Intro

Oleh : Hersubeno Arief
Konsultan Media dan Politik

“Elektabilitas Presiden Jokowi dan PDIP tidak terpengaruh Pilkada DKI”
. Judul berita sebuah media massa tersebut mengutip hasil pemaparan jajak pendapat terbaru yang digelar oleh SMRC (9/6).

Jajak pendapat yang dilakukan oleh SMRC ini melengkapi survei sebelumnya yang digelar oleh harian Kompas.
Tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi tetap tinggi dan elektabilitasnya belum tersaingi.

Pesan yang ingin disampaikan kepada publik dan tentu saja kepada Presiden Jokowi adalah: Semuanya baik-baik saja. Pemerintahan Jokowi dan PDIP sebagai partai pendukung utama telah berjalan sesuai dengan jalur yang benar. On the right track.

Bagi pemerintah dan penguasa, jajak pendapat semacam ini membuat nyaman, pede (percaya diri). Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Berbagai hiruk pikuk politik yang menyertai Pilkada DKI ternyata hanyalah sebuah riak. Kagak ngaruh.

Demo besar-besaran dari berbagai kalangan, protes atas berbagai penangkapan, kekalahan di Pilkada DKI dan beberapa daerah penting lainnya, tidak signifikan.

Semua itu hanya gelembung busa yang nampaknya besar di permukaan, tapi kosong melompong di dalamnya. Lagi pula siapa yang takut dengan gelembung busa? Itu kan mainan yang menyenangkan bagi anak-anak.

Karena itu semua program masih bisa diteruskan. Semua kebijakan pemerintah, termasuk dalam bidang sosial, budaya, politik, eknomi, keamanan, dan pembangunan berbagai proyek-proyek mercusuar masih bisa terus berlanjut. Tidak perlu ada perubahan. Tidak perlu ada revisi. Itu bila pesan di balik kedua survei tersebut dibaca secara leterlijk, linier, tanpa catatan kritis apapun.

Sikap semacam itu biasanya banyak menghinggapi para penguasa. Tidak perlu kaget. Tabiat para penguasa dimanapun hampir sama. Mereka hanya senang mendengar suara-suara yang menyenangkan, melenakan, namun abai bahkan cenderung sensitif, over reaktif ketika mendengar suara kritis.

Filosofi kekuasaan itu seperti orang yang berdiri pada sebuah ketinggian. Orang bisa mengalami disorientasi. Dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai kekacauan kiblat; kesamaran arah dan pandangan. Padanannya dalam bahasa Jawa adalah singunen. Cukup pendek, cekak aos.

Bagi yang tidak percaya, silakan berdiri pada sebuah gedung yang sangat tinggi. Lalu melongoklah ke bawah. Sudah bisa merasakan apa yang terjadi?

Semakin tinggi tempat kita berdiri, akan semakin besar pengaruh dis-orientasi. Begitu pula dengan jabatan. Semakin tinggi jabatan, semakin banyak kepentingan, Anda akan semakin mengalami dis-orientasi. Susah membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Orang bijak menyarankan, berhati-hatilah dengan sebuah riak. Ketika jutaan riak berkumpul, maka dia akan menjadi gelombang. Berhati-hatilah dengan kerikil. Karena orang sering tersandung kerikil, bukan batu besar. Berhati-hatilah dengan angin survei yang berhembus semilir, dia bisa melenakan.

Coba perhatikan seekor monyet yang menggelayut di sebuah dahan pada pohon yang tinggi. Ketika angin bertiup kencang, dia akan memeluk erat-erat dahan atau pokok pohon tempat dia bergelayut. Namun ketika angin semilir menerpanya, dia terlena, terkantuk-kantuk dan ketika tersadar, sudah terjatuh dari pohon tinggi.

Lantas apa urusannya dengan jajak pendapat SMRC dan Kompas? Jajak pendapat model begini selain sangat menggembirakan, tapi juga bisa melenakan. Pilkada DKI 2017 dan Pilpres Amerika Serikat 2016 bisa menjadi pelajaran sangat berharga.