Intro

Oleh : Hersubeno Arief
Konsultan Media dan Politik

Walikota Bandung Ridwan Kamil (RK) mengisyaratkan tidak akan maju alias mengundurkan diri dari kontestasi Pilkada Jawa Barat 2018.

RK juga menyatakan bila tidak jadi maju sebagai calon gubernur, maka dia juga tidak akan kembali bersaing untuk memperebutkan kursi Walikota Bandung untuk periode kedua.

Pernyataan RK tidak bisa dimaknai secara harfiah, dia bakal mengundurkan diri. Apalagi ini adalah pernyataan seorang profesional yang kini telah menjelma menjadi politisi.

Media mengutipnya “mau maju jadi calon juga belum pasti karena baru lima kursi dari 20, jadi masih ikhtiar. Jadi jangan kaget kalau saya enggak jadi maju, enggak (ikut Pilwalkot lagi) saya mau pensiun saja, jadi arsitek.” ujar RK, Jumat (9/6).

(Baca : Ridwan Kamil Akan Mundur dari Pilkada Jabar)

Apa yang dikatakan RK adalah pernyataan sebab akibat, causation statement. “Jika,” “maka,” “kemudian.” If. then.

Jika dia tidak berhasil mengumpulkan dukungan dari partai yang memperoleh 20 kursi di DPRD Jabar sebagaimana ketentuan persyaratan pencalonan, maka otomatis dia tidak bisa maju dalam persaingan.

Sejauh ini RK baru didukung oleh Nasdem yang mempunyai lima kursi di DPRD Jabar. Dibutuhkan 15 kursi lagi agar dia bisa mengajukan diri secara resmi sebagai calon Gubernur Jabar.

Apa yang dikatakan oleh RK bisa dimaknai, ditafsirkan setidaknya dari dua sisi. Pertama, sebagai politisi RK sedang memainkan catur politik dengan langkah kuda. Kedua, sebagai isyarat adanya perubahan konstelasi politik di tingkat nasional yang berimbas pada peta politik lokal.