yang sekaligus Pendiri Taman Bacaan Lentera Pustaka.

Maka jurnalistik mengajarkan, bicaralah pakai data, bukan asal cerita.

Selanjutnya

Artikel Terkait

google.com, pub-7568899835703347, DIRECT, f08c47fec0942fa0
mgid.com, 469747, DIRECT, d4c29acad76ce94f