ArtikelFeatured

Filsafat Ekofenomenologi : Pemikiran Sosio-Lingkungan Saras Dewi

Oleh : Fadli Nazari (Kepala Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar PB PII)

Kondisi lingkungan hari ini sangat memprihatinkanbahkan sampai terjadi disekuilibrium (ketidakseimbangan alam). Alam seperti murka pada dunia dan manusia, hingga berbagai bencana alam menyerbu hampir pada seluruh umat manusia. Kondisi darurat inilah yang bisa jadi adalah alasan Saras Dewi menulis buku “Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia Dengan Alam”  yang akan kita bahas pada tulisan ini.

Menurut Saras Dewi disekuilibrium diakibatkan oleh rasionalisasi yang menyebabkan manusia memiliki justifikasi untuk menyedot segala Sumber Daya Alam (SDA). Konservasi hanya dilakukan atas dasar kegunaan atau kebermanfaatan manusia (properti). Hal ini secara tegas dijelaskan dalam Qs. Ar Ruum: 41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. 

Faktor pendukung lain dari terjadinya disekuilibrium adalah gelombang revolusi industri yang menggempur manusia yang tidak disikapi secara bijaksana. menurut Leopold ketidakseimbangan alam terjadi karena kepesatan teknologi dan hiper-industrialisasi. Perubahan yang mengatasnamakan kepentingan manusia sering merusak ekuilibrium ekosistem.

​Setelah mengetahui keadaan yang sudah begitu parahnya maka perlu dilakukan upaya-upaya mulai dari pengubahan cara pandang sampai pada langkah konkret menghadapi disekuilibrium ini.

​Saras Dewi mengatakan bahwa dalam bukunya ia membahas cara pandang secara filosofis mengenai sosio-lingkungan. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa penelitian filsafat merupakan penelusuran mencari hakikat suatu fenomena. Kemudian ia mengikuti langkah Immanuel Kant dalam merumuskan tugas filsafat.

Menurut Kant tugas filsafat menyingkap 4 hal:

  • Apa yang dapat kita ketahui
  • Apa yang harus kita perbuat
  • Apa yang dapat kita harapkan
  •  Siapakah manusia dalam kaitannya dengan ketiga pertanyaan tersebut

Saras Dewi menampilkan benturan pemikiran perihal cara pandang manusia terhadap alam. Ia mengatakan bahwa fenomenologi lingkungan sering kali merupakan pertentangan antara pemikiran antroposentrisme versus ekosentrisme. Antroposentrisme adalah filsafat politik sosial yang menganggap bahwa manusia adalah pusat kehidupan, sehingga segala yang ada di dunia ini digunakan untuk manusia. Seringkali cara pandang ini menjadi pembenaran atas eksploitasi alam. Sedangkanekosentrisme adalah filsafat politik ekologi dimana ekosistem menjadi pusat kehidupan sehingga menghasilkan cara pandang bahwa manusia harus tunduk pada hukum-hukum alam.

Saras Dewi setuju dengan pendapat Leopold yang menilai bahwa berkembangnya peradaban tidak berbanding lurus dengan bijaknya masyarakat dalam memahami keseimbangan alam. Sebaliknya, peradaban menerima secara dangkal bahwa alam merupakan bahan mementah untuk membangun peradaban manusia. Tujuannya membangun kebudayaan manusia agar maju.Padahal manusia merupakan bagian keluarga biotik yang lebih besar, segala keputusan tidak berpusat pada kepentingan spesiesnya semata, tetapi pada kebaikan komunitas biotik. Kelalaian mengelola tanah atau mempergunakannya tanpa melihat interdepedensi itu menyebabkan kepunahan spesies.

Selanjutnya ia melakukan Kritik terhadap ekologi yang dipandang bahwa ekologi hanya membicarakan tindakan guna menyikapi kerusakan alam (reaksioner). Ekologi tidak menjawab secara esensial alasan kerusakan dapat terjadi dan sebab disrupsi relasi harmoni manusia dengan alam.

Fenomenologi Husserl

Penjelasan definisi dan penggunaan fenomenologi dalam suatu metodologi, Saras Dewi menggunakan pandangan Husserl. Bagi Husserl, metode fenomenologi ditujukan guna memahami objek tetapi tetapi bukan objek yang sendiri. Begitu juga subjek, ia tidak terlepas dari dunianya tetapi terangkum dalam fenomena.

​Maka upaya untuk melakukan reduksi fenomenologis (merangkum fenomena) diperlukan tahapan-tahapan agar didapat suatu pengetahuan yang murni. Ada tiga tahapan mencari pengetahuan murni yaitu; Pengurungan/penangguhan, Pemahaman terhadap pengalaman langsung, Reduksi transendental.

Reduksi bagi Husserl bukanlah dalam pengertian yang biasa digunakan secara dominan oleh kaum empiris,“reduksi bukan memeras sesuatu hingga mencapai satu pemahaman tunggal yang objektif”. Reduksi dalam pengertian kaum empiris memang melakukan tindakan penyorotan namun hal itu mencoba menekan bahkan menihilkan subjek demi alasan melihat objek apa adanya.

Ontologi tubuh Merleau-Ponty

​Upaya yang dilakukan oleh ekofenomenologi agar tidak terjebak pada sikap reaksioner seperti ekologi adalah dengan meradikalisasi ontologisnya. Di dalam bukunya Saras Dewi menggunakan pendekatan “ontologi tubuh” yang digagas oleh Merleau-Ponty. 

Pengalaman itu bukan suatu jenis ikatan yang dibentuk pikiran melainkan hal yang benar dialami, dirasakan oleh tubuh. (memberi tempat bagi subjek ketika ia menjalani kehidupannya). Pengalaman dalam bahasa Merleau-Ponty bukan dalam konsep kaum empirisme sebagaimana subjek melalui indrawinya sebatas alat menangkap objek. Tubuh hanya alat menyaksikan objek. Tetapi bagi Merleau-Ponty pengalaman adalah hal yang melibatkan kesatuan psikis dan fisiologis subjek.

Bagaimana tubuh dalam konsep ontologis?

  • Menolak materialisme

Individu merupakan subjek yang terdiri atas fisiknya. Apapun yang bersifat mental tentang dirinya bergantung dengan fakta fisikal atau materialnya.

  • Menolak idealisme

Individu adalah subjek non fisikal atau kesadaran semata. Segala yang dirasakan secara perseptual hanya eksistensi dari aktifitas mentalnya.

Ontologi tubuh Merleau-Ponty berupaya menjelaskan bagaimana tubuh memahami apa yang ada. Tahapan dasarnya yakni memahami tubuh itu sendiri lebih dari tubuh secara biologis semata. Pertanyaan ontologis Merleau-Ponty, apakah tubuhku suatu objek? (objek adalah sesuatu yang muncul dipersepsi atau yang ada dihadapan).

Merleau-Ponty menjelaskan dua status tubuh, yakni tubuh adalah objek fisik, terdiri dari materi-materi yang dipersepsi, diukur, dinilai dari kualitasnya, namun yang lebih penitng lagi, tubuh itu suatu objek intensional. Maksudnya, objek memiliki kemampuan untuk terarah dan terhubung dengan objek lainnya. Tubuh sebagai intensional itulah yang menjadi dasar ontologis Merleau-Ponty bahwa tubuh merupakan penanda adanya relasi dalam fenomena yang terjadi. Revolusi ontologi Merleau-Ponty memungkinkan pemahaman melampaui kebutuhan problem jiwa dan tubuh warisan descartes.

Ide dasar realitas bagi Merleau-Ponty memungkinkan dirombak menjadi tidak saja “apa itu realitas” tetapi “bagaimana menjalani realitas”. Realitas bukan hanya sebatas realitas metafisis yang hanya sanggup diakses kemurnian subjek melalui pikiran. Dengan ide dasar ini kita dapat menemukan bahwa dalam ekofenomenologi manusia dituntut menemukan kesadaran aktualnya sehingga setiap manusia dapat memposisikan dirinya secara proporsional dalam menjalani kehidupannya.

Kemudian Merleau-Ponty menjelaskan bagaimana posisi tubuh ditengah alam. Ia memulai dengan mempertanyakan hal yang paling mendasar yaitu, seperti apakah alam bagi manusia?Manusia dan kebudayaannya, nilai-nilainya, termasuk nilai sosial, agama, terlanjur menempatkan alam sebagai dunia manusia. Namun bagi Merleau-Ponty bukan latar belakang bagi kehidupan manusia, tetapi memiliki relasi fundamental bagi manusia.

Pandangan relasional ini memiliki alur yang jelas dan sistematis. Relasi fundamental, adalah cara pandang bahwa alam bukan hanya sebagai Sumber Daya bagi manusia. sehingga alam sangat mendasar bagi eksistensinya. Tidak hanya ditopang melalui kebutuhan biologisnya, melainkan dibutuhkan relasi intensionalitas guna memaknai hidupnya.

“Komunikasi terhadap dunia terjadi lebih dahulu dari pada dengan pikiran.”

Menurut Merleau-Ponty, sebelum manusia menyadari kemampuan nalar atau analitiknya, relasi pertama ia menyadari dirinya hidup bersama alam. Sebelum ia memiliki kecanggihan bersistematika bahasa yang rumit, bahkan memikirkan teknologi, komunikasi pertamanya adalah dengan alam. Ia berpikir tentang alam, kejanggalan,keindahan, kemegahan, dan rasa takutnya terhadap alam. Selepas itu ia berpikir tentang dirinya sendiri dan apa yang dapat dilakukan untuk menyikapi hal yang tidak diketahui tentang alam.

Fenomenologi dan Heidegger

​Yang menarik dari buku Saras Dewi ini adalah ia menjelaskan secara detail mengenai konsep tentang “meng-ada” dari heidegger dan relasinya dengan alam. Analisa tentang dasein menurut Heidegger hanya muncul bila ia dilibatkan dengan dunianya sebagai cara mengetahui keseharian serta kemampuan manipulabilitasnya terhadap segala yang tampak untuk digunakan. Aktifitas teknologi adalah kegiatan menampilkan, menunjukkan sesuatu yang tersembunyi menjadi terbuka dan muncul dengan jernih. “teknologi bertujuan menyibak relasi manusia dengan dunianya (juga dengan alam).

Kebahagiaan dan kesejahteraan bergantung dari hubungan dengan alam. Maka dari itu, Heidegger mengelaborasi tiga pengertian yaitu: membangun, bermukim, dan berpikir. Bagaimanapun juga membangun dan berpikir terpengaruh dengan berhasil tidaknya seseorang bermukim.

Bagaimana eko-rekonstruksi?

​Dibagian akhir pembahasan bukunya, Saras Dewi mempertanyakan bagaimana melakukan upaya eko-rekonstruksi. Ia kemudian menggunakan analisa De Geus perihal ide-ide mencapai ekuilibrium:

Pertama, Perlu melibatkan kebijakan politis. (ekuilibrium adalah hak setiap orang, selanjutnya untuk pemenuhan kebutuhan manusia melalui kebijakan negara), totalitarianisme-lingkungan. Dasar membuat kebijakan mestilah berdasar pada salah satu kaidah fiqih siyasah yang berbunyi “kebijakan pemimpin haruslah berorientasi pada kemaslahatan rakyat”. Ini adalah upaya advokasikebijakan, maka perlu dirumuskan berbagai undang-undang yang melindungi alam dari eksploitasi yang tidak bertanggungjawab.

Kedua, Anarkisme-lingkungan. Adalah programdesentralisasi gerakan supaya mudah terkontrol. Setiap wilayah dapat mengawasi setiap aktifitas eksplorasi terhadap alam. Selain itu juga perlu ada program reboisasi sebagai tindakan atas akibat eksploitasi alam.

Ketiga, Kesadaran ontologis relasi manusia dan alam yang lebih adil. Kesadaran yang tidak hanya menjadi kesadaran personal (individual) tetapi juga merupakan kesadaran sosial.

Selanjutnya

Artikel Terkait