Dunia IslamFeatured

Momentum Besar Gerakan Masjid

Oleh : In’am eL Mustofa

Gerakan Masjid tak dapat dipungkiri kini menemukan momentum untuk bergerak ke arah yg lebih baik secara fungsional. Dari sekedar bangunan, masjid sebenarnya bisa berfungsi maksimal melayani umat, dan tentu memerlukan ikhtiar pengelolaan yang baik pula.

Dalam ikhtiar ini kebanyakan masjid terkendala dengan masalah non teknis yang merepotkan, misal otoritas pengelolaan yang tidak jelas.

Otoritas takmir yang tidak jelas, DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) yang tidak kooperatif dengan berbagai masukan, warga yang merasa bahwa masjid harus kolektif kolegial, pada akhirnya banyak menghambat program-program positif yang harusnya terlaksana.

Mengapa hal itu terjadi? Karena masjid yang dibangun adalah hasil jerih payah bersama. Hampir 90% lebih masjid di Indonesia adalah dibangun dengan swadaya masyarakat secara bersama-sama.

Hal ini memiliki konsekuensi bahwa masjid harus dijalankan dalam kebersamaan yang kolegial. Walaupun ini positif, namun sebenarnya hal ini juga tantangan pada pengelolaan.

Setiap ide harus memperhatikan kanan kiri dan terdistribusi ke seluruh pengurus, pendek kata benar-benar ada kesamaan persepsi.

Setiap program harus terkonfirmasi oleh banyak unsur.

Setiap diskusi harus melibatkan masyarakat dalam jumlah yang luas.

Maka tidak sedikit masjid (baca: DKM) yang terjebak dalam banyak rapat namun tidak pernah melahirkan program. Bahkan malah sibuk berdiskusi, sibuk berdebat, sementara fungsi keummatan masjid terbengkelai. Walhasil, jamaah hanya sedikit merasakan hadirnya masjid.

Pada titik ini memang membutuhkan keberanian bagi mereka para penggerak Dakwah Masjid, yang biasanya jumlah tidak sedikit untuk mengambil resiko. Yakni dengan melakukan transformasi, melakukan edukasi agar birokratisasi masjid menjadi lebih sederhana, membagi otoritas agar Program bisa berjalan efektif efisien dan secara seksama membangun branding masjid agar memiliki ciri secara fungsional dan gerakan dakwahnya.

****

Pada sisi lain, sebuah trend baru mulai menyeruak : Masjid Keluarga. Masjid yang dibangun oleh Keluarga Muwakif tunggal. Biasanya dibangun oleh para pengusaha yang ingin memberikan kontribusi pada umat.

Masjid Keluarga ini biasanya hasil dari wakaf 100% keluarga. Tanah, bangunannya, bahkan tak jarang operasionalnya pun diback up 100% oleh keluarga.

Maka asset fisiknya secara akad wakaf sudah milik umat. Itu clear. Tetapi nazir atau pengelola adalah pihak keluarga muwakif. Biasanya keluarga Muwakif membangun yayasan keluarga untuk mengelola masjidnya.

Sisi positifnya

– Pihak Keluarga bisa membangun visi masjidnya tanpa banyak gangguan.

– Pihak keluarga berhak mengangkat pengelola masjid, mengevaluasi, bahkan menggantinya jika dirasa tidak perform.

– Pihak Keluarga leluasa membangun program, membangun ide dan eksekusi, tanpa harus konfirmasi sana sini?

Mengapa bisa demikian? Karena seluruh sumber daya yang dibutuhkan disediakan oleh pihak keluarga secara bertanggung jawab.

Ada narasi kecil bahwa ketika masjidnya dikelola oleh pihak keluarga, masjidnya akan sepi dan tidak bisa melibatkan masyarakat.

Narasi tersebut sungguh tidak benar, Masjid Suciati Saliman dan Masjid An Namira Lamongan misalnya, keduanya tetap berhasil membangun simbiosis yang baik dengan jamaah masjid secara terbuka.

Namun demikian masjid seperti itu memang membutuhkan kemampuan luar dalam. Keluarga selaku pengelola mesti memiliki dana besar dan jaringan luas serta kuat. Maka hadirnya masjid berbasis keluarga yg relatif ‘Makmur’ seperti An Namira dan Suciati secara fisik masjid sudah kelihatan megah.
Apakah ini akan menjadi trend masjid kekinian atau justru momentum saat ini adalah saat yang tepat untuk merestorasi masjid agar bisa optimal fungsi dakwahnya.

Semoga Allah selalu membimbing umatnya yang berkhidmad untuk kemakmuran masjid dan jamaah. Aamiin

Tags
Selanjutnya